Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 58 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Diana, gadis cantik dengan segala tingkahnya yang membuat siapa saja kesal, melajukan mobil lamborghini hitamnya menuju rumah sakit alih-alih pulang kerumah.


Sibuk dengan kuliahnya beberapa hari terakhir membuat Diana sangat merindukan dokter Ezra yang wajahnya sangat tampa. Namun, sayang jutek dan kaku padanya.


Gadis cantik itu berjalan sambil bernanyi riang memasuki lobi rumah sakit, tanpa singgah ke meja resepsionis langsung memasuki sebuah lift yang akan membawanya keruangan dokter Ezra.


Belum sampai pada tujuannya, lift berhenti menampilkan pria yang sama menyebalkannya dengan Ezra berdiri di depan sana. Pria itu masuk dan berdiri tepat di samping Diana.


Tidak ingin berdebat, Diana segera menyingir ke sudut ruangan, bersikap seolah-olah tidak mengenal Harun. Namun, sayangnya pria itu malah mengenali Diana.


"Kurir pribadi istri saya kan?" tebak Harun setelah lama meneliti.


"Bukan!"


"Benar kamu!" ucap Harun tegas. Sebenarnya sudah lama Harun ingin bertemu dengan Diana, hanya saja waktu yang selalu menghalangi. Terlebih setiap pulang dari rumah sakit, Harun mampir ke kontrakam Haura untuk memastikan kondisi istrinya lewat ibu kontrakan.


Perlu kalian tahu, bukan sopir yang sering membawa makanan untuk Haura, melainkan dirinya sendiri. Hanya saja menyuruh ibu kontrakan berbohong.


Harun melakukan semua ini karena ingin tahu sampai dimana Haura bisa menahan diri untuk tidak bertemu. Tapi sepertinya itu sia-sia, sebab sampai sekarang wanita itu tidak pernah menghubunginya hanya sekedar mengatakan rindu.


Kembali pada Diana yang kini menatap Harun dengan permusuhan. "Pak dokter kok ngotot?" Berkacak pinggang.

__ADS_1


"Bukan ngotot, tapi keberannya memang seperti itu. Karena kita kebetulan bertemu di sini, saya ingin meminta bantuan ...."


"Tidak, saya tidak mau!" sahut Diana penuh tekanan padahal Harun belum selesai dengan ucapannya.


Baru saja akan kembali bicara, pintu lift sudah terbuka, membuat Diana buru-buru keluar dan berjalan menuju ruangan yang hendak Harun tuju.


"Gadis itu hamil?" gumam Harun dengan kening mengkerut ketika Diana masuk ke ruangan Ezra padahal sedang jam istirahat.


"Entahlah, bukan urusan aku." Mengedikkan baju acuh. Alih-alih menganggu Ezra dengan pasiennya, Harun malah memasuki ruangan dokter Ara.


"Sore dokter," ucap Harun membuka pintu setelah mengetuknya.


"Ada yang bisa saya bantu, Dok?" tanya Ara.


Harun menganggukkan kepalanya, duduk di kursi seberang meja. Tujuan Harun tentu saja sangat penting.


"Apa kamu sudah bicara dengan direktur rumah sakit? Bagaimana, apa kamu ingin pergi?"


"Sudah Dok, tapi saya belum bisa memberi kepastian, kalau ada kandidat lain, silahkan kirim dia saja. Ah ya, bagaimana dengan dokter Edgar?" Ara menolak halus karena dia tidak ada keinginan untuk meninggalkan negaranya lagi.


Terlebih dia baru saja menikah satu hari yang lalu, tidak mungkin suaminya mengizinkan untuk pergi. Yang ada Samuel akan memaksanya berhenti menjadi dokter.

__ADS_1


"Dokter Edgar sudah pasti akan pergi, tapi rumah sakit membutuhkan satu dokter lagi."


Ara menghela nafas panjang, mungkin jika dulu dia akan menerima apa saja perintah dari atasannya, tapi sekarang sangat sulit.


"Saya akan mengabari besok antara jadi atau tidaknya."


"Terimakasih untuk pertimbangannya." Harun mengangguk dan segera meninggalkan Ara. Sebenarnya banyak dokter di rumah sakit Edelweis hanya saja tidak ada yang memenuhi syarat rumah sakit dari luar.


Kandidat di rumah sakit tersebut hanya Edgar, Ara dan Salsa. Namun, kedua wanita tersebut menolak dengan halus, terlebih pertukarannya sekitar 3 bulan. Sangat lama untuk seseorang yang sudah bersuami.


"Siapa lagi yang harus aku ...." Ucapan Harun terhenti ketika tidak sengaja melihat perdebatan di depan ruangan sahabatnya. Di mana Diana dan Ezra saling berhadapan dan beradu argumen satu sama lain.


"Saya bilang pergi!" usir Ezra, tapi Diana mengelengkan kepalanya. Hal itu membuat Ezra semakin kesal.


Setiap kali melihat Diana, hatinya terasa sakit karena teringat akan kekasihnya yang telah pergi tanpa pamit.


"Aku tidak akan pergi sebelum ...."


"Pergi dari hadapan saya!" bentak Ezra kelepasan membuat Diana tersentak kaget.


Harun yang melihatnya langsung mendekat lalu menarik tangan Diana pergi dari hadapan Ezra yang matanya telah memerah. Amarah Ezra tidak bisa dipandang enteng oleh siapapun.

__ADS_1


__ADS_2