Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Ikatan Batin Antara Ibu Dan Anak


__ADS_3

...Meski terpisah jauh, tapi sebuah ikatan tidak akan pernah putus. Apalagi antara ibu dan anak. Mereka tumbuh di rahim seorang ibu, dan menyusui. Ketika harus terpisah, ada siksa batin yang hebat, yang tidak bisa di lihat. Hanya yang merasakan yang dapat mengerti, jika jauh dari anak itu sakit....


Keringat dingin membasahi tubuh Julia. Dia yang tidur di sebelah kamar Geffie, membuat harus terbangun tengah malam. Mimpi buruk tentang Varo, membuat Julia ketakutan.


Matanya mulai penuh dengan air mata. Meski di hapus berulang-ulang, tetap saja mengalir bagai air sungai yang deras.


“Ini hanya mimpi, Tapi kenapa seperti nyata. Anakku, Mama kangen sama kamu, apa kamu kerasan tinggal besama Papamu?”Tanya Julia pada diri sendiri.


“akan aku bayar semua hutang yang atas nama diriku, aku akan buktikan jika aku mampu.” Guman Julia.


Tiba-tiba  terdengar suara tangis yang sangat pilu. Suara itu datang dari kamar Geffie. Julia segera bangun dan berlari kekamar Geffie. Julia terkejut melihat Geffie yang menangis di pinggir jendela.


Dihampiri, dan duduk di dekat Geffie, di pegang tangan Geffie oleh Julia. Layaknya anak kecil yang kehilangan mainannya.


“Tuan Geffie kenapa?” Tanya Julia penuh perhatian, seperti bicara dengan Varo.


“Sakit, sakit.” Jawab Geffie, yang membuat Julia senang, karena Geffie mau bicara.


“Mananya yang sakit?” tanya Julia lagi.


Geffie menunjuk pada dadanya. Julia memegang dada Geffie.


“Tuan, sudah 10 tahun seperti ini, kalau Tuan hanya sakit didada tuan. Tapi Mama Tuan, dia sakit hati, sedih di usianya yang sudah menua. Tuan harus bangkit, Disakiti pasangan itu sakit. Tapi bukan terus sakit. Cukup diingat jangan di rasakan terus menerus.” Ujar Julia berusaha menasehati Geffie.


Entah kenapa tiba-tiba saja Geffie berubah menjadi lembut, sedih, dan berbicara meski di ulang-ulang.


“Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan, aku sakit.”


“Tuan, saya juga di tinggal kekasih, bahkan dia membawa anakku pergi, tapi saya baik-baik saja. Cinta boleh tuan, sakit jangan. Orang yang bernama Aprilia, bukan jodoh Tuan”


“Tidaaaaak, Tidaaaaak. Jangan pergi April.” Tiba-tiba saja Geffie berteriak.


Julia lupa menyebut nama April. Lalu Julia memegang erat tangan Geffie. Mencoba menenangkan Geffie, dengan cara Julia.


“Bangkit tuan, dia sudah pergi. Tuan bodoh sudah mengurung diri disini. Kalau tuan sayang sama orang yang melahirkan Tuan, ayo bangkit Tuan, berusaha sembuh demi Mama Tuan Geffie.”


Tetap saja, Geffie tidak menghiraukan Julia. Geffie masih mengatakan sakit, sakit. Setelah lebih tenang, Julia membawanya ke tempat tidur. Dan langsung menyelimuti tubuh Geffie. Matanya tetap terbuka. Tangannya memegang tangan julia. Badannya gemetar, seperti anak kecil yang ketakutan.


Julia bercerita tentang kisahnya. Bagi julia kisahnya tidak jauh berbeda dengan kisah hidup Geffie. Julia berharap, Geffie akan mendengarkan dan mau mengerti maksud Julia.


Tangis Geffie semakin pecah. Seperti orang yang meratapi nasibnya. Membuat Julia iba melihatnya.


“Tuan, tidur ya. Ini sudah larut malam, kalau tuan tidak tidur, nanti bisa sakit.”


“Jangan pergi, aku takut.” Ujarnya pelan.


“Saya disini tidak akan kemana-mana, tapi Tuan harus tidur ya.”


Geffie menganguk, matanya di pejamkan, julia menemani duduk di samping Geffie, sampai Geffie tertidur pulas.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 02.00, Julia tanpa sadar tertidur di kursi dekat tempat tidur Geffie.  Sampai pagi menjelang, dan terkejut dengan suara Naila.


“Bangun!!”


Julia langsung berdiri, dan melangkah keluar, Naila mengikuti.


“Kamu kenapa tidur disana?”


“Namanya juga jagain orang sakit, tadi malam Tuan menangis, aku gak tahu kenapa,”


“Benarkah?”


“Emang selama ini dia bagaimana?”


“Sering memgamuk, kata suster yang jagain.”


“Itu artinya yang jaga galak, makanya Tuan tidak sembuh-sembuh.” Jawab Julia seenaknya.


“Eh, kamu jangan mengada-ngada, mereka baik kok semua.”


“Kamu kan tahunya waktu di dapur aja. Kalau pas sama tuan, apa kamu juga tahu?”


Naila diam, sejenak berpikir apa yang di katakan julia ada benarnya juga.


“Iya juga sih.”


“Tadi malam dia menangis, merasa ketakutan dan memintaku menemaninya. Aku rasa dia akan cepat pulih kalau sering di ajak bicara. Tapi, harus pelan.”


“Ketawa aja kamu, Sudah aku mau mandi, mau sholat. Ini dah jam lima.”


“Ya sudah aku tunggu kamu di dapur, ambilkan roti kesukaan Tuan muda. Aku masih banyak pekerjaan jadi kamu kedapur sendiri ya.”


“Oke, siap bos.”


Naila langsung pergi, Julia masuk ke kamarnya, dan langsung mandi.


Di dapur, Naila sibuk memasak, datang Mbok mang, yang bagian bersih-bersih, menepuk pundak Naila.


“Nai, teman kamu betah jaga Tuan Muda?”


“Betah Mbok, kenapa?”


“ya kamu tahi sendiri banyak yang gak betah,”


“Karena mereka tidak niat kerja Mbok,”


“Emang tidak takut?”


“Lah, mana ada Julia takut sama Tuan, suaminya gila dia berani,” Jawab Naila, sambil senyum-senyum.

__ADS_1


“Kamu ngerjain aku, nanti teman kamu datang, tahu rasa kamu di marahi, bilang suaminya gila.” Ujar Mbok Mang.


“Dia baik, tidak mungkin suka marah-marah Mbok,”


“Kalau kerja disini harus baik, kalau tidak, Eyang akan menyuruh kita berhenti.”


“Mbok sudah selesai nyapu?”


“Sudah, tinggal disini saja.”


“Ya sudah lanjutkan. Saya juga mau lanjut kerja.”


Mereka bekerja seperti biasa. Tak lama Julia datang, mengambil apa yang di perlukan oleh Geffie. Naila hanya tersenyum melihat Julia.


Ada tegur sapa sebentar, setelah itu pergi membawa sarapan pagi, untuk Geffie.


Semua sibuk bekerja, Julia juga sibuk membersihkan kamar Geffie, karena kamar itu terlihat berantakan. Setelah selesai membersihkan kamar, Julia langsung membersihkan kamar mandinya. Semua pakai kotor yang berantakan diambilnya. Di masukkan kedalam keranjang.


Tidak ada lelah, Julia terus bekerja, sampai tidak menyadari jika Geffie sudah berdiri di belakangnya.


“Mo pipis,” Ujarnya, membuat Julia terkejut. Dia segera bediri, dan keluar dengan membawa pakaian kotornya.


Duduk di depan kamar Geffie, pikirannya tiba-tiba saja teringat Varo. Tapi tak lama Eyang datang, duduk di sebelah Julia.


“Kamu kenapa?”


Pertanyaan Eyang membuat Julia terkejut, dan langsung berdiri.


“Maaf Eyang,”


“Kok berdiri, duduk lagi. Ceritakan kamu kenapa?”


Julia pun menurut dan duduk kembali di dekat Eyang.


“Julia, memikirkan anak Julia, Eyang.”


“Kamu sudah punya anak?”


“Iya, diambil oleh suami saya,”


“Apa kalian bercerai?”


“Sudah tiga bulan ini, saya pisah rumah, dan kemaren suami saya menjemput putra saya, dia mengatakan kalau saya tidak pantas mengasuhnya. Padahal saya kerja demi masa depannya.” Cerita Julia sedih.


“Kamu adalah ibunya, dan suatu saat nanti anakmu akan mencarimu sendiri. Maka dari itu kamu jangan terlalu memikirkannya. Sekarang kamu harus berjuang demi anakmu. Tunjukkan kalau kamu bisa memberikan yang terbaik untuk keluargamu dan bisa membawa pulang lagi anakkmu.”


Julia mengangguk, melihat Eyang, dia teringat ibunya sendiri yang perhatian.


“Aku mau mandi sama kamu,” Ucapan Geffie membuat terkejut Julia dan Eyang, Mama Geffie sendiri. Tangannya menunjuk kearah Julia.

__ADS_1


 


 


__ADS_2