
Seorang ibu sanggup melakukan apapun, hanya demi kesenangan putranya. Meski harus menyakiti perasaan orang lain.
“Kenapa harus di pecat? Mereka orang baik, dan jujur Nak.”
“Mama lebih sayang Geffie atau mereka?” pertanyaan yang tidak dewasa, membuat Eyang tidak bisa menjawabnya.
“Banyak cheff laki-laki, dan OB laki-laki, tidak ada salahnya kalau dirumah ini kita pakai pelayan laki-laki semua,” ujar Geffie.
“Oke, mama akan pecat mereka. Tapi besok, kalau sekarang kasihan, mereka tidak tahu Bali, jadi biarkan mereka disini dulu, sambil mama Carikan tempat kerja yang baru untuk mereka.” Jawab Eyang, meyakinkan Geffie, agar tidak memaksa Eyang lagi.
“Baik, Geffie percaya yang di katakan Mama, besok mereka berdua harus sudah pergi.” Ujar Geffie dengan sikapnya yang acuh dan maunya sendiri.
Eyang hanya mengangguk, dia memikirkan nasib pelayan perempuannya. Karena bukan hanya Naila dan Julia. Tapi, ada Mbok Wayan dan Mbok Mang di rumah itu.
Geffie langsung pergi, dia langsung kekamar nya, disana sudah terlihat rapi. Irwan terpaksa berbohong mengatakan, jika, yang membereskan semuanya adalah dirinya, karena tidak mau Julia, dan Naila, dimarahi lagi.
“kamu juga pintar membereskan semua barang ini. Kalau sudah kamu boleh pergi. Sisanya biar aku yang selesaikan.”
“Baik tuan,”
Ternyata berbicara dengan Irwan, Geffie lebih lembut. Berbeda jika bicara dengan Naila dan Julia.
Di ruang kerja, eyang tampak bingung, karena memikirkan nasib Julia dan yang lain. Dia memikirkan bagaimana caranya agar mereka tetap bekerja. Tidak menyakiti atau membuat mereka tidak punya pekerjaan. Segera Eyang menelepon seseorang, yang tidak tahu siapa yang di hubungi.
Setelah selesai bicara, Eyang memutuskan panggilan teleponnya. Dan keluar menuju tempat Julia dan Naila.
Tampak Julia dan Naila sedang duduk di teras kamarnya. Mereka seperti sedih sekali dengan apa yang terjadi.
“Nai, Jul.”
Keduanya menoleh, dan berdiri.
“Iya, Eyang?”
“begini, dengan berat hati, kalian tidak bisa lagi kerja disini,” ujar eyang dengan mata berkaca-kaca.
Naila dan Julia saling pandang. Sedih, takut tidak dapat pekerjaan lagi.
“Apakah kita di pecat Eyang.”
__ADS_1
“Tidak. Kalian aku pindahkan ke Villa. Pelayan yang disana banyak yang cowok, begitu juga cheffnya. Jadi mereka akan kerja disini, kalian disana. Karena Geffie tidak bisa diajak bicara.” Ujarnya sedih.
Julia senang dengan apa yang dikatakan Eyang, begitu juga Naila.
“Jadi, kita masih bisa bekerja kan Eyang?”
“Iya, karena kalian anak yang jujur. Eyang sayang sama kalia. Yang terpenting disana kalian harus masak yang enak, Karena tamunya banyak tamu luar. Banyak belajar di google ya,”
“Siap, Eyang.” Mereka sangat senang. Meski dipindahkan, karena bagi mereka tetap bekerja adalah kebahagiaan.
“Ya, sudah. Kalian bereskan semua baju, nanti malam kalian di antar Irwan ya. Jaga diri disana. Tamu bule itu kalau yang mata keranjang, bisa nakal dan menggoda kalian.”
Naila dan Julia saling pandang dan tertawa.
“Eyang bisa saja. Orang desa seperti kita ini tidak akan laku.”
“Kalian itu cantik. Hanya saja kalian tidak mau berdandan.” Ujarnya lalu pergi.
Julia dan Naila sama-sama tertawa, merasa lucu mendengar ucapan Eyang. Karena harus membereskan baju dan barang lainnya, Julia dan Naila mengambil tas miliknya masing-masing.
“Nai, aku bisa gak ya izin pulang.”
“Aku mau membayar bank, mau melunasinya, karena aku mau membuktikan kalau aku mampu menyelesaikan semuanya. Aku mau pulang ke Surabaya, bukan ke Lumajang.”
“Mintak izin dulu ke Eyang, emang kamu mau berapa hari di Surabaya?”
“Aku mau naik pesawat, sekali-kali jadi orang kaya, hehe.. pokoknya satu hari selesai acara, aku langsung kembali.”
“Haha, awas menjerit-jerit di pesawat.”
“Segitu kah diriku, sampai mau menjerit.”
Mereka masih berkemas, menata semua barang di tas. Setelah semua tertata rapi didalam tas, mereka merebahkan tubuhnya. Menunggu panggilan untuk di pindahkan.
Jam Menunjukkan pukul 20.00, WITA. Mereka sudah di antar ke Vila capung, milik Eyang. Julia dan Naila tidak bicara sama sekali, merek merasa capek. Karena seharian sudah bekerja keras.
“Kalian mau makan?” Tanya Irwan.
“Gak,” Jawab Julia.
__ADS_1
“Aku traktir,” Ucap Irwan.
“Dengan senang hati.” Jawab Naila bersemangat.
“Kamu kalau ada yang bilang traktir, langsung bersuara.” Ujar Julia geleng-geleng kepala.
“Gak Pa pa, Jul. Kebetulan aku juga lapar. Ya sudah kalian mau makan apa?”
“Bakso,” Jawab Julia.
“Bakso beranak depak GWK. Rasany enak,”
“Terserah kalian. Yang penting aku di bayarin.” Jawab Naila.
Mereka berhenti di depan bakso beranak, pas depan pintu masuk GWK. Bakso jumbo yang harganya 28 ribu itu, jika di habiskan sendiri akan kekenyangan.
Tapi Naila jago makan. Badan kurus tapi doyan makan, jadi tidak pernah menolak makanan apapun. Selama itu bergizi.
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan. Karena waktu juga sudah malam, dan harus segera sampai.
Tepat di pinggir pantai Jimbaran, berjejer diantara restoran-restoran besar. Berdiri sebuah villa megah. Julia dan Naila turun, mereka langsung masuk. Ternyata para pelayan yang akan di pindahkan kerumah Eyang juga sudah siap. Pertukaran tempat, membuat Julia tertawa, begitu juga Naila.
Setelah selesai di beri penjelasan dari pelayan lama, Naila pun paham. Mereka langsung masuk kekamar yang sudah disediakan. Beruntung sekali, Villa itu masih belum ada tamu, dan baru beberapa hari lagi akan ada tamu Check In.
Dua hari berlalu, Julia dan Naila merasa kurang nyaman, karena banyak berdiam diri. Akhirnya Julia menelepon Eyang, meminta izin untuk ke Surabaya selama dua hari. Rencana Julia akan mengajak Naila.
Eyang dengan senang hati memberikan izin. Julia pun meminta bantuan Irwan untuk memesan tiket pesawat. Kai ini Julia dan Naila berdandan menjadi orang kaya dulu. Mereka dengar cengir, karena bisa naik pesawat untuk pertama kalinya.
“Semoga kita tidak jatuh Jul,”
“Hus, ngomong nya dijaga, berdoa semoga kita baik-baik saja.”
“Amin.”
Mereka tidak bicara sama sekali. Mulutnya terus komat Kamit, entah itu berdoa atau berbicara sendiri. Tak lama kemudian pesawat sudah mendarat, Julia langsung memesan taxi, seperti yang di perintah Irwan. Langsung ketempat tujuan, ke Bank yang pertama dia datang, tempat yang sudah menjadi pengahcur rumah tangganya.
Julia turun, langsung masuk kedalam Bank tersebut. Menemui petugas yang biasa menelepon Julia. Julia ingin semua cepat selesai. Meski tahu itu seperti mimpi. Dulu dihin, sampai di katakan tidak akan sanggup membayarnya. Tapi Tuhan terus memberikan kejutan, lewat sesuatu yang tidak di duga-duga.
“Tolong antarkan bukti lunas ini kerumah Ibu Anisa ya. Sampaikan kepada Ibu Anisa, sudah lunas dan tidak perlu merasa punya hutang, Biarkan semua berurusan dengan karmanya.” Ujarnya lalu pergi.
__ADS_1