
Memandangi makhluk munggil yang hampir mirip dengannya sudah Harun lakukan sejak setengah jam yang lalu. Sesekali senyuman pria itu terbit sambil mengelus pipi putranya.
Makhluk kecil itu lahir tanpa ada cacat atau kelainan dalam dirinya membuat Harun sendikit lega.
"Maafin ayah ya Nak. Ayah bukan tidak ingin kamu hadir di dunia, tapi ayah tidak bisa hidup tanpa Bunda. Dunia ayah hancur," ucap Harun.
"Karena bunda tidak bisa kasih nama, ayah yang akan kasih kamu nama."
Bayi yang berada di atas brangkar di kelilingi guling kecil tersebut mengeliat seakan merespon ucapan ayahnya. Meski begitu mata tetap saja tertutup.
"Azzam Hafidzh Kaffa, bagus tidak?" tanya Harun.
"Indah banget namanya Kak," puji Diana yang baru saja datang bersama Ezra. Bukan karena berbaikan, tetapi pria itulah yang mengikuti langkah Diana sejak dari ruang intensif melihat Haura.
"Hm, semoga perilakunya seindah namanya."
"Tentu saja, dia putra dari Haura. Besar nanti dia akan menjadi jembatan orang tuanya menuju surga. Beda cerita kalau yang ngasuh kamu, mungkin jadi brandal," celetuk Ezra untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Namun, sia-sia saja sebab Harun tidak tersenyum meski sekilas. Pria itu kembali menatap putranya yang tengah terlelap. Pikiran Harun sedang berkelana mencari cara agar bisa mengeluarkan istrinya dari kritis.
"Sudah dari kantor polisi?" tanya Ezra.
Harun menganggukkan kepalanya. "Sudah, pelakunya dalam proses pencarian, beberapa saksi sudah ditemukan."
Harun baru saja dari kantor polisi tadi. Melihat foto Haura yang tergetak di jalan dengan bunga mawar disekitarnya membuat Harun langsung teringat pada mimpinya.
Meski tidak sepenuhnya sama, tapi Haura kecelakaan karena campur tangan sebuah bunga.
Pria itu segera beranjak dari duduknya, tidak lupa mengecup pipi Azzam yang mengembul meski tidak meminum Asi dari bundanya, melainkan susu formula.
"Tolong jaga putraku sebentar, aku harus ke suatu tempat," ucapnya.
Ezra dan Diana mengangguk patuh, keduanya sangat peduli pada Harun dan Azzam yang kini tidak punya siapa-siapa.
Sepeningalan Harun, Diana beralih duduk di sisi brangkar, memandangi makhluk kecil yang sangat mengemaskan tersebut.
__ADS_1
"Tampan banget, semoga kelak aku punya bayi setampan ini," gumam Diana yang langsung mengambil perhatian Ezra.
"Kau benar-benar akan menikah?" Lagi, Ezra bertanya tentang rencanan Diana, membuat gadis itu mendelik tidak suka.
"Sebaiknya dokter Ezra keluar! Aku tidak nyaman berada di sekitar dokter!" usir Diana.
"Kau tidak nyaman atau tidak bisa menyembunyikan rasa sukamu, Diana?" Salah satu alis Ezra naik, seakan menentang Diana untuk berdebat.
Sayangnya, bukannya menjawab Diana malah beranjak melewati Ezra begitu saja. "Jaga Azzam sendirian, aku sibuk!"
Ezra menghela nafas panjang, pria itu hanya ingin dekat dengan Diana meski tidak punya hubungan spesial, tapi seakan tidak mempunyai kesempatan meski sebesar biji jagung.
"Apa salah jika aku tidak ingin menyakiti hatimu, Diana? Aku mencegahmu untuk jatuh cinta karena aku sendiri belum bisa keluar dari lingkaran masa lalu sampai detik ini. Namun anehnya aku malah mengingingkanmu berada di sampingku, menganggu hidupku seperti sebelumnya tanpa kenal lelah." Batin Ezra ketika Diana tidak ada di ruangan tersebut.
Tidak ingin larut dalam lamunan, akhirnya Ezra memilih berbaring di samping Azzam yang terlihat mengemaskan. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga bayi mungil tersebut.
"Azzam, jemput bundamu Nak. Desak dia untuk bangun agar ayahmu tidak sedih lagi," bisiknya. "Mau bertemu bunda? Om bisa membawa Azzam tanpa sepengetahuan ayah."
__ADS_1