Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Ingin Menyerah


__ADS_3

... Seperti wanita yang tidak bermoral, satu atap, satu kamar bersama laki-laki bukan keluarga atau suaminya. Ketika harus melihat yang tidak pantas dilihat, terasa hina dan menjijikkan....


Julia berlari ke lemari mengambil handuk, dan langsung menghampiri Geffie memakaikan handuk, setelah itu mengambilkan baju dan celana. Rasa takut bercampur jadi satu. Tapi Julia berusaha memberanikan diri, setelah memakai baju, Geffie langsung tidur, tanpa beban apapun.


“Aku harus lanjut atau menyerah, jika setiap hari melihat orang telanjang seperti ini, aku malu pada diriku sendiri. Tapi bagaimana dengan mimpiku,” tetesan air matanya tidak tertahan lagi.


Teringat lagi akan putranya, yang saat ini di ambil oleh Kevin. Berharap yang terbaik, Varo akan tetap mengingat dirinya, yang melahirkan.


Semua sudah kembali bersih, Julia keluar dari kamar, dia ingin menghirup udara segar, menuju teras. Rasanya menakutkan sekali, melihat dari ketinggian. Tapi, dengan melihat hamparan luas lautan di bawahnya, sungguh Tuhan dalah maha pencipta yang luar biasa indahnya.


Julia menelepon ibunya, tak lama sambungan telepon tersambung.


“Assalamualaikum, ibu”


“Waalaikum salam, nak bagaimana pekerjaanmu hari ini. Dan majikan kamu baik tidak?”


“Sangat baik bu, sampaikan sama Ayah, disini semua baik.”


“Yang kamu asuh sakit apa nak? Dan umur berapa?”


Julia diam, dia tidak mungkin menceritakan pekerjaannya secara rinci. Yang pasti ibu Fatma akan kepikiran kepada Julia. Dan Julia akan disuruh pulang oleh Ibunya. Itu yang tidak boleh terjadi, pikir Julia.


“Sudah sepuh bu. Sakitnya ya amnesia. Ibu jangan khawatir semua pasti baik-baik saja. Dan jangan khawatir secepatnya Julia akan membuat ibu bahagia dan Ayah. Doakan Julia ya bu.”


“Pasti nak, kamu tidak perlu meminta dari ibu, karena ibu selalu mendoakan kamu.”


“Salam sama Ayah, Bu. Saya mau istirahat dulu.”


“Iya, Nak. Jaga diri ya,”


“Iya, Bu.”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikum Salam.”


Julia tersenyum, senang rasanya mendengar suara wanita istimewa dalam hidupnya. Dan hanya itu yang mampu membuat hati Julia tenang.


Julia masuk lagi kedalam ruangan. Melihat ke arah Geffie, yang masih tertidur pulas. Segera julia pergi menuju lantai atas. Menemui Naila di kamarnya. Karena Naila juga ada jam istirahatnya.


Ketika melewati taman samping rumah itu, Julia bertemu Eyang. Menyapanya dengan sopan.


“Apakah Geffie sudah tidur?”

__ADS_1


“Sudah Eyang.”


“Kamu tidak takut kan pada anakku?”


“Sedikit saja, tapi saya yakin Tuan akan baik-baik saja.”


“Apakah dia mengamuk, atau menyakitimu?”


“Tidak sama sekali, Eyang jangan khawatir. Sebisa mungkin Tuan tidak memecahkan gelas lagi.”


“Terimakasih, semoga kamu betah.”


“Saya, tidak akan menyerah Eyang, keadaan keluarga saya miskin. Jadi harus berjuang untuk bisa mencapai semua yang saya inginkan.”


“Ibu bangga padamu, aku yakin kamu bisa melalui semua ini. Pergilah istirahat, karena sebentar lagi, Geffie akan bangun.”


“Baik, Eyang. Julia pamit kebelakang.”


Eyang tersenyum sambik mengangguk. Julia segera pergi, dia ingin istirahat karena lelah dengan pekerjaan yang baru saja selesai di kerjakan.


Julia langsung istirahat, tanpa menunggu lama langsung tertidur lelap.


Mungkin tidak bisa sempurna, hidupnya akan di mulai dari rumah itu. Bertahan atau menyerah, itu yang menjadi pilihan untuk julia.


●●●


“Kamu kenapa Nak?”


“Mama, mana Pa? Kok lama sekali perginya.”


“Mama kamu kerja, cari uang buat beli susu Varo.” Jawab Kevin berusaha menenangkan Varo.


“Tapi, Varo mau ketemu Mama, Pa. Yang kerja Papa saja, Mama nemani Varo.” Ujar Varo dengan suara merengek, karena mau menangis.


“Bagaimana kalau kita beli mobi-mobilan.” Bujuk Kevin, mengalihkan pembicaraan.


“Boleh, Pa?”


“Boleh dong,”


“Ayok,” Varo senang sekali, tapi entah bertahan berapa hari untuk tidak mencari ibunya.


Kevin mengantar Varo ke tempat mainan. Membeli mobi-mobilan, untuk membuat hati Varo senang.

__ADS_1


“Kamu akan tinggal bersama Papa, dan Papa pastikan kamu akan lupa pada Mama kamu,” Batin Kevin. Dengan tersenyum sinis.


Laki-laki yang memisahkan anak dari ibunya, adalah, laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita,  tidak ingat siapa yang telah melahirkan Varo. Kehidupan Varo berubah karena kesalahan Kevin yang mengambil keputusan sepihak. Tidak menyadari kekeliruannya sendiri. Lebih mementingkan ego dari pada berbicara baik-baik.


Setelah puas main mobil-mobilannya, Varo kembali menangis. Kevin bingung sekali. Datang ibu Anisa, yang ikut membantu menenangkan Varo. Karena sudah lelah menangis, akhirnya Varo tertidur.


Kevin merasa lebih tenang. Dia masih belum menyadari, jika keluarga yang lengkap adalah dambaan setiap anak. Anak kecil lebih paham keadaan orangtua, meski tidak di ceritakan apa permasalahan dalam rumah tangga kedua orangtuanya, tapi, dia lebih peka dengan semua keadaan.


Perceraian, kata yang paling di benci, mendatangkan petaka diantara dua keluarga. Putusnya hubungan keluarga, dan akhirnya menjadi permusuhan yang sulit di perbaiki. Jika permasalahan yang ada bisa di perbaiki, maka perbaiki, jika memang tidak bisa di perbaiki, jadikan sebuah pelajaran untuk masa depannya nanti, agar tidak gagal lagi.


“Kenapa harus kamu jemput Varo?”


“Karena aku tidak mau kehilangannya,”


“Ibu tahu itu, tapi siapa yang akan mengasuhnya? Ibu tidak bisa menjaga Varo seharian.” Ujar Ibu Anisa, terlihat tidak suka.


“Biar Kevin bayar orang saja, karen bagi Kevin, Varo adalah milik Kevin satu-satunya. “


“Apa?” wajahnya penuh tanda tanya.


“Ibu tidak usah marah, demi kebaikan ibu juga, biar Varo tidak menyusahkan ibu.”


“Bukan masalah menyusahkan, tapi Varo tidak akan betah lama-lama disini.”


“Mau disini atau di rumahnya, sama saja bu, apalagi Julia memang tidak ada. Varo tinggal sama neneknya juga.” Mereka berdua berdebat masalah Varo. Padahal selama ini Varo lebih sering bersama Julia, dan tidak ada waktu untuk Kevin membantu mengurus Varo.


“Tapi, Varo lebih betah sama Ibu Fatma.” Ujar Ibu Anisa dengan wajah kesal.


“Itu artinya, Ibunya Julia lebih perhatian dan mengerti sama anak kecil.” Jawab Kevin, sedikit marah.


“Kamu pikir Ibu tidak sayang Varo, seenaknya saja kalau bicara. “


“Bu, kevin mau istirahat. Capek.” Belum di jawab oleh Ibu Anisa, kevin langsung masuk kekamar.


Sesaat terasa senang, dan kini berubah menjadi cemas. Kevin cemas memikirkan Varo, yang lebih dekat dengan Julia.  Kevin takut Varo sakit karena tidak bertemu dengan Julia. Tapi, kevin tidak mau jika harus berdamai dengan Julia, yang di anggap sudah menghabiskan uangnya, dan meninggalkan hutang untuknya.


Dilain tempat, Julia ketakutan sampai badannya bergetar, entah apa yang terjadi, membuatnya tidak bisa berdiri dan merasa ketakutan sekali.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2