Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 43 ~ Tabir Pernikaha


__ADS_3

Haura, jantung wanita itu berpacu sangat hebat ketika tetasan air mata Harun berhasil menembus hijabnya sehingga membasahi leher. Satu tahun menikah, baru kali ini dia melihat dan menyaksikan suaminya menangis.


Bahkan saat ayah pria itu meninggal dunia, tidak ada tagisan yang dia lihat dari sosok seorang Harun. Tanpa sadar tangan Haura bergerak membalas pelukan suaminya yang terasa hangat dan menenangkan, membuat Harun semakin mengeratkan pelukannya.


"Kita balik seperti dulu ya, Ra. Membesarkan anak kita sama-sama dan menjalani rumah tangga yang bahagia," gumam Harun.


Haura mengelengkan kepalanya, wanita itu mendorong pelan tubuh Harun agar melepaskan pelukan. Mengusap pipi pria itu untuk menghilang air mata yang terus saja mengalir.


"Pulanglah Mas, sebentar lagi akad akan dimulai. Bunda Elena dan Vivian pasti menunggumu."


Harun mengelengkan kepalanya seperti anak kecil. "Aku tidak akan menikah dengan Vivian Ra, dia dan bunda tega membunuh ayah."


"Lalu kenapa menyiapkan pernikahan?" Kening Haura mengkerut juga sedikit kaget mengetahui jika orang yang telah melenyapkan ayah mertuanya adalah bunda Elena.


Selama ini Haura tidak pernah berpikir bahwa ayah mertuanya meninggal karena dibunuh, sebab dialah orang pertama yang menemukan ayah Harun tidak bernyawa lagi.


Malam itu, Haura baru saja selesai melaksana sholat tahajjud dan sedikit khawatir akan kondisi ayah mertuanya, itulah mengapa memutuskan untuk memeriksa.


Namun, bertapa terkejutnya Haura saat mendapati wajah pucatnya ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi.

__ADS_1


Mengingat hal itu, manik indah Haura tiba-tiba berembun membuat penglihataanya sedikit mengamur. Harun yang melihatnya lantas mengecup jari-jari Haura yang masih menempel di pipinya.


"Aku menyiapkan pesta hanya untuk menberi mereka kejutan dan mempermalukannya di depan umum, Ra. Tidak ada maksud lain. Aku hanya mencintaimu. Kau tahu? Aku sudah menyiapkan banyak hal malam itu untuk merayakan anniversarry kita, tapi semuanya hancur karena kelicikan bunda Elena." Harun tersenyum jika mengenang momen yang mungkin saja tidak akan dilupakan oleh Haura kalau saja Elena tidak membuat kesalahpahaman di antara mereka.


"Kenapa mas melakukan ini semua?"


Kening Harun mengkerut, tidak mengerti akan pertanyaan yang dilontarkan istrinya.


"Maksud kamu apa, Ra?"


"Kenapa harus mempermalukan mereka demi membalas rasa sakit hati? Mas Harun, manusia yang hatinya dipenuhi rasa dendam itu tidak baik. Harusnya mas Harun hanya memenjarakannya sesuai undang-undang yang berlaku, tidak perlu mempermalukan ...."


"Manusia tempatnya salah Mas. Allah saja maha pemaaf, kenapa hambanya tidak?"


***


Jika Haura dan Harun sedang bertukar cerita untuk menenangkan diri masing-masing dari rasa sakit setelah berpisah dan hidup dalam kesalahpaham, maka berbeda dengan Elena dan Vivian yang tampak gusar karena tidak menemukan Harun dimanapun padahal acara sebentar lagi dimulai.


Para tamu undangan sudah datang, penghulu telah duduk di sebuah kursi menunggu mempelai pria datang, tapi Harun bagai hilang di telan bumi.

__ADS_1


Tangan Vivian yang sejak tadi mengepal mulai berkeringat dingin di dalam kamar melihat apa yang terjadi di aula lewat layar yang memang telah disediakan.


"Kenapa akadnya belum dimulai juga?" tanya Vivian pada bundanya yang sejak tadi mondar-mandir layaknya setrika di dalam kamar.


Elena mengambil nafas yang panjang sebelum menyahuti pertanyaan putrinya. Jantung wanita paruh baya itu tengah berdetak sangat cepat takut di permalukan di depan umum jika Harun tidak jadi menikahi Vivian, padahal dia sudah mengundang teman-teman sosialitanya yang kini terus saja bertanya di grup chat yang mereka miliki.


"Bunda!" Teriak Vivian.


"Sabarlah Vi, bunda tidak tahu dimana Harun sekarang. Tidak ada yang melihatnya pergi," sahut Elena.


Baru saja wanita paruh baya itu akan duduk, pintu kamar terbuka dan menampilkan pelayan dari lantai dasar.


"Bu Elena, mohon untuk ke bawah sebentar. Pembawa acara ingin membicarakan sesuatu untuk mengulur waktu sebelum pak Harun ditemukan."


"Baiklah." Dengan jantung berdetak tidak normal, akhirnya Elena memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya, menemui semua tamu di lantai dasar dan bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu.


"Maaf ya sudah menunggu lama, mempelai prianya sedang terkena macet, sebentar lagi akan sampai," ucap Elena yang berada di atas panggung bersama pembawa acara.


Tanpa tahu, sejak tadi ada seorang pria yang tersenyum di lantai dua sambil memperhatikan acara di lantai dasar.

__ADS_1


__ADS_2