
Manusia hanya bisa berusaha, berdoa, selebihnya Tuhan yang akan mengaturnya. Semua yang terjadi adalah skenario kehidupan. Yang pada akhirnya punya akhir sendiri-sendiri.
Julia langsung melompat kekolam renang, dia tidak sadar jika dirinya takut karena tidak bisa berenang. Tapi entah dengan sendirinya Julia bisa membawa tubuh Geffie ke tepi.
“Cepat bantu angkat tuan Geffie dan Julia. Ujar Irwan. Begitu juga Eyang, dia sangat panik. Geffie tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke rumah sakit. Sedangkan Julia masih duduk di kursi dekat kolam tersebut. Dia masih mengingat kejadian itu. Dimana dia tanpa sadar sudah bisa berenang dan menolong Geffie.
“Jul, kamu minum dulu, biar kamu tenang.”
“Aku, khawatir sama Tuan Geffie, dia tadi lemas sekali, aku harus lihat keadaan Tuan, biar bagaimanapun aku yang merawat dia.”
“Tapi kamu juga lemas,”
“Aku tidak apa-apa. Antar aku kerumah sakit yang biasa keluarga Eyang kunjungi.”
“Baiklah kita kesana, biasanya, kalau Tuan muda sakit, Eyang membawanya ke rumah sakit Udayana.”
“Aku harap, dia baik-baik saja.”
“Semoga seperti itu.”
“Aku ganti baju dulu,”
“Aku tunggu di luar.”
Naila segera memesan tadi online, tak lama Julia sudah keluar, dan langsung masuk ke taxi yang sudah menunggu.
Julia banyak diam, masih memikirkan yang terjadi dengan Geffie. Dia yang penakut akhirnya jadi pemberani.
Karena jarak antara Pecatu dan rumah sakit Udayana dekat, Julia dan Naila sudah sampai. Mereka langsung masuk setelah membayar uang taxi tersebut.
Ternyata ada Pak Man di lobi rumah sakit. Julia dan Naila diantar masuk oleh Pak Man.
Diruang UGD, Eyang menunggu dokter, berharap tidak terjadi apa-apa dengan Geffie.
“Eyang,”Sapa Julia
“Kamu kenapa kesini, apakah kamu baik-baik saja? Sebaiknya kamu istirahat.” Ujar Eyang juga khawatir kepada Julia.
“Julia baik-baik saja, Eyang jangan khawatir. Bagaimana keadaan Tuan Muda? Justru kita yang khawatir dengan keadaan nya.”
“Masih belum ada kabar, dokter masih didalam. Aku takut hal buruk menimpanya. Aku tidak mau kehilangan dia,” Ujarnya sedih.
“Eyang jangan khawatir, percaya dan yakinlah semua akan baik-baik saja.”
“Terimakasih, kalau tidak ada kamu entahlah. Aku berhutang Budi sama kamu Jul.”
“Menjaga Tuan Muda adalah tugas saya Eyang, jadi apa yang saya lakukan adalah tugas pekerjaan saya. Tapi, apa sebenarnya yang membuat Tuan Muda melompat ke kolam renang? Dan kenapa sampai tenggelam? Bukankah Tuan bisa,”
__ADS_1
“Saya masuk ke dalam sebentar saja, pas setelah keluar Geffie sudah tenggelam. Dia tidak bilang kalau mau berenang. Kalau saya tahu kejadiannya akan seperti ini, lebih baik saya tidak pergi kemana-mana.”
“Eyang jangan menyalakan diri sendiri, karena yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Berdoa saja, yang terbaik akan datang untuk Tuan Geffie.”
Tak lama dokter keluar, Eyang langsung berdiri dan menghampiri.
“Bagaimana dengan putra saya Dok?”
“Masih belum sadar Bu. Tapi syukurlah sudah lewat masa kritisnya. Tadi sempat tidak bisa bernafas, mungkin karen sok atau dia sedang banyak pikiran. Sehingga begitu tenggelam dia pasrah saja. Dan akhirnya dia sampai menelan banyak air “
“Apakah anak saya, bisa cepat pulih?”
“Ibu jangan khawatir, putra ibu pasti akan cepat sadar.” Sebentar lagi dia akan di pindahkan keruang ICU, tapi kalau dalam waktu 30 menit sudah sadar, kita pindah ke ruang rawat inap.”
“Terimakasih, Dokter.”
“Sama-sama, Kalau mau di jenguk boleh, tapi satu orang saja “
“Baik, Dok.”
Eyang segera masuk, dia ingin melihat keadaan putranya, perasaannya lebih tenang, setelah tahu Geffie baik-baik saja.
Julia dan Naila ikut senang mendengarnya, mereka duduk kembali diruang tunggu depan UGD. Pak Man juga senang dengan kabar baik itu, dia kembali lagi ke parkiran dan menunggu di luar.
••••
Disisi lain, Kevin membawa Dian ke Mall bersama Varo. Kevin membelikan mainan untuk Varo. Dian juga berbelanja baju. Tidak seperti Julia dulu, yang lebih senang dirumah saja. Da. Memang jarang di ajak jalan oleh Kevin. Apalagi ibu Anisa selalu mengatur setiap apa yang ingin Julia lakukan. Hingga akhirnya Julia menyerah pada keadaan yang membuat dirinya harus menanggung malu karena hutang mertuanya.
“Mas, mainan untuk Varo beli yang murah saja. Eman loh uangnya.”
“Iya, tapi sekali aku ingin Varo senang.”
“Iya, boleh, asal jangan sering-sering. Pemborosan nantinya. Kita harus banyak menabung, supaya hidup kita tidak sudah, dan tidak banyak hutang.”
Kevin diam saja, dia hanya mengangguk tidak berkata iya, atau tidak. Setelah berbelanja kebutuhan Varo mereka pulang. Pergi kerumah orang tua Kevin untuk membicarakan pernikahan Kevin dan Dian.
Varo sudah di buat lupa kepada ibunya, dia lebih memilih diam, dan tidak banyak bertanya.
Alasan demi alasan yang di jawab oleh Kevin, ketika Varo bertanya Kamana ibunya. Kevin sudah bisa menguasai pikiran Varo, dan membuat Varo benci pada ibunya.
Tak lama kemudian mereka sampai, ibu Anisa sudah menunggu di ruang keluarga.
Bapak Ahmad juga sudah menunggu, untuk membicarakan pernikahan Kevin.
“Ibu, bapak “ mereka menyalami keduanya. Varo langsung masuk dan menonton televisi.
“kalian dari mana saja?” tanya Ibu Anisa.
“Beli mainan Varo Bu,”
__ADS_1
“Kalau tidak minta mainan, jangan di belikan, dia masih kecil, lebih baik punya uang di tabung saja.” Ujar Ibu Anisa, yang memang ingin menguasai keuangan Kevin.
“Uang Varo sendiri Bu,” Jawab Kevin.
“Emang dari mana Varo dapat uang,”
Tanya ibu Anisa, Dian juga menoleh.
“Mamanya yang kirim,” Jawaban Kevin membuat kedua nya terkejut. Begitu juga bapak Ahmad.
“Kami tidak salah bicara kan?”
“Julia kerja, dia bilang sudah bisa membantu uang jajan Varo. Saya rasa itu bagus, dia anaknya.” Jawab Kevin.
“kirim berapa?” tanya Ibu Anisa Kepo.
“2 juta,”
“Kerja apa, mantan istrimu itu, gajinya kok lebih dari orang tamatan SMA saja. Kalau gaji anak lulusan SMP itu hanya 2 jutaan.”
“Bu, sudah jangan bahas itu lagi, saya kesini mau bicara masalah pernikahan ku dengan Dian.”
Dian tidak bicara, melihat Kevin membahas Julia, dia merasa cemburu dan kesal.
Tidak heran hanya memikirkan uang dan uang, karena Ibu Anisa orangnya boros dan sombong. Sama dengan dian, yang selalu sok kaya.
Karena Kevin kesal, akhirnya mereka berhenti membahas Julia.
Mereka membahas untuk pernikahan Kevin. Membicarakan hari yang baik dan semua biaya yang akan di keluarkan.
•••••
Julia masih menunggu di depan ruang UGD, sudah lebih satu jam Eyang tidak keluar. Tak lama kemudian Eyang keluar dan meminta Julia masuk.
“jul, ikut denganku,”
“Baik, Eyang.”
“Nai, kamu tunggu disini ya,”
“Baik Eyang.”
Julia dan Eyang pun masuk, menemui Geffie yang tengah berbaring lemas di tempat tidur.
“Tuan, sudah sadar,” tanya Julia senang, melihat Geffie yang sudah siuman.
“Terimakasih,” Ucapnya, simpel, lalu diam dengan wajah datar.
Julia heran dengan sikap Geffie, yang tidak biasanya seperti itu. Karena biasanya Geffie manja dan menyapa Julia jika bertemu.
__ADS_1
“Ma, aku mau sama Mama, suruh dia keluar,” Ujar Geffie. Sontak Julia terkejut apalagi Eyang.