Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Tak Disangka


__ADS_3

Malam semakin larut, Julia tidak bisa memejamkan matanya. Julia duduk di taman depan kamarnya. Terasa sunyi, hanya bunyi anjing yang bersahutan.


“Kamu belum tidur Jul?” Tanya Irwan yang tiba-tiba datang, membuat Julia terkejut.


“Eh, kamu Wan, iya aku belum ngantuk,”


“Kayaknya lagi sedih, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.”


“Cerita, kalau kamu butuh teman cerita, aku siap mendengarkan.”


“Aku tidak apa-apa Wan, aku hanya rindu anakku,”


Iwan terkejut, dia tidak tahu jika Julia punya anak. Yang dia tahu, Julia teman Naila, dan anaknya baik.


Wajah Julia juga tidak seperti Ibu-ibu, masih seperti anak muda lainnya. Mungkin karena Julia tidak berliptik merah, atau hanya sederhana tanpa make up.


“Kamu punya anak?” tanya Irwan heran.


“iya, kenapa? Heran?”


“Aku pikir kamu belum nikah?”


“Haha, aku ini janda, beranak satu Wan, karena nikah muda, makanya umur 24 sudah punya anak umur 5 tahun.”


“Kenapa kamu cerai?”


“Tidak cocok saja,”


“Gimana kalau kamu nikah sama aku Jul?” Ujar Irwan, membuat Julia tertawa.


“kenapa malah tertawa Jul?”


“Aku tidak mau menikah Wan, cukup aku di sakiti dan di perlukan tidak adil. Sekarang aku mau berjuang dulu untuk membahagiakan orang tuaku. Jadi, jangan bicara menikah dulu. Lagian kamu masih muda, mau melamar aku yang sudah janda, ada-ada saja kamu, Wan.”


“Tapi aku serius Jul, aku mencintaimu.”


“Cinta saja tidak cukup, aku tidak percaya laki-laki bilang cinta, karena sama saja, kalau sudah bosan akan mencari kesalahan kita “


“Sejahat itukah suami kamu? Sampai kamu benar-benar mau menutup hati.”


“Wan, aku mau tidur, maaf jangan bicara aneh lagi ya.”

__ADS_1


Ujar Julia lalu pergi, dia tidak habis pikir dengan keseriusan Irwan. Bagi Julia itu hanya omong kosong saja.


“Jul, aku serius,” teriak Irwan.


“Aku seribu rius,” jawab Julia, lalu masuk kamar.


Naila yang tertidur pulas, akhirnya terbangun mendengar suara pintu ditutup.


“Kenapa kamu belum tidur?” Tanya Naila, yang sudah duduk.


“Maaf, sudah membuat kamu terbangun. Aku sulit tidur, memikirkan Varo,”


“Kan sama Papanya,”


“Mas Kevin mau menikah, aku takut ibu sambung Varo tidak menyayanginya. Rasanya kepalaku mau pecah, memikirkan nasib anakku “ Ujar Julia sedih.


“Kamu yang sabar ya, aku yakin pasti akan ada jalan keluar terbaik, kamu bisa mengasuh Varo lagi.”


“Tapi, aku merasa tidak berdaya dengan keadaan ini.”


“Kamu tidak boleh menyerah, semua yang terjadi akan menjadi pelajaran penting buat kamu, dan aku yakin kamu akan semakin dewasa menyikapi semua masalah yang terjadi.”


“Aku lupa, tadi Eyang memberikan aku amplop, entah apa isinya, aku tidak tahu.”


Julia mengambil amplop itu di dompetnya, membuka nya pelan. Saat melihat isi amplop itu, Julia terkejut begitu juga dengan Naila.


“Apaaa!!!”


Julia dan Naila sama-sama terperangah, masih tidak percaya dengan angka yang ada didalam cek tersebut.


“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuju, delapan, sembilan, sepuluh,  200 Juta,”


Ujar Naila dan Julia bersamaan, saling pandang.


“Kenapa Eyang memberikan aku uang sebanyak ini, bagiku ini banyak sekali.” Ujar Julia masih tidak percaya dengan apa yang didapat


“Itu karena kerja keras kamu memberikan kasih sayang kepada Tuan, sekarang kamu harus percaya. Bahkan Rizki itu akan datang sendiri kalau kita ikhlas menjalani nya. Uang itu kamu simpan, jika sudah pulang nanti, buat rumah, waktunya kamu memberikan kehidupan yang layak untuk ibumu.” Ujar Naila, ikut senang melihat apa yang Julia dapat.


“Tidak disangka, semua yang datang secara tiba-tiba. Seperti masalah yang akhir-akhir ini menimpaku, tuduhan yang tidak aku lakukan oleh mertua ku. Jujur, andai dengan uang ini aku bisa menebus Varo, aku rela memberikan uang ini untuk Mas Kevin. Tapi sayang, itu tidak mungkin.” Ujar Julia, matanya berkaca-kaca.


“Kamu harus tenang,”


“Aku tidak akan menikah, jika aku belum bisa membawa pulang anakku, dan menemukan laki-laki yang tulus, tidak seperti Kevin dan ibunya.”

__ADS_1


“Semoga apa yang kamu inginkan bisa terpenuhi.” Ujar Naila.


“Amin.”


“Tidur, sudah malam, besok kita akan bekerja.”


“Iya, tapi kamu antar aku ya besok ke bank, setidaknya aku harus punya rekening sendiri untuk menyimpan uangku.”


“Siap, besok aku antar.”


Mereka akhirnya tidur, lampu kamar juga sudah dimatikan. Rasanya sudah sangat lelah. Karena jam sudah menunjukkan pukul 01.30. tidak seperti di desa, jam 19.30 sudah sangat sepi. Tapi di Bali, Julia merasa jam sepuluh malam masih jam 6 sore. Ramai orang lewat di depan villa.


Keesokan harinya, Julia dan Naila terlihat kompak melakukan pekerjaan memasak. Julia membawa hidangan yang sudah siap di makan ke meja makan. Semua di tata rapi, setelah itu Julia memanggil Eyang untuk sarapan pagi.


Di teras samping, seperti biasa Eyang sudah duduk santai di teras, menikmati suasana pagi yang cerah. Dengan segelas air hangat yang sudah rutin setiap hari. Sebagai awal untuk makan atau minum yang manis-manis.


“Selamat pagi Eyang,”


“Pagi, Jul.”


“Sebelumnya, terimakasih karena Eyang sudah memberikan saya hadiah yang tidak terhingga, nilainya yang sungguh luar biasa bagi saya, semoga, Eyang dan Tuan selalu di mudahkan rizkinya, dan di beri kesehatan selalu.”


“Amin,. Sama-sama Jul, apa yang aku berikan tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan untuk anakku.”


“Itu sangat membantu Eyang, karena saya bisa membuat rumah yang layak untuk kedua orang tua saya.”


“Syukurlah, semoga cukup.”


“Iya, Eyang. Oh, iya, sarapan pagi sudah siap, Eyang sebaiknya sarapan dulu.”


“Iya sudah, kamu tolong panggil Geffie.”


“Tapi Eyang,” Julia tidak melanjutkan bicaranya.


“Tidak apa-apa, panggil saja, aku yakin kamu bisa melunakkan hatinya.”


“Semoga saja bisa Eyang.”


‘'Pergilah,” Ujar Eyang, menyuruh Julia pergi memanggil Geffie.


Julia langsung pergi, memanggil Geffie di lantai bawah. Pelan sekali Julia berjalan, takut mengganggu Geffie. Pintu kamar Geffie Sedang terbuka,, terlihat Geffie sedang bingung mencari bajunya.


“Kalau baju lengan pendek ada di rak nomor 2, baju kemeja yang lengan pendek di rak nomor satu., kalau celana pendek di rak nomor 4, kalau pakai dalam ada di laci lemari paling bawah.” Ujar Julia, lupa diri. Julia seakan menganggap Geffie belum sembuh.

__ADS_1


Julia langsung menutup mulutnya, dan ketakutan. Geffie menoleh, dengan tatapan membunuh


__ADS_2