Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Berusaha Tersenyum Meski Hati Hancur


__ADS_3

Ketika yang kita cintai benar-benar pergi, saat itu hati kita bagai diris belati yang sangat tajam. Sakit sangat sakit, karena yang kita harapkan benar-benar sudah pergi dan tidak kembali lagi. Persaan cinta yang masih ada, harus benar-benar di paksa untuk pergi dan mulupakan semuanya.


Julia harus bisa membedakan, mana tempat yang pantas untuk menuai kesedihannya. Karena saat ini tugasnya menjaga geffie belum selesai. Sesudah sampai, Julia langsung mengajak Geffie masuk, sedangkan Irwan menatap cemas karena Julia yang tiba-tiba menangis dan wajahnya berubah sedih.


"Ada apa dengan Julia?" Batin Irwan. Tapi Irwan tidak bisa bertanya, karena menjaga diri untuk tidak sopan dan menghormati Julia.


"Kamu memperhatikan Julia ya?" Tanya Pak Man yang tiba-tiba membuat Irwan terkejut.


"Kasihan Pak. Saya lihat dia sedang sedih, pas terakhir lihat Handphonenya. Apa dia sedang ada masalah ya Pak.?"


"Waduh kalau itu Bapak tidak tahu, coba nanti kamu tanya sama Naila, dia itu sahabatnya. Jadi tahu julia kenapa,"


"Gitu ya Pak,"


"Iya,"


"Tapi, saya malu pak."


"Cowok kok malu, kalau malu, kamu pasti kalah saing nantinya."


"Sama siapa pak?"


"Siapa tahu dia ada pacar di kampung,"


Ucapan Pak Man membuat Irwan diam, memikirkan perkataan Pak Man yang ada benarnya.


"Bener juga ya Pak. Ah biar nanti Irwan tanya Naila, moga aja Naila mau bantu."


"Selamat berjuang ya, hehehe."


Pak Man pun pergi, sedang irwan kembali ke pos satpam, dan duduk di dekat Pak putu.


"Kenapa lesu?" Tanya Pak Putu. Satpam yang sudah sepuh itu.


"Tidak apa-apa Pak, capek saja."


"Anak muda kok capet, bilang saja kamu lagi patah hati,"


Ledek Pak Putu, membuat Irwan tertawa.


"Pak Putu ada-ada saja."

__ADS_1


Di dalam, julia langsung menyiapkan baju ganti untuk Geffie, setelah menyuruh Geffie mandi, Julia keluar dan duduk di ruang bersantai, depan kamar Geffie.


Ingatannya kembali ke Kevin, yang sudah membuatnya hancur. Tidak banyak yang dapat dia bicarakan, dia hanya diam, karena mulutnya terasa di kunci.


Pikirannya berjalan jauh ke masa lalu yang indah bersama Kevin, yang saat ini sudah hancur dan tidak dapat di sambung kembali. Kehilangan Varo, kehilangan Kevin, membuatnya kehilangan semangat.


"Kamu lagi sedih jul?" Tanya Geffie yang tiba-tiba ada di dekat Julia.


Julia menoleh kearah Geffie. Menghapus air matanya. Dan menggelengka  kepadanya. Julia harus menyembunyikan kesedihannya, karena bagaimanapun dirinya masih menjadi contoh untuk Geffie, agar Geffie mau bangkit dan pulih dari depresinya.


"Ingat ibu saja," ujar julia, tersenyum di balik kesedihannya.


"Kamu kangen ibu kamu ya?"


"Iya," jawab Julia masih berusaha menahan tangisnya.


"Berhenti menangis, nanti kamu akan jelek sekali Jul."


"Iya, Jul akan berhenti menangis, tuan istirahat ya, ini sudah waktunya tuan tidur siang."


"Kamu temani aku ya, nyanyiin lagu buatku, biar aku bisa tidur." Ujar Geffie, masih dengan bahasa anak kecil.


"Iya, ayo sekarang Julia antar kekamar."


"Kamu udah tadi datang?"


"Iya,"


"Wajahnya kenapa sedih gitu?"


Julia tidak menjawab, dia langsung memeluk Naila dan menangis sejadi-jadinya. Naika terkejut, sekaligus heran dengan Julia.


"He, he, ada apa ini? Kok datang-datang nangis?"


"Mas Kevin Jul," jawab Julia.


"Iya, kenapa Kevin?"


Julia memperlihatkan pesan watshapnya, yang membuat Naila kesal juga.


"Tuhan, jadi suami kamu benar-benar sudah menceraikan kamu? Tanpa ada pembelaan dari kamu?"

__ADS_1


Julia mengangguk, dia tidak bisa bicara apa-apa, kecuali meratapi kesedihannya.


"Kamu bilang mau melupakan Kevin, kok masih menangisinya. Sudah diem, kamu jangan bodoh, banyak laki-laki yang perhatian dan lebih baik dari kevin, jadi kamu berhenti menangis atau sedih terus menerus. Hidup itu pilihan, tetap bertahan akan sakit hati, melupakan memang sulit, tapi bisa membuat kamu tenang nantinya. Masalah Varo, dia tidak akan memanggil kamu Mbak, nenek atau Tante. Suatu saat nanti Varo akan datang memcarimu, dan akan memanggil kamu ibu. Yang terpenting kamu sekarang harus kuat, semangat, ikhlas. Ubah Penampilan kamu, sudah saatnya buktikan kalau kamu bisa jadi wanita hebat. Dan buat Kevin bertekuk lutut meminta maaf kepadamu.” Ujar Naila, iba kesal bercampur aduk. Karena Naila kasihan melihat Julia sedih.


“Terimakasih Jul, kamu selalu memberikan aku semangat, aku akan belajar ikhlas dengan semua ini. Melupakan dia dan berusaha tegar. Demi ibu, ayah, Varo.” Ucapan Julia meyakinkan.


“Jangan Cuma di mulut kamu berkata seperti itu, tapi di hati kamu juga. Kamu harus membuang perasaan yang sudah tidak pantas kamu berikan kepada Kevin.” Ujar Naila dengan wajah kesal.


“Kamu marah?” Tanya Julia menyipitkan matanya.


“Gak, Cuma kesal punya teman gak bisa di kasik tahu,” Jawab Naila manyun.


“Heheheh, iya janji mau nurut apa kata kamu.”


Mereka tertawa, saling pukul. Tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul 16.00, waktunya Geffie bangun, minum obat dan mandi.


Julia berlari kelantai bawah, sesampainya di kamar Geffie, Julia tersenyum melihat Geffie sudah memakai baju. Kemeja dan celana pendek. Terlihat tampan sekali, Julia menghampiri nya.


“Wah sudah mulai mandiri sekarang,” puji Julia.


“Iya, aku harus pintar, biar aku bisa nyenengin Mama. Aku tidak mau Mama sedih. Seperti kamu sedih karena anak kamu pergi.” Ujar Geffie dengan gaya kekanak-kanakan.


“Pinter, janji sama Julia, tuan tidak akan cengeng, belajar berani, dan harus kuat menghadapi apapun yang terjadi. Dan sebisa mungkin melindungi Mama dan menghibur nya.”


“Siap,” jawab Geffie memberi hormat.


Mereka langsung ke ruang makan, karena Eyang sudah menunggu di sana. Setelah mengantar Geffie Julia kedapur, makan bersama dengan para pelayan yang lain.


“Jul, kamu berbakat jadi dokter spesialis kejiwaan,” ujar Mbok Mang,


“Maksud Mbok Mang?”


“Lah tuan Geffie, cepat sekali perubahan nya. Aku yakin sebentar lagi dia sembuh, dan sadar kalau sudah bertahun-tahun sakit jiwa.”


“Semoga saja Mbok, saya berharap yang terbaik saja. Kalau saya kan kerja karena di gaji, jadi sebisa mungkin saya akan mengerjakan dengan hati-hati dan sebisa mungkin membantu penyembuhan Tuan.”


“Semoga kamu sukses Jul,”


“Amin.” Jawab Julia. Mereka masih berbincang-bincang lama sekali. Dan setelah itu kembali bekerja dengan tugas masing-masing.


Jam menunjukkan pukul 21.00 karena lelah, Julia tertidur di sofa, depan kamar Geffie. Sedangkan Geffie sudah tertidur pulas di kamarnya.

__ADS_1


Capek pikiran, capek tenaga, dan lelah dengan drama seharian, akhirnya mata Julia tidak mampu menahan kantuk.


Setelah pagi menjelang, Julia dengan sendirinya terbangun. Dan saat membuka matanya, Julia menjerit, terkejut, dan panik.


__ADS_2