
Ada yang bilang sejatinya anak harus berbakti pada ibunya. Namun, apakah kalian pernah berpikir rasa sakitnya seorang anak saat melihat ibu yang melahirkannya tengah bercumbu dengan pria lain di kamar ayahnya, ketika sang ayah sedang berjuang untuk tetap hidup di rumah sakit?
Mungkin memaafkan bisa Harun lakukan pada bundanya, tapi tidak untuk berdamai dengan masa lalu yang sulit dilupakan bahkan bertahun-tahun lamanya.
Biarkan orang lain mengatakan Harun durhaka karena tidak ingin menerima bundanya. Pria itu akan hidup dengan dunianya sendiri bersama keluarga kecilnya.
Kini Harun tengah berbaring di pangkuan istrinya, menikmati elusan demi elusan dari Haura yang sangat menenangkan.
"Mas Harun baik-baik saja?" tanya Haura ketika lama saling berdiam diri. Sejak makan bersama tadi siang, Harun lebih banyak diam. Bahkan pria itu tidak menghabiskan waktu bersama Azzam seperti biasanya.
"Tidak."
"Maaf, aku hanya ingin membuat mas dan Bunda bersatu lagi."
"Sulit, Sayang. Kamu tahu pasti bagaimana sakitnya, sebab kamu juga menyaksikan semuanya."
"Tapi sampai kapan mas seperti ini? Besok adalah ulang tahun bunda, apa Mas tidak ada niatan untuk datang? Tadi bunda berkunjung untuk memberitahukan itu."
"Jangan pergi apalagi membawa Azzam. Biarkan dia bahagia bersama anak-anaknya yang lain."
"Mas."
"Haura, mas bisa memaafkan bunda, tapi tidak untuk menerimanya kembali."
__ADS_1
Haura menghela nafas panjang, wanita itu tidak punya kendali atas hati dan ego suaminya. Yang bisa wanita itu lakukan hanya berdoa agar hati keras Harun segera dilunakkan dan bisa menerima wanita yang melahirkannya ke dunia.
"Jika bisa memilih, aku tidak ingin dilahirkan olehnya," gumam Harun sebelum memejamkan matanya karena merasa sangat lelah padahal tidak melakukan apapun.
***
Pagi harinya, seperti biasa Haura akan sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dua orang kesayangannya. Untung saja Azzam sudah pintar berpakaian sendiri sehingga tidak membuat Haura begitu kerepotan mengurus rumah di pagi hari, belum lagi toko di lantai bawah.
"Sarapannya sudah siap, kesayan bunda mana nih?"
Harun dan Azzam yang sejak tadi meneliti penampilan masing-masing di depan cermin lantas berlari ke meja makan dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Sangat tampan," puji Haura.
"Iya dong," sahut Harun bangga, mengelus perlahan rambut Azzam yang telah rapi.
Seperti biasa sarapan akan berjalan lancar dengan pembahan ringan tentang ke seharian.
Namun, yang membuat Haura terkejut ketika Harun tiba-tiba membahas bundanya di meja makan.
"Jam berapa kalian akan kerumah bunda?" tanya Harun.
Haura mengerjap perlahan, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
__ADS_1
"Bukannya Mas tidak membiarkan kami pergi? Aku tidak akan pergi tanpa izin dari suamiku," jawab Haura.
"Kita akan pergi, tapi hanya sebentar."
Sulit di pungkiri senyuman menghiasi wajah teduh Haura. Ternyata memang benar, hati manusia adalah milik Allah. Jika Allah sudah berkehendak, maka yang mustahil bisa menjadi mungkin.
Wanita itu tidak pernah mengira bahwa jawaban atas doanya yang dia langitkan di sepertiga malam akan didapatkan secepat ini.
Haura mengantarkan kepergian suami dan putranya hingga di depan pintu toko, melambaikan tangan sebagai salam berpisahan. Baru saja akan berpaling, seorang wanita yang dia kenal turun dari mobil.
"Kak Haura, aku kangen." Memeluk Haura cukup erat. Setelah menikah Diana dan Haura sangat jarang bertemu, mungkin karena sibuk satu sama lain.
"Suami kamu mana? Tidak ikut?"
"Dia sibuk banget kak, sampai punya waktu sama aku aja jarang banget padahal lagi butuh-butuhnya kasih sayang." Diana mengikuti langkah Haura memasuki toko. Gamis dengan hijab besar telah menutupi tubuh Diana yang dulunya terbuka hingga paha dan lengan.
"Syut, tidak baik membicarakan keburukan suami pada orang lain. Cukup kita saja yang tahu aib dalam rumah tangga."
"Heheheh, maaf aku khilaf lagi kak. Padahal udah sering ikut kajian."
"Tidak apa-apa, namanya juga proses kan. 6 tahun tidak sebanding dengan 20 tahun kebiasan kamu."
__ADS_1