Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
100% Berubah


__ADS_3

Orang kaya bebas melakukan apapun, itu menurutnya, tanpa sadar sudah melukai orang yang tidak mampu, meski itu hanya ucapan.


“Tuan, kenapa memukul Julia,” Ujar Julia keras, sambil mengelus tangannya yang sakit, karena di pukul sapu dengan keras.


“Kamu pikir ini rumah kamu, aku tidak suka kalau sofa kesayanganku kamu tiduri, kamu itu siapa disini. Pikir!” Ujarnya dengan nada marah.


Julia tidak lagi bicara, dia masih seperti mimpi, melihat sikap Geffie yang  angkuh dan jika bicara kasar.


“Apa lihat-lihat aku seperti itu, cepat pergi.”


“Baik Tuan,” Julia tidak bicara banyak, dia langsung pergi menuju kamar di sebelah kamar Geffie. Saat hendak masuk, Julia di kagetkan lagi oleh suara Geffie.


“Hei, ngapai kamu masuk kesitu, itu ruangan buat tamuku, kamu tidak sopan sekali ya,” Teriak Geffie lagi. Julia langsung menoleh. Kali ini Julia harus bicara.


“Tuan sudah sembuh ya, kenapa lupa kalau saya tidur disini. Jangan marah-marah Tuan, saya akan ambil baju saya, setelah itu saya pergi,” Ujar Julia dengan nada pelan. Karena Julia tahu siapa Julia dan siapa Geffie.


“Kamu pikir aku sakit apa? Kenapa kamu sampai menjagaku, cepat pergi.”


Julia tidak menjawabnya lagi, dia langsung mengambil baju-bajunya setelah itu pergi meninggalkan Geffie. Sampai di lantai atas, ada Eyang di ruang keluarga, Julia langsung menghampiri nya.


“Eyang,”


“Eh Julia,  loh mau kemana kamu? Kenapa baju kamu di bawa semua?”


“Tuan marah Eyang, dan tidak ingat kalau say merawatnya, sekarang mengusir saya.” Jawab Julia.


“Maafkan Eyang ya, Eyang lupa kalau Geffie sudah normal, depresi nya sudah benar-benar sembuh. Dokter bilang dia sudah kembali normal. Makasih ya Jul, saya lelah, makanya tadi saya langsung duduk disini.”


“Syukurlah Eyang, itu artinya Julia sudah selesai pekerjaannya, jangan pecat Julia ya Eyang, tidak apa-apa di gaji murah,. Asal Julia tetap bekerja.” Ujar Julia polos. Eyang hanya tersenyum melihat kepolosan Julia.


“yang mau mecat kamu siapa? Kamu akan tetap bekerja, ngurus Geffie, ya bisa di bilang jadi asisten Geffie. Karena Eyang takut hal buruk akan menimpa Geffie lagi.”


“Tapi Eyang, kalau Tuan Geffie tidak mau?’”


“Kamu akan tetap bekerja disini, itu aja. Sekarang kamu letakkan baju kamu di kamar Naila. Kamu tidur sama dia ya.”


Terimakasih Eyang, sekali lagi terimakasih.”


“Justru aku yang terimakasih, kamu sudah membantu kesembuhan Geffie. Aku berhutang Budi padamu Jul, seperti yang aku janjikan, aku akan memberikan bonus untuk kamu. Tapi sekarang kamu letakkan dulu tas kamu ya.”


“Baik Eyang,”


“Jangan lupa setelah menaruh barang kamu, buakan aku jahe anget, bawa kemari.”


“Dengan senang hati Eyang.”

__ADS_1


Julia langsung pergi, meletakkan semua barang di kamar Naila, setelah itu ke dapur untuk membuat minuman yang di minta Eyang.


“Nai, mulai sekarang aku mau tidur di kamar kami,” Ujar Julia sambil menyiapkan pesanan Eyang


“Lah Tuan bagaimana? Dia kan tidak mau kamu tinggal.”


“Tuan Geffie sudah sembuh dan sakit jiwanya juga sudah sembuh, maka dari itu aku di usir sudah, karena tidak di kenal lagi.”


“Apaa, jadi bener nih Tuan sudah sembuh?”


“Iya, dia sudah sembuh, aku sudah tidak perlu menemaninya.”


“Eyang pasti senang, wah, ada yang mau dapat bonus nih,”


“Kalau itu aku tidak tahu, sekarang aku temui Eyang dulu. Dia minta jahe anget,”


“Nanti ceritakan ya, kalau Tuan sembuh seperti apa?”


“seperti singa,” Jawab Julia lalu pergi.


Naila bengong, mendengar ucapan Julia.”Apa ganti Julia yang gila ya,” Human Naila, geleng-geleng kepala.


Setelah sampai di ruangan keluarga, Julia langsung meletakkan segelas Jahe anget.


“Kamu duduk, aku mau bicara penting sama kamu,”


“Baik, Eyang.” Julia duduk di lantai, tapi Eyang menyuruh duduk di kursi.


“Kamu tidak perlu duduk di bawah, kita sama-sama manusia bukan.”


“Iya, Eyang.”


“Aku mau bilang, kalau misalnya ada sikap Geffie yang tidak sopan selama sakit, maafin ya, karena aku tahu sikap kamu ke Geffie benar-benar tulus mengasuhnya seperti anak kecil. Menyayangi Geffie, jadi maafkan semua kelakuan dia yang tidak pantas sama kamu. Karena dia sudah sadar, di akan berubah, sikap dia itu kasar, tapi baik. Anaknya tidak suka kotor, barang apa yang menjadi kesukaan nya tidak boleh di pegang. Pokoknya dia itu sangat disiplin. Semoga saja dia bisa ingat kalau kamu yang banyak menolong agar cepat pulih.” Ujar Eyang, sambil menjelaskan sifat Geffie.


“Saya pribadi tidak marah Eyang, justru saya senang Tuan sudah sembuh, itu artinya akan ada yang memperhatikan Eyang, dan akan ada yang membantu Eyang mengurus semua nya.”


“Kamu benar, oh iya, ini untuk kamu, tolong di terima ya, meski hanya sedikit,. Aku yakin ini berguna untuk kamu,” Ujar Eyang, sambil menyodorkan amplop, entah berisikan apa, uang atau kertas.


“Tidak usah Eyang, saya cukup menerima gaji saja. Jangan di tambahi lagi.” Julia menolak, karena sebenarnya gajinya saja sudah sangat besar.


“Tidak, janji adalah hutang, jadi kalau aku tidak menepati, maka akan ditagih sampai kapanpun.” Ujar eyang, sambil meletakkan amplop itu ketangan Julia.


“Tapi Eyang,!”


“Kalau di tolak, aku akan memecat kamu,” Ujar Eyang serius.

__ADS_1


“Terimakasih, Eyang.” Julia menyalami Eyang.


“Kamu boleh pergi, bantu Naila menyiapkan makan. Kamu kan sudah tahu kesukaan Geffie. Jadi kamu masakkan Geffie Sekarang.”


“Baik Eyang,”


Julia pergi, dia langsung kekamar Naila, meletakkan amplop itu kedalam tasnya, tidak di lihat apa isinya, karena harus menyiapkan makanan untuk Geffie.


Semua sudah di masak oleh Naila dan Julia. Setelah selesai, semu makanan di tata rapi di ruang makan. Bermacam buah juga tersedia dimeja, dan jus jambu kesukaan Geffie juga Julia buatkan. Karena sudah selesai menghidangkan, Julia memanggil Eyang, setelah itu memanggil Geffie kekamarnya.


Tok tok tok... Pintu terbuka.


“Tuan, di panggil Eyang, untuk makan.” Ujar Julia sopan.


“iya,” jawabnya datar, Julia langsung pergi.


Geffie yang belum memakai baju, hanya telanjang dada, membuat Julia harus cepat pergi. Tidak pantas rasanya jika harus berlama-lama, apalagi Geffie sudah sembuh


Tak lama Geffie keruang makan, masih tidak mengenakan baju. Eyang terkejut melihat putranya tidak memakai baju.


“Kenapa tidak pakai baju?”


“Geffie cari baju lengan pendek bingung Ma, soalnya isinya banyak.”


“kenapa tidak tanya Julia,”


“Males kalau harus berurusan dengan perempuan. Geffie tidak percaya perempuan lagi. Kecuali Mama.”


“Tapi di yang tahu semu baju kamu,”


“Kenapa harus dia?”


“Kamu akan tahu bagaimana dia merawat kamu, nanti mama perlihatkan.”


“Ah tidak penting Ma. Sudah lah Geffie cari sendiri saja. Mulai sekarang Geffie minta yang melayani Geffie orang laki-laki saja.” Ujarnya tegas. Tidak heran jika Geffie malas berurusan dengan perempuan, karena trauma dia sudah disakiti.


Tak lama Julia datang membawa segelas susu untuk Eyang, meletakkan di dekat eyang.


“Jul, tolong Tuan muda ambilkan baju ya,”


“Baik Eyang,”


“Tidak perlu, saya tidak butuh kamu,” Jawabnya ketus.


Ada kesal dihati Julia, dengan sikap Geffie, tapi dia tahu  kalau dirinya hanya seorang pembantu.

__ADS_1


__ADS_2