Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 63 ~ Tabir Pernikahan


__ADS_3

Hari mulai menggelap, matahari perlahan-lahan kembali ke persembunyiannya setelah menyinari bumi hingga berjam-jam.


Seorang wanita yang sedang berdiri di balkon kamar sedang memperhatikan senja yang hampir tenggelam dengan senyuman indahnya. Dia adalah Haura, yang tidak kunjung pulang kerena permintaan Harun.


Wanita itu sedang mempertimbangkan segala hal, antara tinggal bersama atau memilih berpisah saja. Tubuh Haura menegang, nafasnya memburu ketika seseorang memeluk dari belakang cukup erat.


"Ma-mas Harun?" lirih Haura meraih tangan Harun di pinggangnya dan hendak memindahkan, tapi Harun mencegah.


"Apa salah memeluk istri sendiri seperti ini?" tanya Harun.


"Suhu tubuh mas sudah tidak panas, sebaiknya aku ...."


"Tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini termasuk kamu Haura. Kau mau pulang kemana hm? Ini rumahmu." Harun semakin mengeratkan pelukannya, menumpu dagu di pundak sang istri yang terbalut hijab besar padahal sedang ada di dalam kamar.


"Ak-aku harus kembali kekontrakan untuk berpamitan dan mengambil barang-barang, setelah itu kambali." Masih tidak terbiasa dengan sikap Harun yang memeluknya dengan mesra, Haura melepaskan diri dari suaminya dan kembali ke kamar.


Rasanya sangat aneh jika diperlakukan berlebihan oleh Harun. Satu tahun menikah, hal paling romantis yang pernah pria itu lakukan hanya mengecup kening sebelum berangkat dan pulang kerja. Memeluk jika waktu sengang, atau duduk berdua membicarakan banyak hal hampir Harun tidak punya waktu untuknya.


Kewajiban? Tidak ada bujuk ataupun rayuan yang keluar dari mulut Harun selain mengajak secara langsung, itulah mengapa Haura sedikit tidak nyaman.

__ADS_1


"Sudah waktunya sholat," ujar Haura salah tingkah, apalagi Harun terus mengikuti langkahnya di dalam kamar seperti anak kecil.


"Ak-aku bakal sholat di kamar sebelah, sebaiknya mas Harun ...."


"Kenapa tidak bersama seperti sebelumnya? Dan untuk apa menjaga jarak seperti ini? Apa aku tidak pantas melihat rambutmu?" Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Harun karena merasa janggal dengan tingkah Haura yang selalu menghindari sentuhannya.


"Aku tidak terbiasa dengan sikap mas Harun yang terbilang romantis. Aku takut terbiasa dan mengingingkannya setiap saat."


"Lalu apa masalahnya?" Menghampiri Haura, memegang kedua pundak istrinya dengan tatapan meneduhkan. "Aku bakal selalu memberikannya Humairahku."


Detik itu juga Haura langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan pipi yang memerah seperti udang rebus. Hal itu membuat Harun mengulum senyum. Wajah salah tingkah istrinya sangat mengemaskan.


"Aku mencintaimu ada atau tidaknya janin diperut kamu Haura. Jadi jangan pernah berasumsi aku akan meninggalkanmu."


"Iya Humairahku."


Cup


Harun maju selangkah dan mendaratkan bibirnya di kening Haura cukup lama. "Tanggalkan hijabmu di dalam kamar, aku merindukan rambutmu yang indah," bisiknya.

__ADS_1


Samar-samar Haura menganggukkan kepalanya, berdiam diri ketika Harun membantu melepaskan peniti yang berada di hijab panjangnya.


Pria itu meletakkan kain panjang tersebut di sisi ranjang. Senyuman yang semula terbit di bibir Harun memudar ketika melihat rambut pendek dan tidak beraturan istrinya.


Padahal dulu rambut Haura sangat indah dan panjang.


"Ak-aku ke kamar mandi dulu."


Bahkan ketika Haura meminta izin untuk pergi, Harun masih membeku di tempatnya. Mungkin bagi sebagian orang Harun sangat berlebihan karena mempermasalahkan rambut Haura, tapi sungguh rasanya sakit melihat rambut yang semula indah tidak lagi sedap di pandang mata.


Tidak ingin membahasnya sekarang juga waktu magrib yang sangat sedikit, akhirnya Harun ikut masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu sholat berjamaan bersama istrinya.


Selang beberapa menit setelah menunaikan ibadah, Haura duduk di sofa, melipat pakaian Harun yang berantakan di dalam kamar.


Sementara pemilik kamar duduk di sampingnya. Selang infus tidak ada lagi di tangan Harun karena pria itu melepasnya sendiri.


Harun tidak membutuhkan obat apalagi cairan untuk menyembuhkan sakitnya. Hanya dengan kehadiran Haura maka semuanya akan sembuh dengan sendirinya.


"Jangan mengerjakan apapun Ra, sebaiknya kamu istirahat!" Merebut kemeja yang berada di pangkuan Haura.

__ADS_1


"Berdiam diri bukan bukan keahlian aku Mas. Tangan rasanya gatal jika tidak mengerjakan sesuatu."


"Kalau begitu manjakan aku saja." Berbaring di pangkuan Haura setelah menyingkirkan setumpuk kemeja yang Harun hamburkan beberapa hari yang lalu karena mencari cincinnya yang tercecer, untung saja dia mendapatkannya di dalam laci.


__ADS_2