
Masa yang tidak perlu di ingat, adalah masa yang sudah menghancurkan kita. Jangan terus di ingat. Cukup jadikan kenangan, agar hidupmu punya tujuan dan masa depan. Yang lalu jangan di toleh, yang sekarang lalui dengan hati-hati. Agar tidak terjerumus lagi dalam kehidupan yang menyakitkan.
“Geffie, apa Mama bermimpi?” Tanya Eyang, senang, hari dan masih tidak percaya.
“Eyang tidak bermimpi, Tuan benar-benar mulai membaik.” Jawan Julia.
Eyang langsung berdiri menghampiri Geffie, memeluknya, ada haru dan bahagia sore itu. Setelah sekian lama, akhirnya ada harapan untuk bisa melihat putranya mau makan bersama. Sejak Geffie kecil, Eyang sudah di tinggal mati oleh suaminya yang asli orang Belanda, tidak menikah lagi karena tidak ingin membagi kasih sayangnya, yang hanya ingin di curahkan untuk Geffie. Menjadi janda lebih dari 20 Tahun, susah senang di lalui sendiri. Bisnis Villa, ditekuni. Dan banyak memiliki rumah yang di kontrakkan untuk turis mancanegara. Terlihat sederhana, tapi asetnya dimana-mana. Tidak sombong, setiap hari selalu berbagi untuk orang yang kesulitan.
“Mama jangan menangis, kata Jul, orang nangis itu jelek.” Ujar Geffie tersenyum. Masih dengan sikap yang seperti anak kecil.
Eyang, sapaan yang sudah sangat tidak asing, bukan hanya anak kecil, orang dewasa, semua masyarakat sekitar yang mengenal Ibu Komang, yang asli kelahiran bali, itu. Ibu Komang masuk islam sejak menikah dengan Papanya Geffie, meski orang Belanda, tapi Bapak jack menganut agama islam.
“Julia, terimakasih, “ Ucapnya. Yang tidak henti-hentinya berterimakasih kepada Julia.
“Eyang, besok pagi izin pergi ke pantai. Saya mau mengajak Geffie jalan. Siapa tahu ada perubahan lebih cepat lagi.”
“Terserah kamu saja, biar besok di bantu sopir untuk menjaganya.” Ujar Eyang, matanya berkaca-kaca.
“Terimakasih Eyang.”
“Geffie mau makan sama apa Nak?” Tanya Eyang penuh perhatian.
“Sama ayam saja Ma.” Jawab Geffie masih dengan suara seperti anak kecil.
Eyang, dengan senang hati menemani Geffie, makan kesukaannya, kebahagiaan yang lama hilang, kini dirasakan kembali oleh Eyang.
Tanpa sadar, Julia meneteskan air mata. Bagi seorang ibu, hal seperti itu sangat diinginkan setiap hari. Tapi, Julia tidak bisa lagi makan bersama dengan Varo. Entah untuk berapa tahun, atau tidak sama sekali.
Julia menghampiri Naila, yang sedang duduk di teras belakang. Ikut duduk di lantai bersama para pelayan yang lain.
“Nai, udah transfer kan?”
“Sudah, ini bukti transfernya.” Jawab Naila, sambil menyodorkan bukti transfer ke Julia.
“Makasih ya. Aku mau telepon Mas Kevin dulu.” Ujar Julia.
“Yakin ingin bicara dengan suami kamu?” Tanya Naila, dengan mimik wajah penuh tanda tanya.
__ADS_1
“Iya, aku harus bertanya kabar Varo.” Jawab Julia meyakinkan Naila.
“Sebaiknya telepon malam hari saja, biar tidak terganggu. Sekarang kamu telepon ibu kamu saja. Bilang pada ibumu, jangan kemana-mana, setelah sholat magrib, Bapakku mau antar uangnya.”
“Kamu benar, telepon Varonya nanti malam saja.”
Julia menelepon Ibu Fatma, tidak perlu menunggu lama, ibu Fatma sudah menerima panggilannya.
“Assalamualaikum, Bu,”
“Waalaikum salam. Bagaimana kabarmu Nak?” Terdengar senang.
“Sehat bu, Ibu sama Ayah bagaimana?”
“Alhamdulillah sehat,”
“Bu, Julia kirim uang, nanti Bapak Naila kesana.”
“Nak, ibu tidak butuh uangmu, kamu menabung saja untuk masa depan kamu,” Jawab Ibu Fatma.
“Bu, jangan khawatir, Julia sudah ada buat menabung. Sekarang yang Julia mau, Ayah sama ibu jangan kerja lagi. Julia bahagia bisa memberikan uang untuk ibu. Jadi, Julia mohon, jangan di tolak.”
Sunyi, tidak ada jawaban, Julia tahu ibunya menangis. Seorang ibu mampu menutupi kesedihannya demi ingin melihat anaknya bahagia.
“Ibu jangan khawatir Julia senang kerja disini. Jadi Ibu dan Ayah jangan terlalu memikirkan Julia.” Julia meyakinkan Ibunya
“Jangan lupa Varo di kirimi uang juga ya Nak,” pesan Ibu Fatma
“Sudah Bu. Nanti malam Julia telepon Varo.” Jawan Julia.
“Ini sudah satu bulan, Kevin memang tega, tidak menelepon ibu sama sekali. Ibu mau telepon tidak tahu nomornya.”
“Semoga Varo baik-baik saja. Bu, julia kerja lagi ya.”
“Iya, Nak.”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikum salam.”
__ADS_1
Setelah selesai menelepon, Julia kembali bekerja. Menemui Geffie, yang kini tengah asik duduk bersama Eyang, di ruang keluarga. Julia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Geffie sembuh, betapa sangat bahagianya Eyang.
Julia, tidak punya pendidikan tinggi, tapi dia bisa mengerti bagaimana menyembuhkan orang gila seperti Geffie. Dan cara berpikirnya yang cepat tanggap. Lulusan SMP terbaik pada waktu itu, hanya saja tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah ke SMA.
Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyesal karena tidak punya ijasah sarjana seperti teman yang lainnya. Kehidupannya serba kekurangan.
Menikah dengan Kevin sedikit berubah, tapi tidak dengan pakaian dan make up. Julia, tetaplah gadis desa, yang tidak mewah dan memakan bedak mahal. Wajahnya alami, tidak berbalut krem pemutih atau yang lebih di kenal kulit glowing. Tapi, ada sisi cantik yang tidak pernah hilang. Alami tapi cantik. Postur tubuhnya ideal, tinggi dan menarik.
“Jul, aku mau minum,” Teriak Geffie melihat Julia.
“Baik tuan, Jul ambilkan ya.” Jawab Julia, segera pergi ke meja makan. Dan kembali membawa satu gelas air putih.
“Ini Tuan,”
“Makasih Jul.” Ucapnya polos
“Sama-sama.” Jawab Julia, ramah.
Karena waktu sudah malam. Julia membawa Geffie ke kamarnya. Menyuruhnya istirahat, menemani sampai tertidur pulas.
Setelah tidur, Julia menyelimuti dan pergi meninggalkan Geffie. Julia kembali kekamarnya.
“Aku akan menelepon Mas Kevin. Semoga saja aku bisa bicara dengan Varo” Guman Julian.
Ada rasa cemas, kesal, marah. Tidak ingin bicara dengan Kevin, tapi dia memikirkan Varo. Ada anak yang harus di perjuangkan. Kini sudah hampir tiga bulan perpisahan itu terjadi. Tidak sedikitpun Kevin mencari tahu kebenarannya. Dia hanya memikirkan kebenaran keluarganya, tampa mencari tahu kesalahan keluarganya.
Tetap salah, dan tidak akan pernah benar, meski akan menjelaskan seperti apa cerita sesungguhnya. Uang mampu membeli kebenaran dan mengganti dengan kebohongan.
Tidak ada yang mampu melawan saat tuhan sudah ingin memberikan kita ujian, kita juga tidak dapat menjelaskan. Karena semua penjelasan kita di anggap pembelaan untuk dianggap benar.
Satu kesalahan saja bisa menutupi semua kebenaran. Jadi, diamlah, biarkan hukum tuhan yang akan membalasnya.
Julia membuka blokir nomor Kevin, kemudian meneleponnya.
Tut tut tut tut...... di ulang kembali. Sampai tiga kali baru tersambung.
“Hallo,”?????
Julia tidak berbicara, dia diam mendengarkan suara dari sebrang sana. Terperangah, tidak percaya dengan apa yang di dengar.
__ADS_1