
Tidak akan mudah lupa dengan perjalanan cinta yang tak sebentar. Tidak semudah membalikkan tangan. Akan ada sakit hati dan kecewa, meski mulut terus berkata aku sudah tidak cinta.
Suara perempuan, terdengar lembut, membuat detak jantung tidak karuan. Julia langsung memutuskan panggilannya. Sakit, meski mengatakan akan menutup hati dan melupakannya.
Julia masih mengatur nafasnya, dia seperti sesak. Tiba-tiba saja ada handphonenya berdering. Di lihatnya panggilan dari siapa.
“Kevin,” bingung mau bicara apa jika wanita yang menerima panggilan itu yang bicara. Tapi, Julia ingat Varo, tujuan menelepon untuk Varo. Segera Julia terima.
“Ada apa?” Tanya singkat, ketus. Suara yang tidak asing, suara Kevin.
“Aku mau bicara dengan Varo,” Jawab Julia.
“Masih ingat kamu untuk menelepon Varo, dia sudah lupa. Jangan ganggu lagi.”
“Mas pikir aku lupa, aku akan terus mencintai Varo. Mas yang salah, kenapa merebut Varo dari hidupku.”
“Kamu pikir aku akan membiarkan anakku di asuh ibumu, tidak akan aku biarkan dia kehilangan kasih sayang orang tuanya.”
“Mas, jangan berpikit jahat pada orang tuaku, dia sangat sayang pada anakku. Aku bekerja demi Varo,”
“Bekerja jadi pembantu, yang seumur-umur tidak akan sanggup memberikan yang terbaik untuk Varo.” Jawabnya sinis.
“Terserah mau menilai aku seperti apa Mas. Yang pasti gajiku lebih besar dari gajimu.” Ujar Julia kesal.
“Hahahaha, mana ada gaji besar untuk lulusan SMP sepertimu, kalau tidak jual diri,”
“Cukup mas, kamu terus menghinaku, bukan kamu yang mengatur rejeki ku, tapi tuhan. kamu boleh menghinaku, dengan senang hati aku akan ikhlas menerimanya. Tujuanku menelepon hanya ingin bicara dengan Varo.”
“Kenyataan, bukan menghina kamu. Hanya heran saja waktu bilang gajinya lebih besar dari aku. Varo gak ada, dua sudah tidur. Kamu tidak perlu cari Varo, dua sudah bahagia dengan keluarga barunya.”
__ADS_1
“Jahat kamu, Mas. Baiklah aku tidak akan memaksa, cukup kamu tahu, aku sudah mengirim uang untuk Varo. Aku rasa itu cukup buat jajannya. Suatu saat nanti Varo akan mencariku dengan sendirinya. Apa yang kamu lakukan tidak akan pernah aku lupakan Mas.”
Julia langsung memutuskan panggilan teleponnya. Dia langsung menangis, mengingat kata-kata yang terucap dari mulut Kevin. Bukan pembelaan tapi sakit yang terus menyiksa dirinya. Tidak ada yang mampu membuatnya tenang, kecuali Varo, kekuatan terbesarnya, tapi saat ini Varo jauh darinya.
Malam sudah semakin, membuat Julia tidak bisa memejamkan matanya. Julia keluar dari kamar, membuka pintu kamar Geffie. Karena pulas, Julia menutup kembali kamar Geffie. Dua luar terlihat terang, sinar rembulan sangat terang sekali. Julia duduk di teras. Terdengar suara ombak nyaring sekali. Datang dan pergi silih berganti.
“Hidupku tidak seindah rembulan, tidak bisa menerangi kehidupan keluargaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, kecuali pasrah akan takdirmu ya Robby. Aku mampu terlihat kuat, meyakinkan hati untuk terus tegar, tapi aku juga manusia biasa yang pada saatnya lelah dan butuh sandaran. Mas, kamu mudah melupakan sejarah cinta kita, dan lebih memilih melupakan aku, tanpa harus memperjuangkan aku. Andai saja Mas, kamu ada di posisiku, pasti kamu akan hancur seperti aku saat ini. Tenangkan hati Hamba Tuhan, Hamba ingin menjadi wanita kuat, seperti saat Hamba menasehati Tuan muda Geffie.”
Tangis Julia semakin pecah, dia terus menangisi takdirnya, teringat Varo, buah hatinya yang tanpa sadar sudah lepas dari genggamannya.
Saat semua pergi dan menjauh, saat itu juga Julia berjuang untuk bangkit demi masa depanya. Dan demi merebut Varo kembali.
“Kamu kenapa Jul?” suara Eyang tiba-tiba mengagetkan Julia.
“Eh, Eyang.” Julia segera menghapus air matanya dan langsung berdiri.
“Ada apa? Kenapa kamu sampai terisak. Apa ada masalah yang tengah kamu hadapi?”
“Maaf Eyang, sebenarnya yang menjadi penjaga Tuan muda dan menasehati Tuan muda, lebih banyak masalah. Hanya saja saya berusaha tegar dan berusaha menjadi suster yang baik untuk Tuan muda.”
Eyang menyuruh Julia duduk di dekatnya. Memegang tangan Julia, seperti bicara dengan anak sendiri.
“Sebenarnya saya baru saja di cerai suami Eyang. Anak saya di ambil oleh suami.” Ujar Julia menceritakan semua masalah keluargany. Eyang tidak tega mendengar cerita Julia, yang di hina dan dianggap tidak benar oleh suaminya sendiri.
“saya orang miskin Eyang, sudah hati-hati, takut salah dan akhirnya mengecewakan orang lain. Tapi, saya selalu salah di mata suami dan keluarga mertu saya.”
“Kamu yang sabar, buktikan kalau kamu mampu, dan bisa berdiri sendir tanpa bantuan suami kamu. Apapun yang kamu hadapi, jalani. Hidup itu ibarat air yang mengalir, meski berubah kotor dan keruh, tapi tetap akan mengalir. Dan akan berubah menjadi jernih lagi.”
“Terimakasih Eyang, sudah memberikan semangat. Sejak tadi bingung memikirkan nasib saya, takut kehilangan anak satu-satunya.” Ujar Julia lebih tenang.
“jangan khawatir, anakmu tetap akan ingat, dan suatu saat nanti dia akan tahu kebenaran yang sesungguhnya. Jadi berhentilah memikirkan yang tidak-tidak.” Nasehat Eyang, sambil mengelus kepala Julia.
__ADS_1
“Eyang sosok wanita kuat dan hebat, satu lagi, baik kepada saya dan kepada yang lain.”
“Kita harus saling mengasihi antara satu dengan yang lain. Saling tolong menolong, apalagi kita sama wanita. Sekarang tidurlah, besok Geffie akan bangun pagi mengajak kamu ke pantai.”
“Baik Eyang, sekali lagi terimakasih,”
“Iya,” jawabnya dengan senyum tulus, setulu hatinya mengasihi sesama.
Eyang pun pergi, dia kembali ke kamarnya dan istirahat. Begitu juga Julia, dia segera istirahat dan tidur. Meski sulit tidur, Julia tetap memejamkan matanya.
Jam menunjukkan pukul 04.00, Julia segera bangun, setelah mandi dan sholat, Julia langsung membersihkan kamarnya sendiri kemudian membersihkan kamar Geffie, memberapikan baju-baju yang tidak beraturan di lemari Geffie. Dan menyiapkan baju yang akan pergi ke pantai. Setelah siap, Julia segera keluar pergi menemui Naila.
“Nai,” panggil Julia.
Naila menoleh, terkejut melihat mata Julia bengkak, karena semalam manangis.
“Kamu???” Naila tidak melanjutkan pertanyaan nya
“Gagal, aku tidak bicara dengan Varo. Mas Kevin melarangnya.” Ujar Julia.
“Laki-laki kurang ajar. Tidak waras si Kevin itu ya,” Ujar Naila marah.
“Aku akan berusaha sabar, semoga apa yang terjadi pada kehidupanku, tidak menjadi balasan pedih untuk kehidupan Mas Kevin. Aku berusaha menerima, meski aku hancur, dan sepertinya Mas Kevin sudah menikah lagi,”
“Apaaa??? Yang bener kamu?.”
“Iya, tadi malam waktu aku menelepon, yang angkat pertama perempuan,” Jawab Julia pelan. Ada sedih yang masih menyelimuti di wajah Julia.
“Kamu harus kuat dan percaya lah, semua akan ada masa bahagianya.”
__ADS_1
“Makasih Nai.”
“Sama-sama,”