Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Kemarahan Geffie


__ADS_3

Ketika kesal, dan dendam menguasai diri, semua terasa seperti musuh. Seakan tidak ada yang baik baginya, yang ada hanya kemarahan saja. Marah yang belum bisa di pendam, marah yang bisa menyakiti perasaan orang lain.


“Kamu pikir aku bodoh, kamu pikir aku anak kecil, dan kamu pikir aku ini anak yang tidak bisa melakukan apapun sendiri, Kamu wanita yang sok tahu.”Teriak Geffie.


Julia sangat takut, nada Geffie memuncak, tidak ada pelan sedikitpun.


“Bukan begitu tuan,” jawab Julia pelan, dan gugup.


“Aku benci melihat kamu, silahkan keluar, perempuan sama saja, sok baik padahal ada maunya.” Ujar Geffie lagi, Julia sangat kesal dengan ucapan Geffie.


“Saya kesini hanya disuruh memanggil Tuan, maaf kalau saya salah. Permisi,” Julia langsung pergi, dia tidak ingin ikut marah, meski sakit hati dengan ucapan Geffie.


Geffie sudah sembuh, tapi hatinya tetap merasakan sakit karena di hianati oleh April pacarnya. Geffie seperti membenci perempuan muda yang seumuran April. Dia mengira semua wanita sama. Dan seperti mengutuk diri untuk tidak dekat dengan wanita lain.


Julia tergesa-gesa, sampai-sampai menabrak Naila.


“Kamu kenapa Jul? Kayak di kejar hantu saja,” Naila heran.


“Tuan Geffie ngamuk lagi, padahal aku gak salah,”


“Apa Tuan memang punya sifat seperti itu ya?”


“Mana aku tahu, kamu kan lebih lama kenal dia.”


“Meski lebih lama, tapi kan aku sampai disini, sudah kayak gitu keadaan Tuan,” jawab Naila.


“Pemarah, dan sombong,”


“Sssst.. kamu jangan bicara begitu, nanti dia dengar. Ayo kita kedapur, bawakan gelas ini.”


“Biatkan saja dia dengar, kenyataanya dia begitu, waktu sakit saja manjanya minta ampun, minta di keloni, minta di mandiin. Pokoknya kalau dia aku rekam pasti malu sudah marah-marah sama aku,” ujar Julia kesal.


Naila menyeret tangan Julia, dibawanya kedapur. Karena takut didengar Geffie.


Di meja makan, Eyang menunggu Geffie lama sekali. Tak lama Geffie datang dengan baju kemeja kotak-kotak warna merah, yang tidak pernah di pakai sejak sakit. Eyang melihat dengan rasa kasihan. Dan memikirkan harus mengganti semua baju Geffie.


“Pagi, Ma.” Sapa Geffie, mencium pipi Eyang.


“Pagi juga sayang, kita sarapan dulu, ada bubur ayam, ada bubur kacang hijau, kamu tinggal pilih.”


“Iya, Ma. Geffie sarapan bubur ayam saja Ma,”

__ADS_1


Eyang langsung mengambilkan bubur ayam untuk Geffie. Mereka sama-sama sarapan bubur Ayam. Terasa berbeda rasa bubur ayam di pagi itu. Lebih enak dan berasa sekali. Geffie juga kelihatan lahap, sampai nambah dua kali.


Eyang memencet bell di bawah meja makan, tandanya Eyang memanggil pelayan yang bagian memasak untuk menghadap.


Tak lama Naila datang, menghampiri Eyang.


“Iya, Eyang,”


“Kamu yang masak bubur ayam ini?”


“Bukan Eyang. Tapi Julia,”


“Buburnya enak. Geffie sampai nambah.”


Geffie tidak menoleh kearah Naila, waktu mendengar nama Julia, Geffie berhenti makan. Meletakkan bubur itu lalu menyuruh membawanya pergi.


“Kamu bawa bubur itu kedapur, aku tidak mau dia memasak lagi untukku. Paham,” ujar Geffie, dengan nada tidak suka.


Eyang hanya diam, dia tahu apa yang terjadi pada putranya, masih harus di beri nasehat, agar bisa menghargai orang lain.


“Nai, bawa ya, kita sudah selesai makan,”


“Baik Eyang,”


“Geffie, kita beli baju ya nak, semua baju yang dilemari kamu, berikan sama yang membutuhkan saja.”


“Boleh, Geffie mau bekerja Ma,”


“Urus saja villa kita, mama juga sudah tua,”


“Geffie mau belajar dulu, dan mau melihat bagaimana cara mengurus atau mengelola Villa dengan baik.”


“Ada Pak Wayan, yang akan mengajari kamu, biar nanti Pak Wayan Mama suruh kesini. Sekarang kita ke Mall dulu, kita cari baju untukmu.”


“Baiklah Ma.”


Sarapan pagi yang luar biasa, pagi ini Eyang sangat menikmati makanan yang di buat oleh Julia, begitu juga Geffie. Hanya saja Geffie terlihat masih angkuh, belum bisa menempatkan mana sisi baik dan mana yang buruk.


Semua dianggap sama, meski sudah berlalu dari sekian tahun. Perasaan bencinya masih melekat di hati Geffie.


Jam menunjukkan pukul 10.00, setelah mampir ke Villa sebentar, Eyang dan Geffie langsung ke Mall Bali Geleria, yang di kenal MBG.

__ADS_1


Setelah lama tidak ke Mall, Geffie terlihat bingung, karena sudah banyak yang berubah.


“Kamu bingung?”


“Iya, Ma. Suasananya sudah banyak berubah,”


“Lambat laun, kamu akan terbiasa. Jadi jangan takut untuk melangkah.”


“Iya, Ma. Hanya Mama yang bisa membuat Geffie kuat,”


“Kamu harus semangat. Sudah sepuluh tahun berlalu, umur kamu sudah 32 tahun, jadi Mama harap kamu bisa melewati semuanya dan harus bisa bersikap baik tidak boleh dendam atau benci pada siapapun. Karena itu akan membuat kamu kehilangan banyak teman dan rekan. Kamu harus bisa mengkondisikan situasi. Biarpun itu perempuan muda atau tua, kamu harus bisa menghadapi. Karena tidak semua wanita itu sama.” Ujar Eyang, menasehati Geffie.


Geffie diam, antara mendengar kan dan mencerna semua omong eyang, atau malah dia menutup telinga untuk tetap bersikeras membenci wanita.


Semua belanjaan sudah di bawa ke mobil oleh Pak Man, di bantu Irwan. Begitu banyak baju yang di beli, dan keperluan lainnya.


Geffie tidak banyak bicara, dia memilih diam. Masih banyak yang perlu di pelajari dalam hidupnya. Karena sepuluh tahun bukan waktu sebentar. Seperti orang bersembunyi, ketika keluar sudah terlihat berbeda di lingkungan hidupnya.


“Irwan, kamu bantu bawa kekamar ya,”


“Baik Tuan,”


Segera Irwan membawa barang belanjaannya. Karena sangat banyak, Irwan harus kembali lagi untuk membawa semua barang Irwan.


Sesampainya di kamar, Geffie terkejut melihat Julia yang membersihkan kamar Geffie, juga Naila yang sibuk mengeluarkan semua baju. Sedangkan Julia menata di tas


“Kenapa kalian berani masuk tanpa aku suruh,” Teriak Geffie.


Julia dan Naila terkejut. Dan langsung berdiri.


“Eyang yang menyuruh kami Tuan,” Jawab Julia dan Naila gugup.


Geffie tidak bicara apapun, dia langsung pergi, menemui Eyang di ruang kerjanya.


“Ma!!”


Dengan wajah datar, tanpa senyum


“Ada apa?” tanya Eyang pelan, masih fokus pada komputernya.


“Pecat Julia dan Naila,”

__ADS_1


Eyang langsung berdiri, yang dikatakan Geffie, membuat Eyang sok. Dua wanita jujur, yang sudah Eyang percaya. Apalagi Julia, dia yang berhutang Budi pada kesembuhan Geffie.


__ADS_2