Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Tegar


__ADS_3

Seperti apapun keadaannya, hanya berusaha tegar, dan berusaha bangkit. Meski yang di hadapi seperti masuk kedalam kandang singa. Tapi, semua perlu perjuangan untuk bisa bangkit, karena manusia sudah di gariskan sesuai taqdirnya masing-masing.


Mendengar kata-kata gila, membuat Julia takut, apalagi dia seorang wanita, mengurus orang sakit sendirian di dalam ruangan yang tersembunyi.


“Geffie Danu Nugraha, panggil saja Geffie.”


“Apa Tuan bisa bicara? Atau hanya diam saja?”


“Dia, kalau diam bisa diam seharian, kalau marah bisa marah, baginya sendiri itu lebih baik.”


“Siapa nama wanita yang menyakiti Tuan, Eyang?”


“Aprilia, kalau mendengar nama Aprilia, dia akan marah dan bisa mengamuk. Sebisa mungkin kamu jangan sebut nama itu. Saya sudah bawa Dokter terbaik, untuk mengobatinya. Tapi, tidak ada satupun yang mampu menyembuhkan sakitnya. Saya rindu canda tawanya, keceriaannya.” Tangis Eyang pecah, tersimpan banyak kesedihan di raut wajahnya.


Julia tidak tega melihatnya, kemudian menghampiri Eyang. Menghapus air mata Eyang.


“Eyang, sebisa mungkin saya akan membantu memulihkan keadaan Tuan Geffie,” Ujar Julia, yang pernah merasakan sakit hati, dan hacur kehilangan Varo dan kehilangan cinta Kevin.


“Kamu jangan menyerah seperti yang lain ya. Saya janji, jika anak saya sembuh, maka saya akan memberikan hadiah istimewa untuk kamu.”


“Iya, Eyang. Terimakasih,”


“Kamu saya tinggal. Kalau perlu makan atau apapun, kamu tinggal telepon Naila, dia akan datang kesini membawakannya untuk kamu.”


“Untuk Tuan Muda, apa saja kesukaannya, dan apa yang perlu saya siapkan Eyang?”


“Makanan kesukaannya, ayam goreng sama ikan bakar. Kalau pagi dia cukup di sediakan roti sama susu saja. Buah dan minuman sudah siap di kulkas. Jadi kamu cukup temani dia ajak bicara, ya terserah bagaimana kamu berusaha membuatnya sadar kembali.”


Eyang langsung pergi, Julia bingung bagaimana caranya dia akan memulai semua ini. Terlihat Geffie sedang duduk di dekat jendela. Masih tidak menggunakan baju, roti yang sudah tersedia di meja, belum juga di makan. Seandainya bukan anak seorang wanita kaya, mungkin Geffie sudah tinggal di jalanan, dan sudah kotor dan tidak terawat seperti saat ini.


Julia melangkah mendekati Geffie, berharap tidak terjadi sesuatu dan bisa mengajaknya bicara.


“Selamat pagi Tuan Geffie,”


Tidak ada jawaban, masih duduk menatap keluar jendela.


“Tuan pagi ini terlihat segar, apakah sudah mandi? Kalau sudah mandi, Tuan pakai baju dulu ya.”

__ADS_1


Julia mengambilkan baju di lemari, dimana baju yang berada di dalam berantakan dan tidak tersusun rapi. Setelah mengambilkan kaos lengan pendek, segera Julia memasangkan baju itu. Geffie tidak berkata apapun, dia hanya menurut saat Julia memakaikan bajunya.


“Seperti anak kecil saja.” Guman Julia geleng-geleng kepala.


Menyisir rambutnya, lalu membersihkan tempat tidur dan langsung menata baju yang sudah berantakan.


Memungut baju yang berseretakan di lantai, dan tisu yang di lempar ke lantai .


Pyaaaar, sontak Julia terkejut.  Setelah menoleh, ternyata gelas yang berisi susu sudah di lempar.


“Tuan, jangan seperti itu, kalau kacanya mengenai kaki tuan bagaimana?” ujar Julia pelan. Julia hanya menarik nafas dalam-dalam.


“Baru saja mulai bekerja, lelahnya membuat aku jadi punya penyakit darah tinggi nantinya.” Guman Julia lagi.


Karena sudah merasa lapar, Julia akhirnya menelepon Naila. Perutnya tidak dapat di ajak kompromi.


“Ada apa Nyonya Julia, hahaha.” Ledek Naila, membuat Julia tertawa.


“Kamu kenapa tidak cerita kalau yang aku asuh sakit jiwa,” Julia langsung nyerocos saja.


“Dasar buset kamu. Sekarang cepat bawakan makanan kesini. Aku lapar,”


“Hahaha, baik Nyoya.”


Mereka tetawa, dan langsung menghilang karena sama-sama memutuskan panggilannya.


Tak lama Naila datang, membawakan nasi dan minuman. Julia keluar dari kamar Geffie dan duduk di ruang belakang, dekat tangga yang menuju arah keluar.


“Aku lapar sekali. Bayangkan saja, semua berantakan dan tidak tertata rapi.”


“Dan itu akan terus terjadi.  Bahkan kamu bisa 3 kali membereskannya.”


“Apaaa?”


“Kasihan, eyang sangat menyayanginya. Putra Satu-satunya gila. Dan Eyang sudah hidup sendiri. Sebenarnya kita harus banyak bersyukur, biar miskin tapi keluarga kita lengkap.” Ujar Naila.


“Aku yang tidak lengkap,  anakku sudah di ambil sama bapaknya.  Semoga aku mampu melalui ini. Dan aku harus sukses, kalau perlu aku harus bisa menyembuhkan Tuan Geffie, demi Varo. Aku juga akan buktikan kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Mas kevin.” Ujar Julia, tanpa terasa meneteskan air mata.

__ADS_1


“Kamu menangis, maafkan aku yang sudah membuat kamu bersedih.”


“Iya, tidak apa-apa.” Jawab Julia, tidak lupa menghapus bekas air matanya.


“Makanlah, sebelum kamu bekerja keras lagi.”


“Kamu benar, harus banyak makan, karena aku tidak boleh sakit.”


“Semangat ya. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi aku.”


“Iya,”


Naila pergi meninggalkan Julia, karena banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Sebenarnya Naila tidak tega, Julia kerja mengurus putra bosnya itu. Selain gila, kalau sudah marah bisa-bisa orang yang berada di dekatnya akan di lempari dengan barang yang sedang di pegangnya.


Karena sudah siang, Julia meminta Naila membawa makanan untuk Geffie, kali ini julia tidak mau di bawakan dengan pirig kaca, yang Julia minta, piring plastik, dan semua peralatan makan untuk Geffie di ganti dengan bahan yang plastik.


Makanan datang, Julia tersenyum menyambut Naila.


“Kamu ada-ada saja.”


“Lah, kalau kenak jidatku apa gak luka. Mending pakai ini, sakit tapi gak terlalu sakit.”


“Terserah kamu aja. Sebentar lagi dia akan makan. Setelah itu dia akan mandi, kamu akan melihat tontonan gratis,”


“Maksudnya,”


“Lihat saja sendiri,”


Naila langsung pergi. Julia masih bingung dengan maksud Naila. Karena sudah jam makan Geffie, makanan Geffie langsung di bawa ke kamarnya. Di letakkan di atas meja yang sudah tersedia.


Terlihat lagi, bekas botol minuman berserakan di lantai. Namanya juga bekerja capek sudah biasa. Dan ini adalah bukti bahwa Julia bisa bekerja, bukan wanita yang pemalas seperti mertuanya bilang.


Ada rasa iba dihati Julia, melihat Geffie yang depresi itu. Hidupnya di lalui dengan mengurung diri dikamarnya. Tidak ada semangat. Selesai makan, dia langsung melempar piring dan gelasnya ke lantai. Lalu masuk kekamar mandi. Julia pun dengan sabar membersihkannya. Dan memungut piring dan gelas. Akhirnya tidak ada suara gelas yang berisik, setelah sekian lama setiap hari harus memecahkan gelas dan piring.


Setelah agak lama di kamar mandi, Geffie keluar, Julia yang melihatnya langsung menjerit....


 

__ADS_1


__ADS_2