Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 85 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu bagi Haura dan Harun yang menjalani hari-harinya dengan bahagia sambil menunggu kelahiran anak pertama mereka yang akan lahir beberapa minggu lagi.


Berbeda dengan Ezra, hari begitu berat untuknya setelah kejadian di mana Diana menolak lamarannya. Bukan hanya hubungan pura-pura yang batal, melainkan perjodohan yang telah ditentukan oleh kedua orang tua juga pupuslah sudah. Yang memutuskan tentu saja ayah Diana atas pemintaan gadis itu sendiri.


Kini Ezra hanya fokus pada pekerjaan saja begitupun dengan Diana. Sementara Harun hari ini sengaja tidak kerumah sakit sebab ingin menemani istrinya seharian full juga memberikan kejutan di hari lahir istrinya.


Setelah satu tahun lebih menikah, baru kali ini Harun memberikan kejutan untuk istrinya. Dulu dia memeng memberi kado, tapi yang menyuruhnya adalah sang ayah bukan inisiatif sendiri.


"Sebenarnya kita mau kemana mas? Aku malas keluar rumah hari ini, terlebih banyak pesanan yang masuk," tanya Haura yang duduk di sisi ranjang setelah rapi dengan pakian syar'i miliknya.


"Ke hatimu."


"Mas Harun!" Haura mengembungkan pipinya hingga terlihat mengemaskan di mata Harun.


Pria itu mendekat dan berjongkok di depan Haura. Memegang kedua tangan istrinya lalu dia kecup sambil menatap manik indah sang istri.


"Selamat bertambah usia Humairahku, maaf tidak ada lilin ataupun kue karena mas tahu kamu tidak menyukai hal tersebut. Tapi jangan khawatir mas punya sesuatu untukmu."


"Mas ingat?" Menatap Harun tidak percaya, Haura mengira tidak akan ada yang mengingat hari lahirnya setelah kepergian ayah mertuanya.

__ADS_1


"Kenapa mas harus lupa sama hari lahir bunda, hm?"


"Mas."


"Iya Sayangku?"


Blus


Pipi Haura semakin merona, terlebih tidak ada lapisan apapun yang menutupi wajah cantik dan bersinar wanita yang perutnya telah membuncit itu.


"Mas selalu bisa membuatku tersenyum."


Ezra dan Diana diundang oleh Harun sebagai teman dekat. Mungkin pertemuan ini akan memjadi yang pertama untuk mereka setelah menjadi asing satu sama lain.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Harun untuk sampai di tempat tujuan, terlebih jalanan sangat lengang untuk hari ini. Pria itu memarkirkan mobilnya tidak jauh dari kerumunan orang-orang yang telah berdiri dengan rapi atas pantau satpam pengaja ruko yang telah Harun sewa kemarin.


Hari ini adalah peresmian toko kue bernama Haura Cake and Bakery.


Kening Haura mengkerut ketika turun dari mobil dan mendapati banyak orang di depan toko.

__ADS_1


"Haura Cake and Bakery?" gumam Haura membuat Harun menoleh sekilas.


"Cantik tidak?"


Haura mengangguk antusias. "Cantik banget mas, aku juga punya impian bisa bangun toko donat kayak gini. Sepertinya tokonya baru ya? Apa hari ini peresmiannya?" Haura ikut menoleh pada Harun.


"Hm, hari ini tokonya baru dibuka. Ayo Sayang!" Harun mengulum senyum. Awalnya pria itu ingin memberitahukan tentang toko tersebut sebelum peresmian, tapi urung melihat wajah polos Haura yang tidak sadar akan nama yang terpampang jelas di bagian depan toko.


Benar saja, tepat di belakanh pita, Ezra dan Diana tengah berdiri dengan jarak dua meter tanpa adanya tegur sapa. Ezra yang sesekali melirik Diana. Sementara gadis yang sedang memakai gamis berwarna abu-abu sink sedang sibuk menunduk sambil memilin ujung jilbabnya.


"Diana?"


"Kak Haura." Diana mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Haura. Gadis itu datang karena undangan dari Harun.


"Ini toko donat kamu?" tanya Haura, lantas saja Diana melirik Harun yang masih saja mengulum senyum.


"Milik kak Haura."


"Aku?" Menunjuk dirinya sendiri dengan wajah terkejut. Diana menganggukkan kepalanya, bertepatan Harun datang mendekat dengan Ezra yang membawa nampang berisi gunting untuk memotong pita sebagai peresmian bukanya toko donat tersebut.

__ADS_1


Mengapa banyak orang? Karena Harun sengaja menyebar banner sebanyak-banyaknya untuk memberitahukan bahwa hari ini ada donat gratis di Haura Cake and Bakery.


__ADS_2