
Tidak terasa hari yang telah ditunggu-tunggu Elena dan Vivian tiba juga. Hari ini adalah tepat pernikahan Harun dan Vivian yang tentu saja dihadiri banyak orang, sebab diadakan di sebuah gedung sangat mewah atas usulan dari Elena.
Sejak tadi, senyuman Vivian terus saja mengembang, memperhatikan pantulan tubuhnya pada cermin. Tidak menyangkan sebentar lagi dia akan mendapatkan pria yang sangat dia cintai.
Gadis itu menoleh ketika pundaknya dielus oleng Elena.
"Hitungan menit lagi kamu akan menjadi seorang nyonya Sayang," ucap Elena dengan senyuman senangnya.
Wanita paruh baya itu merasa berada di atas angin sekarang karena berhasil menjadikan Harun bonekanya. Pria itu seakan tidak berkutik dalam genggamannya, bisa dibilang Harun pria bodoh yang sangat gampang Elena taklukan.
"Di mana kak Harun, Bunda?" Menatap bundanya.
"Ada di kamar sebelah, dia tengah bersiap-siap untuk mengucapkan ijab kabul, Sayang. Setelah menikah yang harus kau lakukan adalah membuat Harun menceraikan Haura secepatnya, agar kamu menjadi istri satu-satunya."
"Tentu saja, aku akan melakukan hal itu. Kak Harun hanya akan menjadikan milikku!" Vivian bangkit dari duduknya, memeluk Elena cukup erat karena sangat bahagia hari ini.
Berbeda dengan pria yang berada di kamar lainya. Harun tampak mengepalkan tangannya, tidak sabar membongkar semua kebusukan Elena dan Vivian di depan semua tamu undangan agar kedua perempuan ular itu dipermalukan.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Harun pada seseorang di seberang telpon.
__ADS_1
"Sudah pak, tinggal menunggu para tamu undangan datang."
"Semoga kau melakukannya dengan benar. Bagimana keadaan diluar?"
"Vivian dan bu Elena berada di dalam kamar, ini waktu yang pas untuk pergi dari gedung."
"Baiklah."
Harun segera bangkit dari duduknya, sebelum meninggalkan kamar dia melirik jas mahal yang telah dipesan Elena jauh-jauh hari.
Mungkin bisa dibilang Harun sudah gila karena rela menghabiskan banyak uang untuk mempersiapkan pernikahan berserta perintilan-perintilannya hanya untuk membuat kejutan. Namun, menurut pria itu sendiri, hanya ini satu-satunya cara untuk membalas rasa sakit hatinya karena dikhianati, dibohongin bahkan dimanfaatkan oleh orang yang sangat dia sayangi.
Tujuan Harun tidak lain adalah kontrakan Haura untuk membuktikan bahwa dia benar-benar tidak menikahi siapapun, dia hanya mencinta istrinya saja bukan orang lain.
"Kau sangat tampan kawan," puji Ezra sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Tapi aku ragu Haura akan jatuh cinta," ledeknya.
Harun mendengus kesal, Ezra selalu saja memancing keributan di saat-saat genting seperti ini. Pria itu tidak memperdulikan ocehan sahabatnya, melainkan memainkan ponselnya memastikan rencana yang telah dia susun berjalan dengan lancar.
"Haura anemia, apa kau tahu itu?"
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Aku lupa mengatakannya, tapi itulah yang terjadi pada istrimu Harun. Kau tahu apa resikonya kan?" Alis Ezra terangkat seakan manakut-nakuti Harun.
Namun, sulit dipungkiri, Harun benar-benar takut mengetahui istrinya Anemia padahal sedang mengandung. Pria itu mengusap wajahnya kasar, khawatir akan kondisi Haura, terlebih sejak wanita itu meninggalkan rumah sudah tidak terlihat sehat.
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang, bodoh?!"
"Lalu kapan pastinya aku memberitahumu? Bukannya baru sekarang kau percaya pada Haura? Dulu jangankan menanyakan kabar, aku menceritakannya saja kau tampak acuh."
Perdebatan di dalam mobil itu terus saja berlangsung, saling menyalahkan satu sama lain layaknya remaja labil, padahal usia mereka sudah 30 tahun, bahkan Harun sebentar lagi akan menjadi ayah.
Perdebatan keduanya baru berakhir ketika mobil Ezra berhenti tepat di depan pagar kontrakan Haura yang terlihat sangat sepi.
"Wanita kalau kecewa susah dibujuknya. Semoga berhasil!" teriak Ezra sebelum melajukan mobilnya setelah Harun turun. Pria itu masih ada kesibukan di rumah sakit, tidak seperti Harun yang memang sudah mengundurkan diri sehingga tidak mempunyai jadwal seperti Ezra.
Harun membawa kaki panjangnya mendekati pagar, memencet sebuh bel berharap seseorang keluar dari salah satu rumah. Pagar tersebut terkunci, dan Harun juga tidak tahu dimana letak pasti kontrakan Haura. Di dalam sana terdapat banyak petak rumah minimalis.
Beberapa kali memencet, akhirnya wanita paruh baya keluar dari rumah paling besar dari yang lainnya.
__ADS_1
"Kamu mencari siapa?"