
Ia kembali mendapat sosok ayah yang benar-benar perhatian padanya, asal kamu tahu mas, Ibrahim kadang tidak bisa melepaskan kak Aldi sampai ia tertidur di gendongan kak Aldi.
anak-anak gak bisa di bohongin mereka bisa melihat orang uang tulus sama mereka dan tidak, dan sejauh ini aku lihat ibrahim sangat nyaman bersama kak Aldi. ]jawab Ayu panjang lebar membuat Rehan langsung bingung.
[Terserah kamu aja Ayu intinya aku sudah mengingatkan, kalau kamu tidak mau mendengarkan ya sudah] lanjut Rehan membuat Nita langsung memutar mata memalas mendengar hasutan itu.
[ Ya sudah kalau begitu maksih banyak ya mas nasehatnya. Aku tutup dulu kali ya, soalnya masih banyak yang harus aku siapin untuk persiapan haru minggu besok] ucap Atu hendak mengakhiri pembicaraan.
[sepertinya kamu kebelet banget ya Yu pengen nikah? ] ledek Rehan membuat Ayu langsung menarik nafas panjang, lalu iya mengangguk anggukan kepalnya sejenak.
[ hu'um iya nih mas kebel banget pengen nikah, udqh lama nggak jgelakuin ibadah suami istri, jadinya sekarang aku benar-benar semangat untuk mempersiapkan diri.
Dari pada berbuat dosa di luaran sana, makanya aku memilih menikah agar punya pasangan halal] jawab Ayu membuat Nita melotot tidak percaya, lalu ia menutup mulutnya menahan tawa.
Sedangkan Rehan yang mendnegar itu ia langsung mematung, ia tidak menyangka Ayu menjawab seperti itu.
'Demi apa? Ayu menjawab barbar banget, tapi biarlah punya suami begitu ya harus di gituin.
[Ayu kamu...
[udah dulu ya mas, aku mau sambut calon suami aku, assalamualaikum. ] potong Ayu lalu ia memutuskan sbunga telefon.
Setalah itu ia dan Nita langsung pandang-pandangan lalu merekabtertawa terbahak bahak.
"keren banget Yu sumpah, kamu udah pro banget buat Rehan mati kutu." ucap Nita yang di balas anggukan oleh Ayu.
"kita punyak hak untuk membela diri kita sendiri seperti yang kamu bilang nggak sih, "jawab Ayu yang di balas anggukan oleh Nita.
Lain halnya dengan Rehan yang masih belum percaya dengan kata-kata Ayu barusan.
"Sejak kapan Ayu berani bicara seperti itu? "gumamnya sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.
Cukup lama Rehan bergelut dengan pikirannya sendiri. Akhirnya Rehan mmemilih pulang terlebih dahulu, karena ia sudah tidak fokus mengerjakan pekerjaan kantor, setelah mendapat undangan pernikahan dari Ayu dan Aldi.
__ADS_1
Sampai di halam rumah, Rehan langsung menarik nafas panjang saat melihat Desi sedang duduk di teras sambil mengotak-atik ponselnya.
"Assalamualaikum, kamu ngapain aja di sini? "ucap Rehan tiba-tiba membuat Desi mendongak.
"waalaikumsalam, ya kerja lah mas, aku lagi ngeliat orderan butik aku.emang kamu doang yang bisa kerja. "jawab Desi tanpa menghiraukan Rehan.
"Aku lapar, kamu masak apa tadi? "lanjut Rehan lalu duduk di sebelah Desi, kemudian meletakkan surat undangan tersebut di samping Desi.
"Sejak kapan aku masak? aku nggak pernah masak mas kalau mau beli aja noh di warteg depan. "suruh Desi membuat Rehan langsung menghembuskan nafas kasar.
"Masa kamu nggak pernah masak sama sekali sih?" Tanya Rehan mulai kesal membuat Desi langsung meletekkan ponselnya lalu melihat ke arah Rehan.
"sesuai perjanjian mas, aku udah bilang kamu kerja, aku juga kerja. Ya kita cari kehidupan kita masing-masing, bukan begitu toh? kenapa sekarang kamu nuntut.
Kamu kuga nggak pernah mau nungjukin berapa gaji kamu sama aku, ya udah berarti itu tandanya walaupun kita satu rumah tetap menjadi dua orang asing yang berbeda. "jawab Desi panjang lebar membuat Rehan langsung memijit pelipisnya sejenak.
"Ya udah terserah kamu lah, aku malas berdet dengan mu, jadi istri perhitungan banget! "ujar Rehan lalu ia bangkit dari duduknya menuju warteg di depan untuk beli makanan.
"Aldi dan Ayu, " ucapnya saat membaca di depannya.
"Oh pantes dia pulang jam segini, karena dapat undangan seperti ini, sakit hati pasti.Cuman mau gimana lagi nasi sudah jadi bubur, rasain aja deh.
Aku juga termasuk orang yang bodoh masuk ke kehidupan kamu mas. "gumam Desi sambil memperhatikan punggung Rehaj yang mulai menjauh.
"Tapi kira-kira kak Aldi kasi mahar Ayu berapa ya? Secara ia sudah janda dan punya anak satu .
****
Dua hari kemudian, tibalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Aldi dan Ayu ,yaitu hari pernikahan mereka.
Ayu sedang di dandanin di kamar, bersama denagn Nita sedangkan Aldi di bawah sedang melaksanakan ijab kabul.
"Nita aku masih belum percaya dengan ini semua. "ucap Ayu membuat Nita langsung tersenyum.
__ADS_1
"Kamu masih ingat Ayu, dulu aku pernah bilang padamu kalau Allah itu adil dan sekarang kamu bisa merasakannya sendiri. "ucap Nita sambil menatap Ayi dari kaca yang di balas anggukan oleh Ayu.
"Doa in aku ya Nita, semoga pernikahanku ini adalah pernikahan yang terakhir dalam hidupku.
Semoga aku bisa jadi istri yang soleha dan merasakan indahnya menjadi seorang istri, "lanjut Ayu yang di balas anggukan oleh Nita.
"Aku tidak pernah bosan mendoakanmu Ayu, semua pasti ada jalannya. "ucap Nita lalu ia mengalihkan pandamgannya seakan teringat dengan Alex.
Ayu yang meluhat Nita dari kaca langsung tersenyum, lalu memegang tangan sahabatnya tersebut yang sedang bersengger di pundaknya.
"Allah juga akan mendatangkan jodoh yang terbaik buatmu Nita, Allah juga adil sama kamu ya tunjukkan betapa buruknya sifat Alex. "ucap Ayu membuat Nita langsung menoleh lalu terkekh.
"hu'um jadi positif thingking lah sama Allah haha... Cuman itu yang bisa aku lakukan sebagai manusia. "jawab Nita membuat Ayu mangut-mangut.
****
Di sisi lain mengetahui Ayu melangsu7pernikahan hari ini. Sinta dan Rika tidak mau kalah, karena merasa Rehan mendapat undangan jadi mereka juga ikut.
"Ma kita ngapain sih segala dateng ke pesta pernikahannya kak Ayu, nanti dia kira kita mau makan gratis? "tanya Rika yang sedang bersiap-siap dengan Sinta.
"Nggak papa, justru kita hrus lihat si Ayu di beli orang seharga berapa. Adakah yang mau membeli dia seperti Rehan membelinya dulu. "jawab Sinta membuat Rika bingung.
"membeli? "
"iya membeli, dinikahin itu aritnya membeli Rika. kamu juga nanti kalau sudah di maharin sama laki-laki, itu artinya kamu sudah sama dia, tidak ubahnya membeli kamu. "jawab Sinta membuat Rika langsung mangut-mangut.
"ih aku kadi taku nikah ma, "jawab Rika membuat Sinta tersenyum miring.
"Makanya kalau mau nikah jangan mau maharnya kecil. "lanjut Sinta sambil mengoleskan bedak di wajahnya.
"Ma kira-kira kak Ayu setelah cerai makin kurus apa badannya berisi ,terua mukanya masih secera waktu sama kita nggak ya.
Apa jangan-jangan setelah dia mandiri, dia yang memikirkan semuanya mukanya malah berbopeng-bopeng. "ujar Rika membuat Sinta langsung mengangguk.
__ADS_1