Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 106 ~ Tabir Pernikahan boncap 2


__ADS_3

"Dokter Ezra?"


Sungguh Haura sangat terkejut ketika pria yang membuatnya penasaran adalah dokter Ezra. Pantas saja dia seakan mengenali pria itu meski pakaiannya telah berbeda. Belum lagi peci yang berada di kepala, layaknya ustad muda.


"Kenapa dokter mau bertemu? Mas Harun baru saja ke rumah sakit," ucap Haura lantas duduk di hadapan Ezra yang mengaruk tengkuknya tidak gatal.


Hari ini pria itu tidak punya jadwal di rumah sakit sehingga bebas berkeliaran ke mana saja.


"Saya mau ketemu kamu bukan Harun."


"Kenapa saya?" Menunjuk dirinya tanpa menatap wajah Ezra. Wanita hamil itu hanya menatap tangan Ezra yang tersemat cincin pernikahan.


"Jadi begini, besok ulang tahun istri saya. Tapi dia lagi kesal dan uring-uringan tidak jelas Haura. Saya bingung gimana ngatasinnya."


Haura mengulum senyum. Tidak Diana tidak Ezra jika ada masalah selalu datang kepadanya meminta sulusi. Apa kedua orang itu mengira Haura adalah pakar masalah?


"Terus kenapa kamu tanya istri saya?!" Suara ketus terdengar dari belakang Haura, membuat wanita itu dan Ezra menatap Harun yang baru saja datang.


Ezra menghela nafas panjang, berbeda dengan Haura yang tersenyum lebar menyambut suaminya.

__ADS_1


"Kok pulang, Mas lupa sesuatu?" tanya Haura lantas berdiri.


"Lupa dompet di tas kamu, tapi sepertinya dompet cuma alasan deh." Melirik Ezra yang penampilannya layaknya ustad. "Kalau tidak pulang mas tidak akan melihat kalian duduk berdua saja!"


"Mas Harun aku cuma ...."


"Sudahlah, susah paya saya datang diam-diam ke sini malah Harun tahu. Dasar bucin, ngomong sama istrinya saja tidak boleh!" omel Ezra berjalan meninggalkan pasangan bucin tersebut.


Entah kapan rumah tangannya sebahagia Harun dan Haura. Terlebih sekarang istrinya tidak kunjung hamil padahal usia pernikahannya telah memasuki tahun ke 6.


Bisa-bisanya seorang dokter obgyn tidak bisa mempunyai anak. Sebenarnya Ezra takut memeriksakan diri sebab takut hal yang dia pikirkan benar-benar terjadi.


"Kenapa sih mas? Kok akhir-akhir ini cemburuan banget? Apalagi sama Ezra yang sahabat mas sendiri. Mas lupa kalau aku tidak mungkin ...."


Haura mengigit bibir bawahnya ketika sebuah kecupan mendarat di bibir secepat kilat. Pipinya bersemu merah.


Tidak ingin menjadi pusat perhatian karyawannya Haura segera menuju rumah di lantai atas dan tentu saja diikuti oleh Harun.


"Mas jangan cium-cium lagi kalau di tempat umum, tidak baik pamer kemesraan! Terlebih kalau dicontoh sama pasangan belum sah!" omel Haura terus saja berjalan tanpa memperdulikan suaminya.

__ADS_1


Langkah Haura terhenti ketika Harun mendekapnya dari belakang.


"Humairahku malah terlihat menggemaskan saat marah." Mengecup pipi Haura. "Mas khilaf karena kesal Sayang. Janji tidak mengulanginya lagi."


"Janji?" Haura membalik tubuhnya menatap sang suami. Hal itu tidak Harun sia-siakan untuk mengecup bibir istrinya yang mengerucut.


Entahlah tapi di kehamilan kedua Haura wanita itu jauh terlihat lebih cantik. Belum lagi auranya selalu mampu meruntuhkan benteng pertahanan Harun.


Pria itu selalu ingin berada di dekat istrinya, memeluk, mencium bahkan melakukan hal lebih.


"Mas punya jadwal siang nanti, apa bisa ambil jatah sekarang?" tanya Harun dengan suara lirihnya.


Haura membeku, dia ingin berkata tidak tapi dosa menolak keinginan suami. Terlebih tangan Harun telah menanggalkan hijab besar yang menutupi kepalanya.


"A-azzam?"


"Mas bakal jemput sore nanti," bisik Harun mendorong tubuh Haura ke ranjang."


...****************...

__ADS_1


Wkwkekekw cerita selanjutnya jalan-jalan sendiri ya, otor nggak ikut😉


__ADS_2