Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Tuduhan Yang Menyakiti Hatiku.


__ADS_3

...Pernikahan itu tidak seperti melipat kertas, mudah di lipat rapi, dan terlihat indah....


 


“Berhutang lagi, kamu tidak ada kapoknya!,” Ujar Kevin, dengan nada tinggi.


Kevin Alfiano, putra dari Bapak Ahmad dan Ibu Anisa. Sudah menikah sejak tujuh tahun yang lalu, dengan Julia. Pernikahan yang sudah di karuniai satu anak laki-laki bernama Varo Alfiano, berusia lima tahun. Pernikahan yang bahagia, hingga pada akhirnya masalah ekonomi datang pada keluarga Kevin dan Julia, membuat Julia selalu disalahkan. Kevin bekerja di Komprasi simpan pinjam, sebagai pimpinan di Bank tersebut. Gajinya 7 juta perbulan.


Julia putri tunggal Ibu Fatma dan Bapak Aris, tinggal jauh dari keluarga, karena ikut Kevin, ke surabaya. Julia, yang asli kelahiran Kabupeten Lumajang.


“Mudah kamu mas, mengatakan itu semua. Seandainya kamu yang menjadi aku, pasti kamu akan melakukan hal yang sama,” Jawab Julia dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa harus seandainya aku yang jadi kamu, bukankah kamu sendiri yang harus berpikir bagaimana caranya membuat cukup uang bulanan kita. Kamu ibu rumah tangga dan kamu harus bisa mengatur keuangan kita sebaik mungkin, bukan malah menambah beban hutang seperti ini.” Ujar Kevin Masih dengan nada marah.


Sakit mendengarnya, tapi dia suami, dan kepala rumah tangga di rumah Julia. Tak adakah yang bisa percaya dengan Julia, setelah apa yang di lakukan untuk keluarganya. Saat berkata jujur, jika keuangannya kurang, Julia akan disalahkan, saat Julia  mencari pinjaman tanpa memberi tahu, Julia tetap disalahkan.  Apakah seorang istri memang berada di posisi yang tidak di anggap, saat berusaha mencari sesuatu yang di anggapnya membantu kebutuhannya. Atau sebaliknya tidak bisa hidup tenang tanpa beban yang ada.


“Aku akan bekerja Mas, biar kamu tidak di bebani olehku,” Ujar Julia yang sudah di banjiri air mata, sedih sangat sedih mendengar ucapan Kevin.


“Kamu pikir wanita yang hanya lulusan SMP bisa cari uang untuk membantu keuangan keluarga, kamu hanya pantas menjadi wanita ibu rumah tangga yang menjaga rumah dan mengurus anak.”


“Cukup Mas, biarpun aku hanya lulusan SMP, tapi aku yakin, aku mampu bekerja,’’


“Bekerja apa? Apa bekerja jadi tukang masak atau nyuci di rumah orang.”


“Iya, aku tidak apa-apa menjadi babu sekalipun Mas, asal aku bisa membantu keuangan keluarga, dari pada aku terus di salahkan olehmu.”


“Hahaha, malu-maluin saja, kamu tetap seperti ini tidak akan kemana-mana.”


“Kenapa kamu terus menerus  merendahkanku, Mas? Selalu  membuatku sakit hati. Sekarang aku pasrah, bagaimana sudah terserah kamu.” Julia langsung pergi.


Pernikahan yang di awali dengan cinta, pertemuan yang tanpa sengaja di Lumajang, saat Kevin tugas di Bank cabang tempat bekerjanya, membuat mereka saling jatuh cinta dan menikah. Semua setuju dengan pernikahan itu. Pada akhirnya pernikahan itu menjadi cerita menyedihkan, semua terasa mimpi, berjalan indah saat pertama, tapi akhirnya menjadi derita. Seorang wanita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menangis dan meratapi hidup yang sangat menyakitkan.


Varo yang masih berusia 5 tahun, masih perlu kasih sayang seorang ibu, apakah harus bekerja demi membantu keuangan keluarga.


Keesokan harinya, entah ada angin apa yang membuag Kevin tiba-tiba mengajak Julia pulang kampung.


“Cepat ganti baju, kita akan berkunjung kerumah ibu di lumajang,” Ujar Kevin yang mendadak mengajak ke lumajang.


“Untuk apa Mas, bukankah kita seminggu lalu sudah dari sana,”


“Kita jalan-jalan.” Jawabnya singkat tanpa ragu, dan membuat Julia bingung dengan sikap suaminya.


Dia meminta datang kerumah ibu kandung Julia, dan membuat Julia berpikir jika Kevin hanya bercanda.


“Mas tidak bercanda kan?” Tanya Julia masih dalam keadaan tidak percaya.


“aku serius, kita kan besok libur, biar Varo lebih lama bertemu ibu,”


“Baik Mas.”


Julia langsung berganti baju, begitu juga Varo. Bahagia rasanya, karena Kevin jadi baik, tidak lagi marah-marah masalah uang lagi. Julia hanya butuh di mengerti, hanya saja Kevin selalu curiga dan menganggap Julia terlalu mudah menghabiskan uang bulanannya.


Jika di hitung berapa besar pengeluaran Julia, tidak bisa mencukupi untuk membeli baju baru. Hanya cukup membeli kebutuhan keluarga. 7 juta jika masih di bagi untuk bayar cicilan rumah dan jatah orang tua Kevin. Jika di hitung secara rinci, Julia hanya mendapat 3,5 juta perbulan.

__ADS_1


Tidak pernah Julia perhitungankan. Jika kurang Julia pasti mencari hutangan. Hanya untuk memenuhi kekurangan tersebut.


Di perjalan pulang ke kampung, julia banyak diam, seakan dia sangat takut berbicara banyak, karena takut di salahkan, dan ujung-ujungnya akan bertengkar.


Perjalanan yang menempuh jarak kurang lebih 4 jam perjalanan. Tanpa obrolan, seakan membisu satu sama lain. Kehangatan dalam keluarga sudah berkurang, bahkan sangat jauh dari kata bahagia seperti awal pernikahan.


Jam menunjukkan pukul 19.00 mobil kevin sudah masuk kearea halaman rumah Julia, yang masuk desa klakah tersebut.


Mereka langsung turun, melihat kedatangan Julia, dan Kevin, juga Varo, Ibu Fatma sangat bahagia, dia langsung kehalamannya menyambut anak tunggalnya tersebut.


“Julia, Kevin, Kalian mendadak datang Nak,”


“Iya, Bu. Mas Kevin bilang, biar Varo, bisa lama main sama ibu dan ayah.” Jawab Julia tersenyum.


Kevin juga tersenyum, sambil membawa tas baju milik Julia, di bawa masuk kedalam.


“Kalian sehat semua Kan?”


“Ya bu.” Jawab Julia.


“Istirahatlah dulu, ibu mau masak untuk kalian,”


“Ayah kemana Bu?”


“Masih ke rumah pamanmu, sebentar lagi juga datang.”


“Ya sudah julia mau istirahat dulu.”


Mereka pun langsung masuk kamar dan istirahat, karena lelah, Kevin tertidur. Sedangkan Julia langsung keluar, setelah menidurkan Varo.


“Saya tidak capek bu,”


“Kamu baik-baik saja kan sama Kevin,”


“Iya bu, kenapa ibu bertanya seperti itu?”


“Perasaan ibu saja mungkin ya, sejak tadi pagi, ibu merasa gelisah dan jantung ibu berdebar-debar, tidak tahu apa penyebabnya.”


“Saya baik-baik saja, ibu jangan khawatir ya. Sekarang saya bantu masak, biar kita cepat makan malam. Karena saya juga sudah lapar.”


“Syukurlah Nak. Ya sudah ayo cepat bantu ibu,”


Julia tahu ikatan batin seorang ibu dan anak kuat, tapi julia ingin menutupi pertengkaran antara dirinya dan kevin semapam sebelum berangkat ke lumajang.


Tak lama kemudian Bapak Aris datang, melihat anak, menantunya datang, Bapak Aris senang.


“Loh ndok, kok mendadak datangnya? Ayah sampek terkejut, ada apa nih?”


“Tidak ada apa-apa Yah, kebetulan Mas Kevin ngajak kesini, ya sudah manut aja Yah.”


“Walah, Ayah pikir ada apa,”


“Julia, panggil Mas kevin dulu ya, kita makan bersama,” Ujar Julia.

__ADS_1


“Iya kamu panggil dulu Nak Kevin, setelah makan biar langsung istirahat lagi.”


Julia langsung ke kamar, membangunkan Kevin, setelah bangun mereka keluar untuk makan bersama, tapi sebelum itu, Kevin langsung menyalami Bapak Aris.


“Sehat Nak,”


“Iya Pak,”


“Syukurlah, ayo makan dulu,”


“Iya Pak.”


Mereka makan bersama, hanya Varo yang tidak ikut makan bersama, semua makan dengan lahap, selesai makan, Kevin duduk di ruang tamu, disusul Bapak Aris, dan Ibu Fatma juga Julia.


“Bagaimana orang tuamu di surabaya Nak, apakah semua sehat,”


“Iya Pak sehat,”


“Syukurlah, intinya sehat, biar banyak uang kalau sakit-sakitan pasti sedih juga.”


“Kamu dan julia jaga kesehatan ya,” sambung ibu Fatma.


“Iya, bu,” jawab Julia


“Bu, Kevin mau minta maaf sama ibu, juga sama Bapak, mungkin kedatangan Kevin jadi tanda tanya buat Bapak dan Ibu,”


“Iya, ada apa Nak?”


“Kevin mau mengembalikan Julia Bu, Pak!!!!”


Julia mengangkat kepalanya, terkejut, begitu juga Ibu Fatma dan Bapak Aris. Kata-kata mengembalikan membuat terkejut seisi ruangan itu.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2