Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Skenario Hidup


__ADS_3

Tidak pernah disangka, bahkan sulit di tebak. Bertemu dalam suasana yang sudah mulai Julia bangkit.


Mata julia membulat sempurna, setelah satu bulan berlalu, tidak bertemu dengan Eyang. Kini dalam ketidak sengajaan Naila dan Julia bertemu kembali dengan Eyang.


"Julia, Naila." Sapa Eyang setelah dekat dengan kedua mantan pelayannya itu.


"Eyang, apakah Eyang sehat?"


"Sangat sehat, kemana saja kalian, aku mencari kalian kemana-mana."


"Maafkan kami Eyang, bukan maksud kami meninggalkan Eyang tanpa pamit, tapi kami tidak ingin Eyang dan Tuan Geffie bertengkar, atau akan membuat Tuan Geffie marah. Kami cukup bahagia sekarang, sudah punya usaha sendiri. Jadi Eyang jangan Khawati ya, kita baik-baik saja." Ujar Julia dengan senyum ramahnya.


"Tapi Geffie mencarimu Jul, dia sudah sadar akan semua apa yang kamu lakukan, jadi dia berharap kamu kembali lagi kerumah," Ujar Eyang.


Julia dan Naila saling pandang. Dia sudah nyaman dengan pekerjaannya yang di tekuni, yaitu menjadi penjual nasi kuning.


"Tapi, kami sudah nyaman dengan usaha kami yang baru Eyang," Ujar Julia menunduk.


"Bagaimana kalau kalian tetap jualan, tapi kalian tinggal dirumah. Aku akan memohon pada kalian," ujar Eyang dengan wajah sedih.


Naila tidak tega melihat Wanita tua itu, yang sudah baik dan banyak membantu. Apalagi julia, dia sangat berhutang budi karena sudah bisa melunasi hutangnya.


"Baiklah, saya dan Naila kerja lagi disana. Tapi benarkah Tuan Geffie mau menerima kita," Julia masih takut.


"Sudah, kalian jangan khawatir, Geffie sudah baik kok. Malah dia yang menyuruh kalian kerja di rumah lagi."


"Kita pulang Eyang, nanti kita keVilla."


"Jangan bohongi Eyang. Secepatnya kembali ke Villa."


"Jangan khawatir, Eyang. Kami tidak akan membohongi Eyang, setelah membereskan semuanya, kami akan ke rumah Eyang."


"Benar-benar aku tunggu." Ujar Eyang dengan penuh harapan.


"Kita pamit pulang dulu Eyang,"


"Hati-hati."


Julia dan Naila bersalaman, mereka langsung naik kedalam taxi. Eyang sangat bahagia, dia masuk ke Villa untuk mengikuti acara ulang tahun Villa teman dekat Eyang.


Kini Julia dan Naila sama-sama diam, mereka seperti memikirkan banyak hal. Naila menyenggol lengan Julia.


"Ada apa Nai? Kok main senggol-senggolan?"


"Kamu yakin dengan keputusan kerja disana lagi?"ujar Naila.


"Kamu sendiri bagaimana?" Tanya julia juga.


"Kok malah tanya juga,"


"Yang bingung kamu Nai,"

__ADS_1


"Kasihan pelanggan kita,"


"Lalu apa yang akan kita lakukan,"


"Tidak ada, kita harus kembali lagi, dan semoga ini awal baik untuk kita."


"Semoga aja. Aku juga gak mau membuat kecewa Eyang, tanpa memikirkan apapun, aku bisa lunas hutang dari dia,"


"Iya, dan dia juga gaji kita mahal." Jawab Naila.


"Sudah jangan menoleh lagi, tinggal lihat Tuan Geffie bagaimana, kalau baik kita lanjut, kalau masih suka marah, kita pamit baik-baik pada Eyang."


Tak terasa meraka sudah sampai. Julia dan Naila turun. Langsung masuk ke kos, membereskan semua barangnya.


"Sebaiknya, barang kita ini kirim ke jawa, ibumu pasti membutuhkannya." Ujar Naila.


"Iya, kamu benar, kita paketkan saja, biar di pakai Ibu."


"Nanti aku telepon trevel, kita titipkan dulu disini, biar trevelnya langsung ambik kesini."


"Kalau begitu, aku pamit ibu kos dulu. Kamu bawa tas kita ke motor."


Mereka pun langsung keluar, pamit pada pemilik kosan, dan menitipkan barangnya. Sebenarnya Naila dan Julia masih berat meninggalkan usahanya. Tapi, keduanya tidak tega melihat wajah sedih Eyang.


Keduanya langsung naik motor berdua, menuju rumah Eyang. Karena jalanan lumayan sepi, mereka cepat sampai. Saat di depan pintu gerbang, satpam yang sudah sangat mengenal Naila dan Julia terkejut, sekaligus senang, karena mereka kembali lagi ke rumah itu.


"Halo Pak."


"Bukan kebetulan kembali Pak, tapi ketemu Eyang, dia meminta kita kembali."


"Tuan yang paling bingung cari kalian."


"Apaa?" Julia masih tidak percaya.


"Yang bener Pak?"


"Ngapain Bapak bohong, ya benar lah,"


"Ya sudah, kita masuk dulu, pasti Eyang menunggu kita."


"Kalian jangan pergi lagi, kasihan Eyang."


"Siap Pak,"


Julia dan Naila masuk, langsung menemui Eyang di ruang keluarga.


"Selamat sore eyang," sapa Julia dan Naila.


"Selamat sore, terimakasih kalian benar-benar datang" Wajah Eyang terlihat bahagia.


"Kami pasti datang Eyang, lalu dimana Tuan geffie. Kita takut di usir lagi,"

__ADS_1


"Aku bukan orang tidak tahu balas budi. Aku tidak akan mengusir kalian lagi." Jawab Geffie, yang tiba-tiba datang. Julia dan Naila menoleh, mereka menunduk.


"Benarkah Tuan menginginkan kita belerja disini lagi?"


"Iya, aku harap, kalian tidak takut padaku." Jawab Geffie tersenyum.


"Tergantung Tuan, kalau baik pada kita, ya kita betah disini. Tapi, kalau seperti bulan lalu, kita akan menghilang lagi." Ujar julia tersenyum.


"Aku tahu salah, dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama." Ujar Geffie penuh kesungguhan.


"Terimakasih Tuan."


"Pergilah istirahat, dan jangan lupa buatkan aku ayam bakar pedas, untuk makan malamku nanti."


"Baik Tuan." Jawab Julia.


Geffie langsung pergi, begitu juga Naila dan Julia. mereka langsung kekamar yang biasa di tempati. Tapi sebelum Julia masuk kekamarnya, Irwan datang menghampiri.


"Kalian kemana saja? aku mencari kalian."


"Kamu sih gak kasik tahu kita kalau mau di pecat. ya kita juga terpaksa gak pamit sama kamu."


"Aku gak tahu kalau kalian mau di pecat. Aku baru ingat pas pelayan baru itu mengadu kalau ada pelayan wanita di villa bawah."


"Sudahlah, toh udah balik lagi. Makasih sudah mencari kita."


"Jangan pergi tanpa pamit lagi, Jul. Aku takut kehilangan kamu,"


"Lebay," Jawab Julia, lalu masuk kekamarnya.


Naila tertawa, dengan sikap Julia yang tidak perduli pada Irwan, padahal jelas Irwan mencintai Julia.


"Kamu itu harus bersikap baik pada Irwan, dia itu laki-laki baik dan penuh perhatian. Jadi kamu harus bisa menghormatinya."


"Ceramah aja kamu, kalau aku bersikap baik pada irwan, yang ada aku dikira menerimanya. wes, jangan bahas mau nikah. tidur aja, nanti kita harus masak buat Tuan."


Karena mereka lelah, tanpa menunggu lama, sudah tertidur pulas. Satu jam berlalu, mereka terbangun dengan sendirinya. Setelah selesai istirahat, mereka kedapur untuk memasak.


Eyang datang menghampiri Julia, yang sedang memotong bawang.


"Jul, aku mau minta tolong sama kamu,"


"Minta tolong apa Eyang?" Tanya Julia, memperhatikan wajah yang seperti binggung itu.


"Maukah kamu menikah dengan Geffie?????"


Julia terkejut, Tanpa terasa pisau yang dia pegang terjatuh. Sepertinya bermimpi disiang bolong.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Masih lanjut kah? atau tamat...

__ADS_1


bantu komen, beri masukan. jangan lupa like and votenya.


__ADS_2