
Kecewa... sedih... para pembaca tidak memberikan like, 😭, masih mikir, lanjut atau tidak episode ini.???.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
...Semewah apapun yang kita terima, jika kita kehilangan sosok seseorang yang menjadi teman disaat sedih dan berduka, pasti tidak akan dapat menggantikan rasa bahagia saat kita menerima imbalan atas apa yang kita capai....
Julia masih tidak percaya dengan apa yang di lihat, sesampainya di rumah Eyang, Julia langsung masuk kamar bersama Naila.
“kamu kenapa sih, mulai dari rumah sakit diam terus, sampai nyampek kerumah ini. Ada apa dengan Tuan?” tanya Naila nyerocos.
“Aneh,” Jawab Julia, lalu diam.
“Apanya yang aneh? Bicara yang jelas Jul?”
“Tuan muda, dia sudah sadar, tapi wajahnya datar, dan melihat ku dengan tatapan tidak suka.”
“Jadi kamu kecewa gitu “
“bukan masalah kecewa, tapi aku ingat dimana tuan masih sakit, di seperti anak kecil yang bisa menghibur. Pas lihat wajah yang sekarang, itu beda banget. Entah ada apa dengan Tuan.”
“Kali aja dia capek atau dia sadar,”
“Ya semoga saja dia sadar. Aku ikut senang kalau Tuan sadar,”
“Wah, bakalan dapat bonus besar kalau kamu bisa menyembuhkan Tuan.”
“Aku dapat bonus, tapi tuan gak kayak dulu, gak enak juga Nai. Karena bagiku, Tuan sudah seperti sahabat ku.”
“Kamu gak berharap banyak kan dari dia.”
“Maksudmu?”
“siapa tahu, ada cinta di dalam hatimu,” Ledek Naila, tersenyum.
__ADS_1
“Kamu bisa gak bicaranya jangan ngelantur, bukan bicara yang tidak-tidak. Kalau eyang dengar, aku pasti langsung di pecat.”
“Maaf, bercanda aja. Lagian lihat raut wajahmu kurang sedap.”
“Mmm, kamu mau aku tertawa terbahak-bahak tah,”
“Wes, sekarang kamu tidur, gunakan waktu istirahat dengan baik. Karena kalau tuan pulang, siap-siap untuk di buat capek.”
“Bener juga, aku istirahat dulu, aku juga numpang tidur disini saja. Aku takut kalau di lantai bawah.”
“Iyo wes, tidur yang nyenyak, aku mau lanjut masak buat makan malam.”
Naila pun pergi. Julia tidak perlu menunggu lama untuk tertidur, karena badannya juga merasa lelah, akhirnya Julia tertidur juga.
Naila yang hendak masuk ke dapur, dipanggil oleh Irwan, membuat Naila terkejut.
“Apa Wan, kamu kok buat aku kaget saja,” Ujar Naila, cemberut.
“Julia sehat kan? Sekarang dimana dia?” Tanya Irwan cemas.
“Kamu ngapain kepo, setahuku, kamu baru kenal sama dia, lagian kamu kayak pacarnya saja.”
“Kok kamu ketus sih Nai, aku kan cuma tanya, apakah aku dilarang kalau suka Julia?” ujar Irwan bertanya.
“Gak di larang, terserah kamu, sekarang pergi, aku mau masak. Kalau mau tahu kabar Julia nanti malam saja ya,” jawab Naila, sambil mendorong tubuh Irwan, biar pergi dari dapur.
“Nai, kamu kenapa gitu sih,” tanya Irwan, dengan wajah lesu.
“Dia tidak apa-apa Wan. Sekarang sudah tahu, dan tolong pergi ya.” Ujar Naila, mengusir Irwan.
“Siap buk.”
“siap-siap, emang aku ibumu.”
__ADS_1
Sambil memegang sapu yang hendak di pukulkan ke Irwan, tapi Irwan sudah keburu pergi.
Jam menunjukkan pukul 21.00, malam, Julia kekamarnya di lantai bawah, dia membereskan semua pakaian Gaffie, menata rapi ulang, dan membawa baju kotornya ke tempat pencucian. Julia tidak tidur disan lagi, tapi tidur bersama Naila.
Sejenak, Julia berpikir, seandainya Geffie sembuh, apakah akan tetap bekerja disana atau di pecat, itu yang ada di pikiran Julia saat ini. Memikirkan nasibnya jika tidak bisa bekerja lagi. Dan Untuk mencari lowongan pekerjaan itu sangat sulit. Dan harus ada orang yang Julia kenal.
“Ah, kenapa aku bingung sekali. Pokoknya aku harus bisa kerja apa saja. Yang terpenting aku bisa menafkahi anakku. Aku tidak boleh lemah, sebab aku belum membahagiakan anakku dan kedua orang tuaku,” Batin Julia.
Karena tidak bisa tidur, Julia mencoba mengirim pesan kepada Kevin, karena merindukan Varo, sudah hampir dua bulan tidak bertemu dan tidak bicara. Balasan yang akhirnya membuat Julia tersenyum
Julia akhirnya menelepon Kevin, setelah mendapat izin dari Kevin sendiri. Memang tidak bisa di pungkiri, kalau pada kenyataannya, Julia, masih ada rasa yang sedikit tersisa. Video call pun di lakukan, tak lama panggilan terhubung.
“Mas, ijinkan aku bicara dengan Varo.” Ujar Julia, dengan mata berkaca-kaca. Saat melihat laki-laki di hadapannya. Kevin tidur di samping Varo, lalu Kevin memperlihatkan Varo yang sedang tidur.
“Apakah dia sehat Mas? Apakah dia sering menanyakan aku?” Tanya Julia senang.
“sudah tidak pernah. Aku ajarkan dia untuk tidak cengeng dan terus menerus memcarimu,”
“Kamu tega Mas,”
“Aku tidak tega, ini aku lakukan biar dia tidak tersiksa dengan perpisahan kita. Sebentar lagi aku akan menikah. Kamu jangan telepon malam, kalau mau telepon pagi atau sore.” Ujar Kevin, menyakitkan. Disela kebahagiaan nya melihat Varo, ada sakit yang Kevin berikan.
“Kalau aku pulang, boleh aku menemui Varo Mas?”
“Boleh, tapi lunasi dulu semua hutangmu,”
“Jangan khawatir Mas, semua akan aku bayar, tanpa sedikitpun meminta bantuan kamu. Jika suatu hari nanti kamu tahu kenapa aku berhutang sampai banyak. Jangan pernah menyesal sudah bersikap tidak adil denganku.” Ujar Julia, yang tidak bisa menahan tangisnya.
“Kamu tidak perlu menangis, dan melemparkan kesalahan kamu pada orang lain. Tidak akan ada yang menyesal dengan apa yang terjadi. Semua yang aku lakukan itu demi kebaikan kita.”
“Jika suatu saat kamu mengetahui kebenaran, jangan berharap apapun dariku Mas. Karena saat itu kamu sudah benar-benar kehilangan aku. Dan kamu akan tersiksa dengan apa yang kamu lakukan. Terimakasih atas luka dan ketidakadilan yang kamu berikan padaku. Aku akan terus mengingat ini Mas.” Julia langsung menutup panggilan nya.
Tangisnya pecah, saat sepi menyelimuti dirinya, satu yang dia ingat, Geffie yang menghiburnya.
__ADS_1
Sudah dua hari Geffie dirawat, Julia juga tidak bisa bekerja apa-apa. Siang itu selesai membantu Naila membuat bumbu dan membersihkan dapur. Setelah selesai membantu Naila, Julia pergi ke lantai bawah membersihkan ruangan Geffie. Karena takut Geffie datang, semua sudah tertata rapi. Tanpa sadar Julia tertidur di Sofa.
Tiba-tiba saja, Julia terkejut, karena ada yang memukulnya dengan sapu, mata Julia terbelalak, apalagi badan nya sakit karena pukulan sapu itu keras.