Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Aku Bukan Barang


__ADS_3

...Pernikahan itu harus di pahami, bukan di buat sulit, bukan juga di permainkan, karena pernikahan itu amanah dan titip dari Allah...


 


Julia lemas, tubuhnya seperti di hantam batu besar, perkataan Kevin membuatnya langsung kehilangan kekuatan untuk terus bersabar dengan yang terjadi di dalam keluarganya.


“Maksud Nak Kevin, apa?” Tanya Bapak Aris gugup dan pelan. Karena sebenarnya Bapak Aris adalah laki-laki yang lembut, tidak pernah marah, dan selalu menerima apapun yang terjadi.


“Saya mau mengembalikan  Julia, Pak, dulu saya baik-baik memintanya, sekarang saya akan baik-baik mengembalikannya.” Ujar Kevin, tanpa gugup sedikitpun.


“Maksud Nak Kevin apa? Kenapa harus ada kata seperti itu, kalian bertengkar.” Bapak Aris masih belum mengerti, begitu juga ibu Fatma, merasa itu hanya bercanda saja.


“Mas, aku bukan barang, mudah kamu berkata seperti itu, “ Ujar Julia gemetar, yang tanpa terasa sudah menangis.


Ibu Fatma tidak dapat berkata apa-apa, dia hanya diam menangis menunduk, mendengar ucapan Kevin. Ibu Fatma, seakan di tampar keras, tamparan yang luar biasa kerasnya.


“Nak, apa kamu sudah memikirkan perkataanmu? Mengambil keputusan saat emosi itu tidak baik, kalian sudah 7 tahun menikah, kenapa tidak di pertahankan. Apa salah putriku Nak,” Ujar Bapak Aris, masih berharap itu tidak akan terjadi.


“Julia tidak salah Pak, hanya saja kita tidak cocok, dari pada saya kasar dan berlaku tidak adil, lebih baik saya kembalikan saja Julia, pada Bapak. Saya tahu ini sangat menyakitkan untuk keluarga ini. Tapi, saya juga tidak mau bertahan di dalam pernikahan yang tidak sesuai dengan keinginan saya.” Jawab Kevin, tegas dan tidak gugup, seperti semua sudah di rencanakan.


“Kamu tega Mas, seenaknya mengambil keputusan seperti ini, cepat pergi dari rumahku, dan ingat jangan pernah mengemis untuk kembali kepadaku,” Ujar Julia setengah berteriak. Kesal, marah, itu yang di rasakan Julia saat ini.

__ADS_1


Dia langsung berlari masuk kamar, memeluk Varo yang masih tertidur pulas. Air matanya terus menjadi teman kesedihannya. Menjadi saksi atas apa yang terjadi terhadap dirinya.


Sedangkan ibu Fatma menghampiri Kevin yang masih duduk di dekat Bapak Aris.


“Nak, silahkan pergi, bukankah kamu sudah memberikan Julia kepada kami, jika kamu masih disini akan membuat putriku sakit,” Ujar Ibu Fatma, pelan, sambil menangis.


“Maafkan Kevin Bu, Pak.” Ujar Kevin, seperti tidak merasakan bersalah, dan tenang sekali dalam berbicara.


“Kamu tidak salah, mungkin sudah taqdir anakku seperti ini. Kamu tahu jalan keluarnya, silahkan pergi dari rumahku.” Ujar Bapak Aris, lalu pergi.


Seorang ayah, pasti sangat terluka jika harus melihat putrinya di perlakukan tidak adil. Bahkan di antarkan tanpa pemberitahuan jika akan di cerai. Kevin, keluar dari rumah Julia, langsung masuk ke mobilnya. Dia tidak menyadari keputusannya sudah melukai wanita yang tidak bersalah. Bahkan keputusan Kevin sudah membuat luka untuk putranya Varo.


Ibu Fatma, membuka pintu kamar Julia, menghampiri dan memeluk putrinya.


“Apa yang sebenarnya terjadi Nak, apakah kamu menghianati pernikahanmu? Katakan pada ibu Nak,”


“Sumpah demi Ayah dan Ibu, aku tidak pernah menghianati pernikahanku, untuk berselingkuh atau apapun itu bu, kesalahanku hanya ada pada uang belanja bulanan, aku selalu salah bu, bahkan di anggap tidak pantas menjadi ibu rumah tangga,” Jelas Julia menangis pilu.


“Hanya itu kesalahan kamu, sehingga Kevin membuat keputusan yang membuat kamu terluka seperti ini Nak.” Ibu Fatma mengelus kepala putrinya. Dia tahu betapa hancurnya dirinya saat ini.


“Kalau aku tahu akan seperti ini Bu, aku akan berusaha bertahan dan memilih tidak mau pulang, yang aku pikirkan hanya Varo bu, bagaimana dia kalau bertanya Papanya kemana, dan apa yang akan aku jawab.” Masih bingung dengan situasi yang di hadapi.

__ADS_1


“Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuannya. Ibu yakin kamu mampu Nak,”


“Hanya, ibu dan Ayah milikku, aku dan Varo seperti di buang sama Mas Kevin. Sampai teganya dia berbuat seperti itu.”


“Kamu tidak usah khawatir Nak, meski tanpa Kevin ayah masih sanggup menafkahi kamu,” Ujar Bapak Aris yang tiba-tiba datang.


Seorang ayah yang sudah tua, tapi tidak akan pernah membiarkan anaknya di hina bahkan di kembalikan tanpa tahu alasannya. Ayah yang sejak kecil berusaha membahagiakan sang anak, meski dengan cara yang sulit di lalui, demi sesuap nasi. Tapi, setelah menikah, seakan di anggap tidak berarti lagi oleh suaminya.


Julia menangis terisak, dia tidak tega datang pada kehidupan orang tuanya kembali, kehidupan yang pas-pasan, yang sekarang di tambah lagi dengan kehadiran Varo.


“Ibu maafin Juali, Ayah, maafin Julia ya. Sungguh tidak ada niatan untuk terus merepotkan Ibu dan Ayah.”


“Nak, kamu tetap anak Ibu dan Ayah, meski sudah menikah dan punya anak. Jika kamu sedih kami juga ikut sedih, sekarang jangan mikir apapun. Yang terpenting kamu jaga Varo baik-baik, masalah makan biar Ibu dan Ayah yang mikir. Rejeki itu tidak akan jauh dari kita, dengan kamu pulang kerumah ini, ibu yakin rejeki kalian juga akan ikut kesini.”


“Iya Nak, kamu harus sabar, dan ikhlaskan semuanya.”


“Tapi aku masih tidak habis pikir dengan Mas Kevin, hanya gara-gara uang yang sudah jelas-jelas buat kebutuhan sendiri, dia tega mengantarkan Julia pulang, bahkan tidak perduli dengan Varo.” Batin Julia.


Sangat sedih sekali, tapi kenyataan sudah ada di depan mata, dirinya benar-benar di campakkan oleh kevin.


“Tapi kamu tidak selingkuh kan Nak?” Tanya bapak Aris, masih meyakinkan diri, bahwa takut Julia salah dan menghianati keluarganya.

__ADS_1


“Ayah demi Tuhan, demi Ayah dan Ibu, Julia tidak selingkuh, kesalahan Julia hanya terletak pada keuangan. Julia tidak tahu kenapa Mas Kevin langsung sebegitu marahnya, padahal jatah keuangannya juga di bagi dengan Ibunya sendiri. Julia sudah cukup sabar Yah, tidak pernah membicarakan kepada siapa-siapa, meski Julia sering di salahkan. Berhutang bukan kemauan Julia, tapi karena kebutuhan yang mendesak. Sekarang Julia harus memikirkan masa depannya Varo, Julia tidak mau lagi menikah, karena Julia sudah sangat kecewa dengan pernikahan Julia. “ Jelas Julia dengan mata yang sudah sembab karena menangis.


Bapak Aris dan Ibu Fatma menatap sedih kearah putrinya, yang tiba-tiba terdengar dering telepon. Mata Julia menatap kesal layar Handphonenya, penelpon yang membuat Julia marah, bahkan sangat marah.


__ADS_2