
Setiap manusia punya salah. Dan penyesalan itu pasti datang saat semua sudah pergi. Manusia tidak bisa mengkondisikan keadaan, masih terlalu mementingkan ego dan kesombongan.
Semua sudah di cek, semua bagai kisah drama dalam televisi. Terlihat jelas, episode demi episode. Apa yang Julia lakukan ternyata di rekam dalam cctv yang tersembunyi. Eyang wanita hebat, sejak suster yang kasar, sebelum Julia, dia langsung memasang Cctv di kamar dan ruang khusus Geffie. Jadi setiap apa yang di lakukan Julia dan Geffie terekam jelas.
Mata Geffie berkaca-kaca, laki-laki yang angkuh, tiba-tiba meneteskan air mata. Dia sudah duduk sendiri diruang kerja Eyang. Karena sejak jam sembilan malam Eyang sudah keluar. Memberi waktu kepada Geffie, merenungi kesalahan nya. Yang sudah di perbuat kepada Julia. Membiarkan Geffie melihat semua yang terjadi selama Julia mengasuhnya.
Cerita hidup yang sudah sangat lama, dan dalam hitungan bulan, Geffie sudah sembuh total. Apa yang Julia lakukan luar biasa.
“Maafkan aku, Jul. Kenapa Mama tidak cepat memberitahu semua rekaman ini. Sekarang aku sudah terlanjur memecatmu, apa aku masih bisa bertemu lagi.” Guman Geffie.
Jam menunjukkan pukul 02.00, Geffie mematikan laptop milik Mamanya. Dia keluar dari ruangan itu. Langkahnya pelan, dia seperti mempunyai kesalahan yang sangat fatal. Baginya semua wanita sama. Tapi, Geffie menyesal dengan apa yang terjadi. Berlahan Geffie membuka pintu kamarnya, dia sangat lupa kejadian bersama Julia. Yang di ingat terakhir kali April meninggalkan dirinya.
“Kamar ini saksi suka duka kehidupanku, waktu aku dirawat Julia, rasanya ini mimpi. Tapi ini nyata, Julia lah yang berjasa dalam penyembuhanku.”
Akhirnya Geffie terlelap, dan tertidur pulas. Dia tidak Menganti baju, dan sepatu masuk tetap dipakai.
Pagi menjelang, Eyang langsung melihat Geffie diruang kerjanya. Karena Geffie tidak ada, dia langsung kekamar Geffie.
Tanda tanya dalam benak eyang, apa yang terjadi kepada putranya setelah melihat rekaman Cctv itu. Berlahan pintu itu di buka. Eyang, masuk menghampiri Geffie, membuka sepatunya.
Berharap Geffie menyadari apa yang telah dia lakukan, dan akan mencari Julia secepatnya.
Begitu juga Naila, wanita yang jujur dan baik hati, sudah menjadi korban keegoisan Geffie.
“Mama,”
Panggil Geffie, saat Eyang sudah berada di pintu, karena mau keluar dari kamar Geffie. Langkahnya terhenti, menoleh kearah Geffie.
“Kamu terbangun? Apa Mama mengganggu tidurmu?”
“Kenapa mama tidak cepat menceritakan semuanya kepadaku. Dan kenapa rekaman itu baru di perlihatkan?” Tanya Geffie dengan suara pelan.
“Mama pikir kamu ingat semuanya, dan kemarahan kamu itu hanya karena trauma saja. Ternyata kamu benar-benar lupa dengan Julia.”
“Apa Mama tahu dimana dia?”
“Bukan hanya dia, tapi mereka. Dua wanita kesayangan Mama telah pergi. Naila tidak merawatmu, tapi dia yang sangat peduli kepada Mama.”
“Maafkan Geffie, Ma. Geffie janji akan mencari Julia dan Naila, untuk Mama.”
“Terimakasih, anak Mama akhirnya paham mana yang baik, dan mana yang pura-pura baik.”
__ADS_1
“Geffie yang terimakasih, karena Mama juga mau mengingatkan Geffie.”
“Ya sudah, cepat mandi. Mama tunggu untuk sarapan.”
“iya, Ma.”
Eyang pun pergi meninggalkan Geffie. Geffie akhirnya mandi, setelah selesai langsung menuju ruang makan, menemui ibunya.
“Setelah sarapan, kamu cari Julia, biar diantar Irwan. Mama sudah menghubungi berulangkali, tapi tidak aktif. Semoga saja, Julia masih di Bali.”
“Iya, Ma. Aku akan sangat bersalah jika tidak bisa bertemu Julia. Sebelum mengucapkan terimakasih atas apa yang pernah dia lakukan. Dan meminta maaf atas apa yang aku lakukan. Semoga saja Julia memaafkanku Ma.”
“Mama yakin, dia wanita baik.”
Sarapan pagi sambil berbincang-bincang, tanpa terasa sudah selesai. Segera Geffie menemui Irwan di tempat satpam.
“Pagi Wan,”
“Pagi, Tuan.”
“Kita cari Julia ya, dan aku minta nomor Julia, sama Naila. Siapa tahu mereka bisa kita hubungi.”
“Iya, Tuan. Saya kirim ke lewat WhatsApp.”
“sudah saya kirim Tuan,”
“Terimakasih,”
“Sama-sama,”
Irwan langsung menjalankan mobilnya, pertama dia langsung ke daerah dekat villa, mencoba mencari Julia disana. Dengan memperlihatkan foto di handphone Irwan. Tapi tidak satupun yang tahu keberadaan Julia dan Naila.
Disisi lain, Julia sudah membeli motor, dan peralatan lainnya. Karena keinginan Julia saat ini, ingin punya usaha sendiri demi masa depannya. Begitu juga dengan Naila.
“Kamu yakin mengganti nomor telepon kita? Bagaimana kalau Eyang menghubungi kita? Terus anak kamu?’’
Julia dia sejenak, sepertinya memikirkan apa yang Naila katakan.
“aku yakin, kita tidak boleh terus tergantung kepada Eyang, kamu harus bisa mandiri. Untuk anakku, nanti bisa di atur. Yang terpenting orang tua kita tahu nomor baru kita.”
“Ya, baiklah kalau memang mau kamu begitu.” Naila akhirnya setuju dengan ide Julia.
__ADS_1
Mungkin benar kata Julia, harus belajar mandiri. Berharap akan sukses dengan hanya berjualan nasi. Dan Julia yakin akan hal itu.
Keesokan harinya, Julia dan Naila sudah mulai berjualan. Satu jam berlalu, tidak satupun ada pembeli yang datang. Wajah Naila tampak sedih, karena merasa gagal. Tapi, tidak dengan Julia, dia terlihat santai-santai saja.
Yang di tunggu pun datang. Satu pembeli, seorang perempuan muda. Dia membeli nasi kuning, dua bungkus. Julia tersenyum.
“Pasti ada yang beli. Kamu jangan sedih dong Nai.”
“Cuma satu orang saja, sudah lebih satu jam Kita disini.”
“Kamu harus sabar, aku yakin sebentar lagi pasti banyak.”
“Moga aja.” Jawabnya lemes.
Tak lama pembeli yang pertama datang. Dengan senyum manisnya.
“Mbak, beli lagi ya. Nasinya enak, jadi teman ditempat saya kerja pesan semua.”
“wah bener Mbak?” Naila terlihat senang.
“Iya, saya beli 20 bungkus,”
Keduanya sangat senang. Ketika apa yang kita harapkan laku, akhirnya laku dengan cepat.
“Jangan lupa setiap hari saya sediakan 25 bungkus ya Mbak.”
“siap, Mbak. Apa perlu saya antar ke tempat kerja Mbak?”
“Tidak perlu, biar saya ambil kesini. Baru kalau dari pihak hotel butuh banyak, saya akan info Mbaknya.”
“Terimakasih, sekali lagi terimakasih.”
“Sama-sama.”
Setelah menata nasi itu di kresek, Naila membantu membawakan ke motor perempuan itu. Perasaan senang, karena pembeli mulai berdatangan.
Jam menunjukkan pukul 10. Jualan pun habis, tanpa sisa satupun. Setelah itu mereka pulang, dengan wajah senang. Seratus Bungkus sudah habis terjual.
Seorang wanita dari keluarga tidak mampu, jika mau berusaha dengan kerja keras, maka akan menghasilkan uang yang banyak. Dan ketika kita berangkat dari nol sekalipun, kita akan di pertemukan dengan kesuksesan.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
yuk bantu like, komen, and vote. lagi sedih nih, penduduk dikit amat... antara cepat tamat atau masih lanjut