Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Kehilangan Untuk Kedua Kalinya


__ADS_3

Sekecil apapun sebuah barang, jika sangat disukai pasti akan terus di jaga. Apalagi kehilangan orang yang paling berharga. Tidak ada yang mampu menggantikan semua itu, kecuali hilang karena pergi untuk selamanya.


Ibu Fatma, menatap sosok yang berdiri di depan pintu.  Seketika membuat ibu fatma terkejut, sekaligus marah.


“Dimana Varo, Bu?” Sosok yang membuat Ibu Fatma mengutuknya. Karena Ibu Fatma tahu, kesalahan Kevin yang sudah merendahkan Julia dan menyerahkan secara langsung tanpa berbicara atau mendengar penjelasan Julia.


“Untuk apa kamu kesini? Bukankah kamu sudah membuang mereka berdua.”


“Saya mau menjemput Varo bu. Dia anak saya, dan saya punya hak atas Varo.”


“Tapi ibu tidak mengizinkan jika kamu membawa Varo.”


“Kalau ibu tidak mengizinkan, saya akan rampas Varo dengan paksa, Atau melaporkan ibu ke polisi.” Ujar Kevin pelan tapi menyakitkan


“Julia ibunya, dia yang lebih berhak.”


“Hahaha, ibu ini aneh. Ibu macam apa yang meninggal anaknya. Saya tahu bu, kalau Julia pergi bekerja. Jadi saya akan mengambil hak asuh Varo.”


“Dia bekerja untuk Varo, jadi kamu tidak berhak menghakimi dia dan mengambil Varo tanpa izin darinya.” Jawab Ibu Fatma. Merasa heran karena Kevin tahu kalau Julia pergi bekerja.


“Saya ayahnya bu, banyak yang perduli pada saya, karena saya yang di bohongi.” Ujar Kevin. Dengan nada keras yang membuat Bapak Aris terbangun, begitu juga Varo.


Varo yang melihat Papanya langsung berlari keluar, dan memeluknya.


“Papa, Varo kangen papa.”


“Papa juga kangen.” Kevin langsung menggendong Varo.


Ibu Fatma dan Bapak Aris tidak bisa berkata apa-apa. Mereka tidak ingin Varo kecewa.


“Papa, jemput Varo sama mama kan?”


“Iya Nak, tapi Mama masih cari uang banyak buat beli mainan kamu.”


“Ya udah, Varo ikut Papa pulang dulu ya,” Ujar Varo.


Seketika membuat kedua orangtua Julia sedih. Tapi, tidak mampu mencegahnya. Kevin lebih berhak atas Varo.

__ADS_1


Kepergian Varo membuat luka di hati Bapak Aris, dan ibu Fatma. Bingung, takut Julia marah. Apalagi Julia baru berangkat ke bali. Dan mungkin masih belum sampai ketempat tujuannya.


“Kenapa Bapak tidak mencegahnya?” Tanya Ibu Fatma sambil menangis.


“Dia ayahnya, yang lebih berhak atas Varo. Percuma aku bicara, yang ada hanya kecewa nantinya. Bapak tidak mau di lawan, apalagi sama kevin. Bapak takut marah, dan akan memperkeruh keadaan.”


Jawab Bapak Aris pelan, tapi terlihat jelas, matanya berkaca-kaca. Sebenarnya hancur dan kehilangan, dalam posisi apapun, semua akan menjadi salah jika sudah berhubungan dengan ayah atau ibu kandungnya sendiri.


Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi hari. Sedetikpun ibu Fatma dan Bapak Aris tidak tidur. Mereka merasa bersalah dan takut Julia tidak menerima Varo di bawa Kevin.


Bunyi Handphone berdering keras, Handphone jaman dulu yang tidak ada aplikasi Wathsapp dan Facebook itu. Sangat usang, tapi mereka bersyukur bisa memiliki Handphone itu.


Bingung, Bapak Aris tidak langsung menerima panggilan itu. Karena yang menelpon Julia.


“Angkat saja Pak. Kita harus bicara dengan Julia.”


“Aku tidak tega bu, kamu saja yang bicara.” Ujar Bapak Aris.


Langsung Ibu Fatma menerima panggilan itu. Tangannya gemetar, bingung mau bicara apa.


“Assalamualaikum, bu.”


“Julia sudah sampai bu, bagaimana Varo Bu?”


Diam, sunyi, tanpa jawaban. “Ibu baik-baik saja,”


“Eh, i i i ia. Ibu baik Nak. Hanya saja!!!” diam lagi, tidak bisa berkata apapun.


“Hanya kenapa bu?”


“Varo dibawa Kevin.” Jawab nya gugup. Membuat Julia terperangah.


“Nak,,,”


“kenapa ibu izinkan?” Suara Julia sedih.


“Ibu dan ayahmu sudah menghalangi, tapi, ibu di ancam akan di laporkan polisi.”

__ADS_1


“Tuhan, kejam sekali Kevin.”


“Varo yang minta ikut Nak. Dia kangen Papanya, makanya Ibu tidak bisa mencegahnya.”


“Aku kalah bu, tapi suatu saat aku akan mengambil Varo lagi.”


“Kamu harus sabar Nak. Dia anakmu, suatu saat dia akan datang mencarimu sendiri.”


“Iya bu. Julia akan fokus kerja saja.”


“Sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan, kecuali berdoa dan pasrah dengan apa yang Tuhan kehendaki.” Ujar Ibu Fatma, yang berusaha tegar meski sebenarnya terasa sesak dadanya. Karena Varo adalah miliknya setelah Julia pergi merantau.


Julia tidak menjawab, memilih diam, hingga akhirnya panggilan terputus. Ibu fatma paham, Julia butuh waktu untuk menenangkan diri. Apalagi dia berada di kota orang, yang harus bisa menghadapi kenyataan pahit kehidupannya.


Jam menunjukkan pukul 07.00, seorang wanita tua duduk di taman belakang rumah itu. Julia bersama Naila menghadap pemilik rumah besar itu.


“Selamat pagi Eyang,” Sapa Naila sopan.


“Pagi,” jawab wanita tua itu menoleh.


“Eh, Naila, kamu udah kembali. “ Ibu komang, yang sudah sepuh dan biasa di panggil Eyang.


“Iya Eyang, ini Julia, yang Eyang butuhkan.”


“Terimakasih, kamu panggil saya Eyang saja, dan tugas kamu disini hanya menemani putra saya, dia sedang sakit. Bahkan bisa di bilang tidak pernah sembuh. Sudah banyak yang menjadi suster nya. Tapi, tidak ada yang kerasan. Asal kamu sanggup dan mau bersabar, aku gaji kamu 10 juta. Selama satu bulan ini aku akan gaji kamu 5 juta, jika kamu mau lanjut aku siap menaikkan gajimu.” Jelas Eyang. Julia terkejut, selama ini dia kesulitan mencari uang sebanyak itu. Dan kali ini Julia punya kesempatan mendapatkan gaji yang besar.


“Tapi, bagaimana dengan pembantu yang lain Eyang? Kalau gajinya tidak sama, saya takut mereka akan memusuhi saya.” Ujar Julia, karena khawatir akan menjadi masalah.


“Kamu tenang saja. Mereka tidak ada yang mau mengurus anakku, maka dari itu kamu coba dulu satu bulan saja. Siapa tahu anakku menurut sama kamu.” Eyang mencoba menjelaskan, dan memberikan pemahaman kepada Julia.


Naila juga tidak pernah bercerita apa sebenarnya sakit tuanya. Karena ingin tahu, Julia meminta untuk di antar ke kamar putra Eyangnya itu.


Ada perasaan takut yang tiba-tiba menyelimuti pikiran Julia. Saat Eyang membawa Julia masuk keruangan bawah tanah, tangganya lumayan panjang. Dan ketika sampai di bawah, ruang nan megah, terang seperti di luar ruangan. Dan setelah berjalan lebih jauh, teras ruangan itu menghadap ke lautan luas, rumah yang berdiri megah berada di atas tebing.


Berlahan, Eyang membuka kamar dekat pintu yang menuju ke teras. Dan saat di buka, Julia terkejut, badannya gemetar. Melihat sosok laki-laki tanpa baju, hanya menggunakan celana boxer saja. Tidak terlihat sakit, tapi kenapa di katakan sakit, apa sebenarnya yang terjadi. Seperti misteri, Julia masih seperti patung, mengatur nafas. Dan berusaha berani dengan keadaan ini.


“Eyang, sakit apa Tuan muda?” Tanya Julia gugup

__ADS_1


“Dia patah hati, 10 tahun yang lalu, waktu dia kuliah di Australia, sejak saat itu, dia tidak punya tujuan hidup, dan dokter bilang anakku Gila!!!!”


__ADS_2