
Seperti lautan luas, seluas itu harus bersabar, tidak ada batas karena semu yang datang bagaikan ombak yang bergantian menghantam batu karang. Tetap kuat dan ikhlas.
Julia menemani Geffie menuju mobil. Disusul Eyang. Dia memilih tidak ikut ke pantai, karena ada urusan bisnis yang tidak bisa di tinggalkan.
“jul, titip Geffie ya, kamu yang lebih tahu anakku.”
“Iya, Eyang.” Jawab Julia.
Satu sopir dan satu pengawal, ikut serta mengantarkan Julia dan Geffie. Mobil sudah meninggal kediaman Eyang. Dari Pecatu, mobil itu menuju ke pantai Melasti, yang tidak jauh dari rumah Eyang.
“Pak Man, ini pantai apa?” Tanya Julia yang tidak pernah tahu suasana Bali. Bahkan Julia baru pertama pergi ke pantai.
“Ini pantai Melasti Mbak Jul, tuan Geffie juga tidak pernah kesini. Karena waktu Tuan Geffie masih SMA, pantai ini belum ada.”Jawab Pak Man, sopir sekaligus pelayan yang lumayan lama di rumah Eyang.
“Mama sering kesini Pak,” tanya Geffie juga.
“Nyonya,kesini sering di undang acara resepsi pernikahan. Kalau hanya untuk jalan-jalan Nyonya tidak mau. Mama Tuan itu lebih memilih dirumah dari pada pergi ke hal yang menurutnya tidak penting.”
“Aku mau tiap hari kesini, Julia maukan menemani Geffie?”
“Dengan senang hati Tuan, tapi harus janji, tidak boleh nakal.” Ujar Julia dengan senyum manisnya.
Pengawal yang duduk di depan melihat dengan tatapan suka kepada Julia. Irwan, laki-laki yang masih berumur 25 tahun, belum menikah. Pertama kali bertemu Julia langsung jatuh cinta.
“Pak Irwan, seperti mulai tadi memperhatikan ku? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Atau tingkahku?”
Pertanyaan Julia membuat Irwan salah tingkah.
“E’e enggak Mbak. Tadi aku lihat Mbak Jul, yang ngobrol sama Tuan Geffie.” Jawabnya gugup.
“Aku pikir, aku punya salah.”
“Kamu tidak lagi mencuri pandang Julia kan Wan?” ledek Par Man.
“Ah, bapak ini ada-ada saja.” Ujar Irwan mengelak.
“Pak, bahas apa sih, kok bisik-bisik gitu?.”Julia pemasaran.
“hahaha, tidak ada apa-apa Mbak Jul.”
Geffie terlihat cuex dengan obrolan yang berlangsung. Tanpa sadar, mereka sudah sampai.
“Pak, berapa bayar karcisnya?”
__ADS_1
“25 ribu “
“Murah ya pak,”
“Iya. Kalian bisa turun dulu, Pak Man mau parkir dulu ya.”
“Siap Pak.”
Julia langsung turun, kemudian di susul Geffie. Mereke menuju pantai. Irwan membawa perlengkapan Geffie, dan makanan yang sudah di sediakan oleh Eyang.
“Aku mau mandi Jul,” Geffie langsung berlari ke pantai, Julia mengejarnya. Karena takut Geffie tenggelam. Sebenarnya Julia paling takut kalau harus berenang. Di kolam renang saja Julia takut berenang.
“Tuan, jangan pergi ke tengah, cukup di pinggir saja.” Ujar Julia.
“Tapi aku mau mandi ke sana.”Tunjuk Geffie kearah yang lebih dalam lagi.
“Tuan bisa mati. Dan Julia akan di hukum, turuti apa kata Julia, kalau tidak kita akan pulang.” Ujar Julia dengan mimik wajah marah.
Geffie menunduk. Layaknya anak kecil yang sedang di marahi karena salah
“Baiklah. Aku akan duduk disini saja,”
“Baru anak pintar.”
Julia tersenyum, melihat tingkah Geffie yang lucu. Tapi iba melihatnya yang sudah dewasa seperti anak kecil.
“Pak Irwan, titip Tuan Geffie ya. Aku mau beli es kelapa hijau dulu. Pak Irwan mau? Kalau mau aku sekalian beli,”
“Boleh deh Mbak Jul. Tapi jangan panggal Pak, kayak orang tua saja aku Mbak.”
“Oke, siap. Aku panggil Mas Irwan saja ya.”
“Nah gitu lebih asyik didengarnya.”
Julia pamit juga pada Geffie, dan Geffie mengizinkannya.
Di sisi lain, Kevin mendapat panggilan kepengadilan. Untuk mengambil surat cerai, yang di urus secara sepihak oleh Kevin. Dengan di dampingi teman sekantornya yang sudah dekat beberapa hari yang lalu.
Diandra, yang lebih akrab di panggil Dian. Yang udah menerima telepon waktu Julia telepon. Dian, bisa mengambil hati Varo, dan Varo bisa akrab dengan Dian. Karena surat cerai sudah selesai, dengan perasaan senang, Kevin menunjukkan kepada Dian, dan mengatakan ingin menikahi Dian secara sah.
Dalam sekejab, semua berlalu dan tidak tersisa sedikit pun cinta untuk Julia. Bahkan sudah memutuskan menikah lagi, tanpa berpikir apakah Varo akan bahagia dengan pernikahannya atau sebaliknya.
Karena Dian seorang wanita karir, sedang Julia hanya ibu rumah tangga yang berpenampilan sederhana. Di pandang secara penampilan, Diah jauh lebih cantik dan modis.
"Sudah selesai Mas surat cerainya?"
__ADS_1
"Sudah,"
"Untuk mantan istrimu apakah sudah mendapatkan juga?"
"Kalau dia tidak mau mengurus ya tidak bisa. Harus menghadap juga kesini. Aku sengaja membuat surat cerai tanpa harus dia hadir." Ujar Kevin, merasa menang atas semuanya.
"Kamu pintar juga Mas."
"Karena aku tidak mau terbeban hutang kalau masih bertahan dengannya." Jawab Kevin, mencubit hidung Dian.
"Auw, sakit Mas."
"Kalau begini," Sambil mencium pipi Dian.
"Gombal." Ujar Dian, mencubit pinggang Kevin.
"Aku kirim bukti surat cerainya, biar dia tahu kalau aku serius." Kevin menabil foto akta cerainya, lalu mengirim ke nomor Julia. Senyumnya mengembang seakan menyorak kekalahan yang di alami Julia.
"Kita pulang, Ibu pasti senang kalau tahu aku sudah sah menceraikannya."
"Iya,Mas. Sekalian kita rayakan makan di restoran."
"Boleh, asal kamu beri aku bonus."
"Jangan khawatir, bisa diatur kok."
Mereka pulang, karena sudah siang, mereka langsung kekantor. Kembali bekerja, sebelum memberi tahu kedua orang tua Kevin. Semua teman-teman kantonya mendukung dengan hubungan Kevin dan Dian. Mereka yang lebih tahu cerita keluarga Kevin, menganggap Julia lah yang salah. Dan mendukung hubungan Kevin dengan Dian.
Setiap kesalahan yang tidak di lakukan sendiri, dapat dengan mudah di tuduhkan tanpa di minta memberikan penjelasan apapun. Tapi, Julia tidak perduli akan itu, dia lebih memilih dia tanpa banyak bicara.
Jam menunjukkan pukul 11,00. Matahari sudah sangat terik, Julia mengajak pulang. Geffie yang awalnya menolak pulang akhirnya menurut dengan perintah Julia. Julia yang lupa tidak mengaktifkan handphone nya langsung mengaktifkannya.
“Banyak pesan masuk, dari Eyang juga.” Ujar Julia.
“oh iya Mbak Jul. Tadi Eyang telepon, menanyakan kenapa nomor Mbak Jul tidak aktif. Saya jawab kalau Tuan Geffie main di pinggir pantai, dan saya bilang Handphone Mbak Jul di mobil “ ujar Pak Man.
“Makasih ya Pak. Kalau sudah tahu kabar kita, Eyang pasti tidak cemas lagi “
“Iya, Mbak.” Jawab Pak Man.
Julia terus menggeser-geser handphonenya, melihat siapa saja yang menghubunginya. Dan yang terakhir pesan wathshap dari Kevin. Julia terkejut melihat isi pesannya. Matanya tanpa sadar berkaca-kaca. Mengatur nafas menariknya dalam-dalam. Ingin rasanya berteriak, tapi dia tahu semua tidak akan mungkin kembali lagi. Surat cerai sudah Kevin dapat, dan Julia tidak bisa menuntut apapun. Apalagi ada Varo yang masih tertahan di sana.
“Kamu menangis Jul?” Kevin menghapus air mata Julia. Ttanpa berbicara apapun, Julia berusaha menyembunyikan semuanya.
Ketika yang di harapkan tidak sesuai kenyataan, hanya rasa sakit yang tidak bisa di lawan. Menjadi penghuni di dalam hati, membuat hati terluka dan perih.
__ADS_1