Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Sakit Hati


__ADS_3

Bertemu buah hati, adalah kebahagiaan bagi seorang ibu yang sudah melahirkannya, terpisah karena keadaan yang tidak diinginkan sama sekali. Sakit hati karena tidak bisa memiliki. Dan untuk sekian kalinya harus menangisi keadaan yang menyiksa diri. Hanya bisa berharap akan ada keajaiban datang.


Julia, mengajak Naila menemui para petugas bank koperasi, yang biasa nongkrong di dekat rumahnya. Tentang Julia terkejut melihat Julia, yang dipikir sudah lari dari tanggung jawab.  Tapi, ternyata Julia datang mempunyai etikad baik untuk membayar.


Manusia hanya bisa menuduh, dan menghina saat tetangga yang satu banyak hutang. Tanpa tahu apa kebutuhan hidupnya. Mungkin mereka belum merasakan apa yang dinamakan kekurangan atau kebutuhan mendesak. Bagi mereka menghina dan merendahkan orang lain seperti sifat terpuji.


Mengolok-olok, sekan bagi para penghutang tidak punya perasaan. Mereka hanya bisa menilai tanpa tahu semu permasalahan.


Bahkan banyak dari kalangan masyarakat yang memusuhi para penghutang. Meski dirinya bukan yang dihitungi. Bisa dikatakan si penghutang seperti sampah tidak dianggap manusia yang layak di hormati.


Sifat manusia yang tidak pernah puas, jika melihat tetangga atau saudara, jika kaya dimusuhi jika miskin dihina.


“Lah, Nak. Katanya sudah di pulangkan, karena tidak mau bayar hutang, kok mendadak datang?”


“Kata siapa Bu?” Tanya Julia mengernyitkan dahi nya.


“Mertua, Nak Julia,” Jawab Tetangga Julia si penjual nasi.


“Sampaikan pada Ibu Anisa, hutang yang atas nama saya sudah saya lunasi. Dan sampaikan juga, tidak perlu repot-repot bayar hutang kesaya. Biar yang kuasa yang menagihnya.” Ujar Julia kesal.


Tetangga yang kebetulan berjualan nasi pecel itu terkejut, dengan ucapan Julia.


“Yang bener Nak? Terus yang bener ceritanya siapa, Nak.” Tanya Penjaga warung itu.


“Percuma ibu tanya yang benar yang mana, karena kebenaran itu pasti akan membuat dia malu.” Jawab Naila.


“Hutang saya semua sudah dibayar Bu. Kalau misalnya ada yang mengatakan hutang saya belum dibayar, ibu kasik tahu saja. Saya permisi ya, maaf sebelumnya sudah membuat ibu malu, karena, warungnya dijadikan tempat untuk penitipan hutang, saya.”


“Tidak apa-apa Nak Jul. Ibu minta maaf sudah menuduh yang tidak-tidak.”


“Tidak apa-apa Bu, saya permisi ya.”


“Iya.”

__ADS_1


Julia pun akhirnya pergi. Naik ke dalam taxi online yang sudah di sewa sejak Julia datang, untuk meyelesaikan masalah yang ada.


Karena sudah siang, Julia langsung ke sekolah Varo, dia ingin mengantar kan mainan yang sudah dibawa dari Bali. Juga baju yang sempat dia beli.


“Kamu baik-baik saja, bukan?”


“Iya, Nai,  Aku tidak apa-apa. Makasih ya kamu mau ikut. Rasanya lega, bebanku selesai juga.”


“Aku ikut senang. Semoga apa yang menimpa kamu bisa dibalas dengan kebahagiaan.”


“Amin.”


Tak lama mereka sudah sampai di sekolah Varo. Ternyata sudah banyak yang keluar dari dalam kelas.


Julia segera turun dan berlari ke gerbang sekolah. Matanya langsung meneteskan air mata. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Varo.


Ternyata Varo melihat juga kehadiran Julia. Varo berlari kearah Julia yang mengulurkan tangannya.


“Mama jahat, kenapa Mama tinggalkan Varo.” Teriak Varo penuh amarah, tapi ada air mata yang sudah tidak bisa di tahan, membasahi pipi Varo.


Julia terkejut mendengar ucapan Varo. Bagai drama, yang tidak diinginkan anaknya. Dan kali ini kehidupan Julia hampir sama dengan yang sering di lihat di televisi. Rasa sakit yang amat perih, saat anak mengatakan dirinya jahat. Seandainya paham akan keadaan, tapi sayang anak sekecil itu tidak akan pernah mengerti.


Tidak ada dibenak orang tua meninggalkan sang buah hati, meski apapun keadaannya. Tapi, kita manusia tidak mampu mencegah akan hal itu. Semua sudah terjadi, perpisahan sudah dilakukan, surat cerai sudah di tangan. Dan anak sudah jadi korban.


Biarpun ingin menjerit mengatakan tidak mau anak menjadi korban, rasanya percuma.


“Nak, Mama minta maaf. Mama pergi bekerja, lihat ini Mama beli mainan yang banyak. Demi kamu Nak.” Ujar Julia pelan-pelan menghampiri Varo.


“Kata Papa, Mama pergi karena tidak sayang sama Varo. Kenapa Mama lakukan ini Ma. Varo tersiksa tanpa Mama. Tapi Varo tidak mau melihat Mama lagi. Karena Papa bilang Mama bersalah pada Papa.” Ujar Varo sambil menangis.


Naila yang melihat Adeng itu, ikut menagis. Begitu wali murid dan guru Varo sendiri. Semua yang terjadi adalah taqdir. Dan Julia tidak pernah berharap dirinya ingin seperti itu.


Tiba-tiba saja, tangan Varo di tarik oleh seorang wanita. Dia yang tak lain adalah, Dian, Calon istri Kevin.

__ADS_1


“Varo ayo pulang sayang,” Ajak Dian. Pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi.


“tunggu, siapa anda. Dia putraku, tolong jangan bawa dia.”


“Saya Mamanya, Istri Mas Kevin. Apa perlu di perjelas.”


Deg...


Detak jantung Julia berdetak kencang. Seakan seperti berhenti bernafas. Lagi-lagi, Julia harus dihadapkan dengan orang yang melukai hatinya. Wanita yang berdiri mengaku istri Kevin. Belum genap satu tahun perpisahan Julia dan Kevin. Hanya berjalan 4 bulan, sudah ada wanita yang siap menjadi ibu sambung Varo. Rasanya semua runtuh, seperti petir disiang bolong.


Naila menghampiri Julia, dan memegang pundaknya.


“Kita pulang, untuk saat ini percuma kamu melakukan penjelasan pada Varo. Karena dia masih kecil.” Bisik Naila.


Julia menoleh dan menghapus air matanya.


“Nak, Mama ikhlas kamu musuhi. Tapi sampai kapanpun, Mama tetap mama kamu. Jika suatu hari nanti kamu rindu Mama minta antar Papa kamu. Dengan senang hati mama akan menerima kamu. Mungkin Mama tidak sempurna seperti kehidupan Papa kamu Nak. Tapi apa yang Mama lakukan saat ini, semua demi kamu.” Ujar Julia, dengan segala kekuatan dia berkata seperti itu. Meski sebenarnya dia tidak mampu.


Julia memberikan tas berisi mainan pada Dian.


“Tolong kamu berikan pada putraku. Terimakasih sudah mau menjadi ibu sangat sambung anakku. Semoga kelak kamu  tidak merasakan bagaimana rasanya berpisah dari anak.”


Varo tidak menoleh sedikitpun, dia memeluk Dian, seakan takut pada Julia. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat itu, karena semakin lama akan membuat rasa sakit pada diri Julia.


Naila menarik tangan Julia, mengajaknya kembali ke Taxi. Naila tahu apa yang sahabatnya rasakan, dia berusaha untuk menenangkan pikirannya.


Sekuat hati Julia menahannya, dia berusaha tenang tidak menagis lagi. Para orang tua murid disana merasa ibu. Karena tidak kenal Julia, mereka hanya melihatnya.


Julia, berjalan pelan. Berharap Varo akan memanggil dirinya, tapi langkah Julia semakin Jauh, dan Varo tidak kunjung memanggilnya.


“Jul,” Seseorang memanggil Julia, sampai membuat Julia menoleh.


 

__ADS_1


__ADS_2