
...Perpisahan itu sakit, karena cinta yang hadir masih tulus. Tapi hanya karena sebuah kesalahan yang tidak masuk akal, membuat hubungan pernikahan itu benar-benar akan hancur. Wanita hanya menjadi alat, alat untuk menyenangkan laki-laki, ketika sudah tidak ada rasa, dia akan melepaskan begitu saja....
“Pernikahan macam apa yang kamu bina bersama Kevin, uang belanja sudah cukup di buat tidak cukup dan memilih menambah hutang, sekarang penagih hutangmu datang kerumah, dia meminta kami melunasi semuanya. Karena yang aku dengar kamu sudah di antar pulang kerumahnya.” Teriak seorang wanita dari sebrang sana, yang tidak lain adalah Bibik Kevin sendiri. Yang menjadi kompor didalam rumah tangganya selama ini. Bik watik, dia adalah saudara ibu Kevin, yang selalu menjadi orang ketiga untuk memisahkan Kevin dan Julia.
Ibu Anisa juga tidak pernah membuat pernikahan Kevin dan Julia tenang, karena sering di mintai uang setiap Kevin gajian. Tanpa sepengetahuan Kevin, padahal Ibu Anisa sudah mendapat bagian tersendiri. Pernikahan yang baik-baik saja, akhirnya menjadi tidak baik dan hancur di tengah jalan.
“Saya akan bayar, setelah bekerja. Tidak perlu menyorak saya, bukankah anak Bibi perempuan, ingat Bik, karma itu tetap berlaku. lagian uang yang saya pinjam juga di pakai ibu, adik Bibik sendiri. kenapa saya justru jadi korban dari keborosan ibu.” Jawab Julia, lalu memutuskan panggilannya. Julia tahu apa yang akan di bicarakan Bik Watik jika terus berbicara. Lebih baik di blokir biar sekalian tidak berhubungan dengan keluarga Kevin. Membuat Julia semakin merasa sakit hati.
Ibu Fatma dan Bapak Aris sudah keluar, mereka membiarkan Julia istirahat. Meski sebenarnya Julia tidak bisa istirahat, pikirannya masih belum tenang. Rasa sakit masih terus menggerogoti tubuhnya. Sakit yang tidak bisa di lihat, sakit yang amat sakit, di campakkan secara tidak terhormat.
“Detik ini, jam ini, hari ini, aku akan tutup hatiku untuk kamu Mas. Cukup sudah kamu menyakiti aku, aku tidak akan pernah lagi memaafkan kamu, aku tidak akan lagi mengharap apa-apa darimu. Cukup sudah kamu melukai aku seperti ini.” Guman Julia sambil terus menangis, duduk di pinggir jendela yang menghadap ke samping rumah. Menatap langit yang indah dengan sinar purnama. Mungkin hanya mampu berkata, tapi pada kenyataannya, Julia sakit hati, dan masih mencintai Kevin.
“Hidupku tak seindah Rembulan Malam, hidupku gelap, sangat gelap, aku telah di campakkan oleh laki-laki yang aku pikir baik untukku, dan bisa menjadi tempat bersandar ternyaman untukku, tapi ternyata aku salah, kamu membangunkan aku istana cinta, Mas. hingga akhirnya kamu robohkan dan kamu ganti dengan gubuk derita. Aku tidak apa-apa kamu sakiti, aku tidak apa-apa kamu campakkan begitu saja. Tapi, Varo, anak yang masih kecil ini, kamu singkirkan juga. Tanpa memikirkan perasaannya."
Tubuh Julia seperti tidak bertenaga, lemas, dan tidak mampu berdiri. Malam yang sunyi, terus menemani, rasanya ingin berteriak karena sakit dan kesal, tapi ingat lagi bahwa dirinya harus kuat, demi Varo yang masih kecil.
Tidak ada harapan apapun, yang ada hanya sebuah perpisahan yang nyata di depan mata. Julia merebahkan tubuhnya di dekat Varo, mencoba memejamkan matanya, meski sulit dia tetap memejamkan matanya. Yakin jika dirinya akan mendapat jalan terbaik di balik sakit yang dirasakannya saat ini
Sampai akhirnya Julia benar-benar tertidur pulas, dan mampu mengalahkan rasa sakitnya dengan bisa terlelap. Tidak perduli seberapa besar rasa sakitnya, jika sudah terlelap akan terasa tenang dan damai.
__ADS_1
Pagi hari, Julia yang menyibukkan dirinya membantu ibunya memasak, sedangkan Varo sudah di bawa berjalan-jalan oleh Bapak Aris. Ibu Fatma sesekali melirik putrinya. Ada rasa sakit melihat putrinya menderita seperti itu. Dan tidak tega melihat wajahnya yang masih terlihat sedih.
Seorang ibu tetap akan memperjuangkan kebahagiaan anaknya, dan terus memberikan perhatian, Karena tidak ingin melihat putri satu-satunya terus sedih menghadapi semua masalah yang datang.
“Nak, kamu mandi dulu, setelah itu mandikan juga Varo.”
“Iya, Bu. Tapi Julia malas untuk mandi bu,”
“Ya sudah, kamu mandikan Varo, biar nanti Ibu bawa ke rumah H. Husni, biar dia main disana,”
“Sebaiknya Julia saja yang kerja di rumah H. Husni, Bu. Kan Cuma bungkus kue kering.”
“Jangan Nak, biar ibu. Kamu istirahat saja dulu. Nanti setelah siang kamu jemput ya, biar Varo tidur siang,”
Ibu Fatma tidak ingin Julia ikut bekerja. Apalagi dirumah H. Husni banyak orang, yang tidak mungkin dan pastinya akan menanyakan banyak hal. Ibu Fatma tidak mau itu terjadi. Baginya, cukup dia saja yang mendengar ocehan orang yang tidak suka, dan biarkan Julia tenang tanpa beban memikirkan hal yang membuat dirinya jadi bahan gunjingan.
Setelah Varo di bawa ke rumah H. Husni, Julia langsung membersihkan rumahnya. Dan langsung mencuci pakaian kedua orang tuanya. Yang Julia pikirkan hanya ingin melupakan semua perlakuan Kevin.
Setelah selesai semuanya Julia langsung beristirahat, karena masih jam 10, Julian memilih diam di kamar, sambil menulis di buku diary waktu masih belum menikah, terlihat sudah kusam. Tapi isinya masih bagus. Rapi dan tidak rusak.
( Kamu memberikan aku kehidupan yang layak memberi aku kehidupan yang luar biasa seperti bunga mawar yang terlihat indah, tapi menyakitkan saat tangan ini tertusuk durinya. Aku belum paham dengan sikap mu, tapi aku berusaha mengerti maksudmu. Cinta yang tidak biasa. Sampai-sampai aku tidak dapat maaf dan tempat berteduh di kehidupanmu. )
__ADS_1
(Cerita hidup yang sangat singkat seperti bunga yang indah. Saat dihisap madunya akan layu seketika, dan akan berguguran. Memberikan kenyamanan sesaat setelah itu menyampakkan aku begitu saja. Memberikan harapan yang luar biasa. Setelah itu mengembalikan aku secara tidak terhormat. Kamu memberikan aku luka, bukan luka biasa tapi luka yang luar biasa ).
Cintaku sudah kandas, cintaku sudah tuntas, cintaku sudah lenyap, tanpa bekas. Tidak ada syarat, tidak terucap, tiba-tiba saja, meninggalkan aku tanpa sebab. Pergi, pergi, aku bukan wanita sempurna yang pantas kamu bela. Aku hanya sampah yang pantas di buang dan tidak perlu kamu toleh.
Sedih, sakit, kecewa, itu yang di rasakan Julia saat ini. Julia meletakkan diary itu. Kemudian mengusap air matanya, lalu pergi.
Saat dijalan menuju kerumah H. Husni, Julia bertemu Ibu Silfi, Julia langsung menyalaminya.
“Nak Julia sehat?”
“Alhamdulillah Buk Silfi, Ibuk sendiri bagaimana?”
“Sehat, kamu kapan pulang?”
“Tadi malam buk,” Jawab Julia.
Ibu Silfi, termasuk wanita yang sering menjadi penyambung bicara, sehingga sampai semua warga kampung tahu. ghibahnya luar biasa.
“Sama Kevin???”
__ADS_1