
Emosi, adalah sesuatu yang mampu membuatmu hancur. Jika masih bisa kendalikan, maka kendalikan lah, biar hubungan mu tidak menjadi sebuah taruhan.
( kamu dan orang tuamu sama saja, tidak bisa menghargai orang lain yang berniat membantu bebanmu. Sekarang kamu lebih percaya orang lain dari pada aku, silahkan kamu tuduh aku semau kamu, asal kamu tahu, yang memakai uang itu bukan aku tapi ibumu. Minta padanya suruh bayar sendiri, kamu pikir selama aku menikah dah hidup serumah denganmu aku hidup berlimang kesenangan? Kamu pikir aku selalu membeli baju baru setiap kamu gajian? Kamu pikir wajahku jadi mulus putih karena perawatan? Dan kamu pikir aku sering makan di warung? Tidak perlu kamu jawab, cukup pikirkan, karena aku tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki tidak tegas dan tidak bertanggung jawab. Silahkan kamu urus secepatnya surat cerai kita. Biar kamu bisa memilih wanita lain yang kaya dan lebih pintar dari aku, selama ibumu tidak berubah, jangan harap kamu akan bahagia dengan keluargamu.)
Rasanya terasa sesak dada Kevin, membaca balasan dari Julia. Dia melempar Handphonenya ke tempat tidur, berteriak kesal.
“Aaaah, perempuan biadab, dia sudah menjelek-jelekan ibuku, tidak tahu diri. Aku benar-benar benci sama kamu jul.” Teriaknya keras.
Sedangkan disisi lain, Julia yang sudah mulai tenang kini harus merasa kesal kembali, sakit kembali, dan merasa telah di manfaatkan oleh Ibu mertuanya.
Terlalu sakit untuk di lupakan, laki-laki yang berdiri hebat di belakang orang tuanya. Dan masih apa-apa menunggu orang tuanya.
《 Andai saja kamu merasakan sakit seperti yang engkau berikan kepadaku. Aku yakin, kamu tidak akan sanggup menjalaninya. Andai saja apa yang kamu lakukan dapat aku kembalikan, pastikan kamu akan lebih sakit dan hancur sepertiku.
Tapi, aku tidak ingin melukai dirimu. Sekuat hati aku akan bertahan. Meski dirimu ingin menghancurkan, aku mengalah kerana rasa cintaku dan sayangku yang tulus kepadamu. Tapi, kamu sengaja menggores luka, luka yang sangat dalam. Dengan cara apa aku meluluhkan hatimu. Apakah aku harus mati, agar kamu bisa menghargaiku 》
Tulisan yang di abadikan di diary usang itu. Menjadi saksi bahwa masih ada rasa cinta Julia untuk Kevin. Tapi rasa cinta itu berubah menjadi rasa kesal dan marah. Sakit hati yang tidak dapat di urai dengan kata-kata.
Dua hari berlalu Julia masih belum bisa melupakan kata-kata pedas dari suaminya, dan tuduhan yang tidak pernah dia lakukan. Meski banyak tuduhan yang tidak pernah dilakukan, tapi Julia tidak bisa berbuat apa-apa karena mertuanya lebih licik dan lebih pintar membuat masalah. Apalagi ingin mempertahankan rumah tangganya itu sangat sulit. Karena yang Julia tahu mertuanya adalah sosok wanita yang hanya mementingkan uang dan kesenangan dirinya sendiri. Sudah cukup Julia merasakan tersiksa selama ini. Tapi Julia diam saja karena dia tidak ingin mengadu domba antara ibu dan anak. Hanya saja Julia sudah tidak merasa kuat dengan sikap orang tua Kevin yang terus mengganggu kehidupan rumah tangganya dibantu oleh Adik ibunya sendiri untuk menyingkirkan Julia.
Saat ini semua keinginan Ibu mertuanya sudah tercapai. Julia sudah benar-benar diantar oleh Kevin dan benar-benar sudah diceraikan. Tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan karena saat ini Julia sudah diserahkan kepada kedua orang tuanya.
Perjalanan rumah tangganya begitu rumit, yang julia inginkan sebuah kebahagiaan tapi penderitaan yang datang. Apakah perpisahan itu akan membawa kebahagiaan untuk Julia dan Varo, atau sebaliknya Varo akan tersiksa karena terpisah dari ayahnya.
“Julia, ada Paman Hazim, Nak.”
__ADS_1
“Ada apa Bu? Tumben paman mau bertemu Julia.
Pak Hazim adalah saudara ibu Fatma, yang pertama, dia orangnya keras tapi baik hati. Keluarga Julia sering di bantu untuk kebutuhan hidup yang kadang kurang. Istrinya bernama Ibu Naflah, tidak mempunyai anak.
“Tidak tahu Nak. Dia baru ibu beri kabar kalau kamu pulang.”
“Julia takut paman marah,”
“Kamu tidak salah untuk apa takut.”
“Iya, Bu. Julia keluar.”
Akhirnya Julia pun keluar bersama Ibu Fatma Sesampainya di depan Julia langsung menyalami Pak Hazim.
“Bagaimana kabar kamu Nak?”
“Alhamdulillah sehat paman. Paman sama bibik bagaimana keadaannya?”
“Tidur paman.”
Julia heran dengan sikap Pak Hazim yang mendadak kalem, yang biasanya marah dan tidak mau tahu kalau ada masalah di dalam keluarganya. Tapi hari ini Pak Hazim sangat berbeda.
“Duduklah Nak, paman mau bicara!”
Julia duduk di dekat Pak Hazim, karena sudah seperti anak sendiri, Pak Hazim memegang pundah Julia.
“Nak, kenapa Kevin begitu menyakiti kamu?” Tanya Pak Hazim pelan mengharap Julia jujur kepadanya.
__ADS_1
“Julia punya hutang Paman, karena uang belanja Julia kurang. Dan Mas Kevin tidak percaya, menuduh saya boros dan tidak bisa mengatur keuangan. Padahal uangnya selalu di minta ibuknya.” Jelas Julia pelan dan tidak sanggup menatap Pak Hazim.
“Sekarang apa kamu benar-benar sudah pas berpisah dengan Kevin?” Tanya Pak Hazim pelan
“Saya sebenarnya kasihan Varo. Tapi Mas kevin sudah tidak mau mempertahankan saya. Untuk apa saya bertahan, Paman.”
“Kalau kamu sudah pas dan sudah benar-benar rela berpisah dari kevin, paman akan bantu kamu membiayai Varo. Tidak perlu menghubungi Kevin lagi, karena bagi paman dia sudah tidak mampu melindungi keluarganya. Kalau kamu tidak kerasan dirumah ini, tinggal saja di rumah paman, kamu jangan sungkan.” Ujar Bapak Hazim, melihat Julia penuh kasihan.
“Bibik harap kamu bisa menjadi wanita tegar, sabar menghadapi ujian ini. Biar bagaimana pun ada kita yang akan menyayangi kalian.” Lanjut Ibu Naflah, sambil membelai rambut Julia.
Julia meneteskan air mata melihat paman dan Bibiknya juga ada disaat Julia terluka. Tersakiti oleh suaminya dan tersiksa dengan keadaannya.
“Mana Handphonemu? Paman mau bicara dengan Kevin, laki-laki tidak tahu diri itu,” Ujar Pak Hazim datar.
“Paman, Julia terimakasih sudah di perhatikan. Tapi, jangan telepon Mas Kevin, biarlah semuanya berlalu tanpa ada kemarahan dari keluarga kita. Julia akan berusaha sabar dan ikhlas. Meski di marahi percuma, karena Mas Kevin tidak akan menghiraukannya. Pikiran dan hatinya sudah di kuasa oleh omongan ibu dan tenteny. Jadi untuk apa kita perdulikan dia.”
Julia memohon kepada Pak Hazim, untuk tidak memperpanjang masalahnya dengan Kevin. Meski sebenarnya Julia sangat marah, dan kesal. Tapi julia tahu posisinya tetaplah di salahkan.
Setelah berbicara panjang lebar, Pak Kevin pamit pulang. Dan memberikan uang kepada Julia untuk uang jajan Varo.
“Kamu jangan menolak, ini buat varo biar bisa beli jajan atau beli susu. Paman pulang dulu, kamu kerumah ajak Varo.”
“Terimakasih Paman, Bibik, besok saya mah kesana,”
“Ya sudah biar di jemput sama Pamanmu,”
“Iya, Bik.”
__ADS_1
Akhirnya pak Hazim dan Ibu Naflah pulang, Julia masuk kembali ke kamarnya, kamar yang menjadi tempat ternyaman untuk dia istirahat dan menenangkan hati dan pikirannya yang kacau.