
Bertubi-tubi, merasakan sakit hati. Perasaan yang di permainan, tidak dihiraukan seperti mengemis Kebahagiaan. Habis manis sepah di buang.
“Mas, kenapa kamu ajarkan kebohongan kepada Varo? Kenapa kamu meletakkan semua kesalahan kepadaku? Kamu benar-benar menyakiti aku.” Julia kesal, dengan nada keras, dia berbicara dengan Kevin.
“Kamu tidak perlu lagi datang pada kehidupan Varo. Lihatlah, dia sudah bahagia dengan ibu sambungnya. Varo sudah menerima Dian sebagai penggantimu.” Jawaban Kevin tenang, membuat Julia sakit hati.
“Dia anakku, apa hak kamu melarang aku bertemu Varo? Apa kamu hanya berharap uangnya saja yang sampai kepadamu?” Tuduh Julia, karena sudah kesal dengan ucapan Kevin.
“Lebih tepatnya seperti itu. Biar kamu bisa membayar apa yang kamu habiskan selama ini.” Jawabnya sinis.
“Kamu itu kepala keluarga, uang yang kamu berikan kepadaku, seharusnya tidak kamu ungkit lagi. Tapi tidak apa-apa, semoga kamu tambah sukses, aku akan penuhi kebutuhan Varo tiap bulan. Dan kamu, fokus saja pada belanja istri barumu.” Ujar Julia, lalu masuk ke Taxi.
Naila tidak habis pikir dengan ucapan Kevin. Dia juga tidak bisa ikut marah atau melawan Kevin. Karena itu adalah masalah pribadi Kevin dan Julia. Tapi dari perkataan Kevin, sudah membuktikan, kalau Kevin, laki-laki yang mau menang sendiri.
Naila pernah gagal menikah, tapi tidak sepahit Julia. Naila bercerai karena suaminya pergi kerja ke luar negeri, dan menikah lagi. Beruntung masih tidak di karuniai seorang anak. Sehingga tidak ada beban antara Naila dan suaminya.
Berbeda dengan Julia, sudah mempunyai anak, perceraian yang akan membawa luka sepanjang hidupnya. Dia akan terus terbebani karena tidak mempunyai hak atas Varo.
Perjalanan yang masih panjang. Varo akan mengerti jika di sudah dewasa. Tapi, kedua orangtuanya tidak akan tahu, seperti apa tumbuh kembang Varo. Menjadi egois atau penurut, hanya waktu yang dapat menjawab semua.
Julia tak henti-hentinya menangis. Terasa sesak dalam dadanya, kehidupannya belum seutuhnya sempurna. Meski uang yang dia pegang banyak, tapi, Julia tidak bahagia. Putranya tidak bisa dia raih, tidak bisa di peluk. Anak kecil yang sudah di racuni pikirannya, membuat Julia harus jauh dari putranya sendiri.
“Kamu harus sabar, kalau kamu terus sedih, kamu tidak akan pernah menang. Tunjukkan bahwa kamu mampu merebut Varo kembali. Tapi, kamu harus kerja keras dulu.”
“Kamu benar, Nai. Aku harus mengambil hak asuh Varo lagi. Sekarang aku akan fokus bekerja, demi masa depan Varo dan kedua orangtuaku.”
“Aku yakin kamu bisa.”
“Terimakasih, kamu mau menguatkan aku.”
“Sama-sama. Kamu telepon Irwan dulu. Lebih baik kita pulang awal saja. Tidak perlu bermalam.”
“Baiklah.” Jawab Naila.
__ADS_1
Julia menelepon Irwan, untuk dipesankan pesawat Surabaya-Bali. Sebenarnya Julia meminta izin dua hari. Tapi, keadaan berbeda, yang diharapkan Julia tidak sesuai dengan yang di rencanakan. Ternyata Varo tidak mau bersama Julia. Dia memilih menjauh, pergi bersama Kevin dan istri barunya.
Julia mengambil Handphone nya. Dia mengirim pesan kepada Kevin. Rasanya Julia ingin mengeluarkan uneg-uneg yang sejak tadi ada di benaknya.
( Saat ini aku telah kau hancurkan. Tega dirimu mendustai aku. Aku tidak akan melupakan dan akan terus membekas di ingatanku. Betapa aku tersiksa. Kau membuatku hancur. Gelisah hatiku, tidak berdaya, aku ingin melupakan kejadian hari ini. Aku ingin bahagia. Ikrar yang kamu ucapkan, hanyalah ucapan palsu. Kamu mengatakan cinta kita abadi, tapi ternyata kamu menghancurkan sendiri.
Jangan pernah berharap, aku tidak akan lagi menoleh untukmu. Suatu saat nanti karma akan datang menyapamu, dan kedua orangtuamu.
Aku tidak menyumpahi, tapi apa yang terjadi pada kehidupanku, sudah benar-benar kamu hancurkan.)
“Kamu serius sekali, lagi ngapain?” Tanya Naila membuat Julia terkejut.
“Aku lagi mengirim pesan kepada Kevin,” Jawab Julia, sambil mengamati handphone nya
“Untuk apa?” Tanya Naila, tidak suka jika Julia masih peduli pada Kevin.
“Aku harus keluarkan semua uneg-uneg di kepala ini, biar dadaku tidak sakit. Kalau aku masih pendam, sampai kapanpun tidak selesai-selesai.”
“Tapi jangan di jadikan alasan untuk terus ngeluarin uneg-uneg. Entar malah gak bisa move on.” Ledek Naila, sambil menghibur Julia.
“Siapa tahu, apalagi Kevin ganteng,” Naila menyenggol lengan Julia.
“Ya ampun, kamu ini cerewet banget ya, sudah sana cepat mandi.” Julia mendorong tubuh tubuh Naila.
“Benar kan? Eman sama Kevin karena ganteng, hehe “ Goda Naila, lalu berdiri dan langsung masuk kekamar mandi. Karena harus siap-siap ke bandara.
Mereka sudah siap-siap untuk pulang lagi ke Bali. Dengan jadwal penerbangan Jam sembilan malam.
Rasanya berat melangkah, tapi Julia harus pergi. Bukan karena tidak perduli, bukan juga tidak ingin bersama Varo. Keadaan membuat Julia harus pergi. Seorang ibu yang dengan terpaksa meninggalkan buah hatinya, seorang yang pura-pura tegar dengan keadaan yang di hadapinya.
Pesawat telah terbang tinggi di angkasa. Tetes bening itu terus mengalir dipipi Julia. Naila, membiarkan Julia menangis, butuh waktu, dan itu tidak mudah. Naila hanya menggenggam tangan Julia.
Tidak lama Pesawat sudah mendarat di bandara internasional Ngurah Rai. Semua penumpang turun, melangkah pergi sesuai tujuan masing-masing. Mereka berdua langsung menuju ke parkiran, dimana sudah di jemput oleh Irwan.
__ADS_1
Saat Irwan melihat mata Julia, sembab. Irwan terkejut, kemudian menghampiri Julia.
“Kamu kenapa Jul?” Tanya Irwan khawatir.
“Tidak apa-apa.” Jawab Julia singkat.
“Tapi mata kamu?” penuh perhatian.
“Aku hanya kelilipan saja.” Jawab Julia lalu masuk kemobil, yang biasa di pakai para pelayan.
Naila diam saja, tidak mungkin Julia menceritakan apa yang terjadi, dia bukan wanita yang biasa membeberkan rahasia hidupnya.
Irwan pun masuk, dia tidak banyak bertanya lagi. Tapi, Irwan tetap khawatir kepada Julia.
Sesampainya di Villa, mereka langsung turun. Julia langsung kekamar nya, sedang Naila masih mengambil tasnya
“Nai, kanapa dengan Julia?” Tanya Irwan belum puas denga. Jawaban Julia.
Naila menatap Irwan dengan tatapan kesal
“Kamu itu lucu, sudah di jawab kok malah tanya aku.”
“gak mungkin kelilipan, dia pasti nangis, ayo cerita ada apa?”
“Namanya habis ketemu anak, pasti lah sedih. Puas kamu. Lagian kamu kepo.” Jawab Naila lalu masuk juga.
Naila, langsung istirahat karena capek merek tertidur pulas dengan cepat. Tidak memikirkan apa-apa lagi.
Ketika Naila dan Julia terbangun, mereka terkejut, karena mereka melihat sosok yang tidak asing bagi Julia dan Naila. Yang tidak lain adalah Geffie.
“Silahkan kemasi baju kalian, saya mau kalian keluar dari villa saya.” Teriak Geffie.
__ADS_1