
Terjadi keheningan di dalam ruangan istirahat tersebut. Diana tengah menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangan. Dadanya terasa sesak, air mata hampir saja mengalir membasahi pipinya memikirkan perkataan Ezra tadi.
Selain sedih karena Ezra menganggap pernikahan mereka adalah saling menguntungkan, gadis itu kecewa sebab Ezra memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi dengannya lebih dulu.
"Diana?" panggil Ezra.
"Kak Haura benar, semua perempuan hanya menginginkan pernikahan sekali dalam hidupnya, termasuk aku. Sepertinya kita tidak perlu melanjutkan pernikahan pura-pura ini Pak. Aku bakal menerima perjodohan dari orang tuaku." Diana beranjak dari duduknya tanpa ingin menatap manik Ezra.
Namun, langkah Diana berhenti ketika tangannya ditarik oleh pria itu.
"Maaf." Sesal Ezra.
"Aku pikir usia bisa mendewasakan seseorang, ternyata aku salah. Aku baperan ya Pak?" Diana tersenyum. Tapi senyum itu tidak terlihat tulus di mata Ezra.
"Jangan datang kerumahku bersama orang tua pak Dokter! Sepertinya aku keliru dalam sesuatu." Diana menyentak tangan Ezra kasar. Namun, pria itu tidak menyerah.
Ezra berdiri di depan pintu untuk mencegah Diana pergi. "Kalau begitu mari menikah tanpa adanya perjanjian apapun, menikah tanpa cinta!"
"Pak Dokter yakin?"
Ezra menganggukkan kepalanya samar-samar karena ragu. Pria itu bukan egois, bahkan bisa dibilang Ezra berusaha untuk tidak menyakiti perasaan Diana nantinya jika gadis itu mencintainya kelak.
Sampai sekarang hati Ezra masih milik orang lain.
***
__ADS_1
Kediaman Edelweis
Haura terus saja bergerak gelisah di dalam kamarnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam tapi suaminya tidak kunjung pulang.
Meski suaminya sudah mengabari akan pulat telat, tetap saja hati Haura tidak akan tenang.
"Mas Harun kenapa pulang lama sih? Apa aku harus kerumah sakit?" gumamnya.
Wanita berbadan dua itu berjalan menuju balkon, memperhatikan suasana jalan yang sangat sepi dari lantai dua rumahnya.
Bibir yang terlihat pucat itu sesekali terkulum kala angin malam menerpa wajah Haura.
Haura yang hampir saja tenggelam dalam lamunannya tentang keberadaan sang suami segera tersadar ketika deringan ponselnya terdengar. Nomor Ezra, Haura tahu akhirannya meski tidak menyimpan.
"E-ezra, apa kamu tahu Mas Harun di mana?" tanya Haura akhirnya.
"Sayang, maaf karena lupa mengabarimu. Mas tidak tahu kalau sejak tadi ponsel mas mati. Mas baik-baik saja di rumah sakit, sebentar lagi pulang."
Haura menghela nafas lega tahu suaminya baik-baik saja.
"Syukurlah mas, aku sangat khawatir tadi. Cepat pulang, aku bakal nunggu mas."
"Tidurlah jika lelah! Sekarang malam minggu, jalanan sangat padat akan kendaraan, mungkin mas sampai di rumah tengah malam."
"Aku tidak bisa tidur sebelum mas ada di rumah."
__ADS_1
Senyuman Harun langsung mengembang di seberang telpon mendengar nada bicara Haura terkesan manja dan malu-malu.
"Mau makan sesuatu?"
"Memangnya boleh?" Haura mengigit bibir bawahnya. Sebuah cemilan sederhana terbesit di bayangan wanita berbadan dua itu.
"Boleh dong Ra. Sejak kapan coba mas tidak mengabulkan permintaan kamu? Katakan mau makan apa!"
"Kue pukis," lirih Haura. Dia tahu tengah malam seperti ini sangat sulit bahkan tidak ada penjual kue pukis. Sebab kue tersebut hanya bisa di dapatkan saat pagi hari.
Entah apa alasan jelasnya, tapi kue pukis selalu identik dengan pagi, mungkin karena kalau malam namanya berubah menjadi martabak manis manis.
"Baiklah Sayang, mas bakal beli sebelum pulang. Sekarang masuk kamar dan kunci balkon, di luar sangat dingin!"
Haura mengernyitkan keningnya, merasa aneh Harun bisa tahu bahwa sekarang dia ada di balkon.
"Kok tahu?"
"Suara dedaunan ribut, belum lagi semilir angin yang cukup menganggu gelombang suara kamu. Sudah masuk sana!"
"Iya." Menganggukkan kepala padahal Harun tidak bisa melihatnya.
Karena sudah tahu suaminya baik-baik saja, akhirnya Haura memilih untuk menunggu Harun sambil bersandar di kepala ranjang sambil membaca majalah yang tidak sempat dia baca tadi pagi karena sibuk mengurus suami juga jualan onlinenya.
"Cantik banget gamisnya," gumam Haura. Wanita itu mengambil pulpen lalu melingkari toko gamis tersebut sebagai penanda kalau saja punya uang.
__ADS_1