
Haura, wanita itu menatap tidak percaya hidangan yang ada di atas meja. Sungguh ini sangat berlebihan menurutnya, terlebih dari semua makanan hampir semuanya berbahan dasar daging, entah sapi, ayam bahkan domba sekalipun.
Dia mengerjapkan matanya perlahan sambil menatap Harun yang tengah fokus memoton steak well done, dimana tingkat kematangannya sudah sangat sumpurna, yang cocok untuk mengobati anemia yang diderita Haura.
"Sangat berlebihan," protes Haura.
"Bukan berlebihan, tapi peduli." Memberikan piring steak yang telah dia potong kecil-kecil agar Haura bisa memakannya dengan tenang.
"Makanlah Ra, aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa nantinya. Kalian sangat berharga," ucap Harun dengan senyum tenangnya.
Haura yang merasakan jantungnya berdetak tidak karuan melihat tatapan Harun lantas menundukkan kepalanya, fokus pada makanan di atas meja. Berbeda dengan Harun yang tampak asik memperhatikan gerak-gerik Haura.
Akan kubutikan bahwa aku sangat mencintaimu. Akan ku lakukan banyak hal untukmu, sampai kau merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Akan ku buat kau menjadi ratu satu-satunya dalam kehidupanku.
Harun terus saja mengucapkan keinginan-keinginan yang ingin dia capai, semuanya tentang Haura dan Haura.
Pria itu sangat beruntung dipertemukan dengan wanita setulus dan sebaik Haura. Wanita yang mampu mengubah Harun dari pergaulan yang tidak sehat.
Menjadi dokter bukanlah impian Harun yang sesungguhnya, itu semua keinginan ayahnya saja. Harun sering kali menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak berguna jika sering kali merasa lelah mengikuti semua aturan sang ayah.
Hingga suatu hari dia tiba-tiba dijodohkan dengan wanita pamaham agama seperti Haura. Wanita yang tidak ingin Harun sentuh pada awalnya, karena merasa perempuan itu sok suci.
__ADS_1
Wanita yang tidak pernah Harun sangka bisa mengubah hidupnya dari yang tidak tahu apa-apa tentang agama kini sedikit mengerti.
Dulu jangankan sholat, wudhu saja tidak bisa padahal usianya sudah 29 tahun. Usia yang sangat sia-sia.
Haura hanya membutuhkan 3 bulan untuk meluluhkan hati Harun menjadi pria yang perhatian dan berhati lembut. Mengikuti seluruh apa yang dilakukan oleh Haura. Dari sholat, mengaji.
"Mas Harun tidak makan?" Menatap Harun yang masih saja menatapnya.
"Makanlah."
"Katanya belum makan sejak pagi, harusnya mas makan biar tidak sakit. Untuk apa menjaga kesehatan orang lain jika kesehatan sendiri saja tidak bisa ...."
Ucapan Haura terhenti, wanita itu mengigit bibir bawahnya karena menahan malu setelah bibirnya dikecup tanpa izin oleh suaminya sendiri.
Perhatian dan kasih sayang Haura dapatkan, tapi sikap romantis tidak pernah pria itu berikan selama pernikahan.
"Kapan waktu tepatnya aku bisa menjemputmu, Haura?"
"It-itu aku ...."
"Tidak bisakah kita menyembuhkan luka masing-masing dengan tinggal bersama? Aku merasa sepi di rumah, rasanya kehidupanku telah hilang. Sebentar lagi jam 5 sore, tapi aku tidak ingin pulang kerumah sendirian." Harun meraih tangan Haura yang tiba-tiba meletakkan garpu dan pisaunya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau pulang kerumah, maka izinkan aku untuk tinggal bersamamu dimanapun itu."
"Mas, bukannya kita sudah membicarakan hal ini? Kamu mau memberiku waktu untuk ...."
"Belum bisa ya?"
Haura menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Maklah kalau begitu, aku akan menahannya sebentar demi kamu." Harun tersenyum, pria itu mengusap pipi Haura penuh kelembutan.
"Aku terlalu ngegabah dan tidak sabaran, harusnya aku tidak membahas hal ini sekarang. Nafsu makan kamu ...."
"Tidak, aku akan menghabiskan semuanya," sahut Haura langsung menunduk untuk menyantap makanannya kembali, tidak ingin membuat Harun kecewa.
Mungkin dia terkesan egois sekarang, tapi rasanya untuk tinggal berdua Haura belum siap.
"Pelan-pelan makannya, Sayang."
Uhuk
Bukannya pelan-pelan, Haura malah terbaruk mendengar panggilan Harun yang baru kali ini wanita itu dengar.
__ADS_1
"Salah lagi," gumam Harun yang memang tidak bisa bersikap romantis jika direncanakan.
"Ak-aku tidak terbiasa dengan sikap Mas yang sekarang."