
Duduk saling berhadapan sedang terjadi di ruang tamu. Kedua orang tua bertukar kabar satu sama lain, sementara Ezra sesekali mencuri-ciri pandang pada Diana yang kini menundukkan kepalanya entah karena apa.
Berbeda dengan Harun dan Haura yang sedang tersenyum manis membahas tentang lamaran. Terlebih Harun dan Haura mendengar langsung dari mulut Ezra bahwa tidak ada pernikahan kontrak yang akan terjadi nantinya.
"Setelah pulang dari sini ki kesuatu tempat dulu," bisik Harun yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya. Seakan jika terlepas Haura akan diambil oleh pria lain.
"Kemana?"
"Kemana saja yang penting sama kamu."
"Ekhem!" Ezra berdehem cukup keras hanya untuk menghentikan tingkah Harun yang membuat orang iri saja. Pria itu melirik ayahnya agar segera mengutarakan tujuannya datang bertamu cukup pagi padahal sedang hari libur.
"Maksud kedatangan kami ke sini untuk meminang putri anda, tapi ayahnya sedang tidak ada di rumah." Ayah Ezra mulai berbicara padahal di rumah tersebut ayah Diana sedang tidak ada.
Ayah Diana akan pulang 3 hari lagi, tapi Ezra keburu datang kerumah untuk melamar gadis yang sudah dia sakiti hatinya berulang kali tanpa sengaja.
"Suami saya sudah berpesan dan menyerahkan semua keputusaanya pada saya, jadi bicarakanlah dengan baik," ujar bunda Diana.
Ayah Ezra tersenyum, hati pria paruh baya itu sangat berbunga-bunga karena sebentar lagi besanan dengan kerabat dekatnya.
"Saya mewakili semua keluarga mau meminta putri anda untuk menjadi pendamping hidup putra kami. Menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Semoga niat kami disambut dengan baik oleh kalian."
__ADS_1
"Tentu saja niat baik harus disambut dengan baik, bukan begitu Nak?" Bunda Diana melirik putrinya yang masih saja menunduk, padahal Diana bukan tipe perempuan yang akan diam saja jika banyak orang seperti ini.
Terlebih dihadapan Diana ada Haura dan Azalea.
"Diana tidak tahu," sahut Diana engang mendongan sehingga tidak bisa melihat tatapan Ezra yang berbeda.
"Kok jawab gitu Nak? Kamu bahkan tidak memberitahu bunda kalau bakal kedatangan tamu sangat penting." Mengelus lengan Diana penuh kelembutan.
Namun, siapa yang menyangka Diana langsung berdiri dan menatap satu persatu orang yang berada di meja makan.
"Seharusnya hari ini tidak ada lamaran apapun! Terlebih dari pihak dokter Ezra. Hubungan kami sudah berakhir kemarin, semuanya hanya pura-pura untuk membatalkan perjodohan saja. Saya tidak menerima lamaran ini!"
Usai mengatakan semua yang bersarang di hatinya, Diana berlari ke kamar untuk bersembunyi. Gadis itu tahu apa yang dia katakan akan mengundang masalah, tapi dia merasa keputusannya sudah tepat.
Suasana tiba-tiba menjadi hening, semua tatapan tertuju pada Ezra yang bergeming menatap kepergian Diana. Di tengah-tengah keheningan Haura membuka suara.
"Maaf bu, apa saya bisa menyusul Diana? Saya teman dekatnya," ucap Haura meminta izin.
Bunda Diana lantas mengangguk dalam kebingungannya, membuat Haura bergegas menyusul Diana dikawal oleh pelayan yang akan menunjukkan jalan.
Wanita itu mengentuk pintu meski melihatnya setengah terbuka. Tidak sopan rasanya langsung masuk ke kamar seseorang tanpa izin dari pemiliknya.
__ADS_1
"Diana, apa aku boleh masuk?" izin Haura.
"Masuklah kak!"
Haura berjalan perlahan membuka pintu, mendekati Diana yang duduk di atas sofa sambil memeluk bantal bulat dengan foto cha eun woo di sekitarnya.
"Kenapa?"
Diana mengeleng.
"Mau dipeluk tidak?" Haura kembali bertanya.
Diana menganggukkam kepalanya cepat, melempar bantal dan menghambur kepelukan Haura. Seakan keduanya memiliki hubungan darah saja.
"Kak Haura benar, aku tidak boleh bodoh. Kodratnya seorang perempuan itu dikejar dan perjuangkan, bukan malah mengemis cinta," gumam Diana.
"Kamu tidak akan menyesalinya, cantik? Aku tahu kamu mencintai Ezra, pancaran matamu mengatakan semuanya." Mengelus rambut Diana yang sudah tidak terhalang hijab.
"Mencintai memang indah, tapi dicintai jauh lebih indah kak. Mencintai sendirian itu sakit, sayangnya aku terlalu bodoh karena baru sadar sekarang."
"Tidak apa-apa aku mengerti. Hari ini aku senang melihatmu ingin berubah Diana. Kalau tidak mau menikah maka bicaralah pada orang tuamu tanpa membantah apalagi bentakan. Katakan yang sejujurnya pada mereka. Kamu dijodohkan kan? Temuilah calon suamimu lebih dulu sebelum mengambil keputusan."
__ADS_1
Melerai pelukannya, mengambil hijab yang tergeletak lalu memasang di kepala Diana, tidak lupa menitinya dengan peniti sehingga terlihat lebih rapi.
"Aku dan mas Harun juga dijodohkan kok. Yakinlah pilihan orang tua adalah yang terbaik. Tidak ada orang tua yang tega menyerahkan putrinya pada pria tidak bertanggung jawab."