Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Menjadi Janda Tidak Mudah


__ADS_3

Hidup sendiri tanpa suami, mengelar status janda, akan menjadi buah bibir para tetangga yang tidak suka. Meski tidak melakukan kesalahan, akan tetap menjadi pembicaraan yang tidak berujung.


 


Wanita yang sanggup hidup sendiri setelah pernikahannya hancur, akan menjada sebuah perjuangan yang luar biasa. Banyak orang tidak suka, karena merasa menjadi wanita pengganggu rumah tangga orang lain. Meski sebenarnya tidak melakukan apapun.


Terkadang di nilai menjadi penggoda suami orang, ada juga yang merayu dan ada juga yang mengolok-ngolok sebagai perempuan tidak benar.


Julia sudah dua bulan di kampungnya, sudah biasa di bicarakan. Memilih diam adalah hal terbaik bagi julia, karena tidak ingin terjadi pertengkaran dan menjadi masalah berkepanjangan. Cukup dengarkan dan biarkan semua mengalir seperti air. Mungkin masih belum waktunya air itu jernih, dan belum waktunya air itu tenang, keruh dan bau.


“Jul, kok kamu belum kembali ke rumah suamimu, apakah kamu di usir? Atau kamu sudah menyakiti suamu kamu?” Tanya salah satu tetangga, yang sudah terbiasa menjadi tukang gosip.


“Saya rasa, Ibuk tidak perlu ikut campur. Karrna apapun yang terjadi dengan hidup saya tidak mengganggu keluarga ibu. Jadi berbicara yang baik itu penting, bukan malah menanyakan atau menuduh yang tidak saya lakukan. Selama ini saya kan tidak pernah mengganggu keluarga ibu, jadi berhenti untuk menghakimi saya.” Jawab Julia kesal.


Sontak tetangga yang usil itu jadi marah sekali, karena merasa dirinya di hina dan di remehkan.


“Kamu tidak tahu sopan santun ya. Aku ini lebih tua dari kamu, kenapa kamu bicara seperti itu.” Ujarnya marah.


Tapi julia tidak menjawab, dia langsung pergi kerumah pamannya. Sepagi itu sudah ada yang mencela dan bertanya yang membuat hati Julia sakit, tapi dia tidak ingin dirinya mendapat masalah bertengkar dengan tetangganya. Lebih baik diam meski membuat Julia sakit hati.


Pak Hazim tersenyum melihat Julia datang. Tapi tidak tega juga karen harus jalan kaki. Jarak dari rumah Julia kerumah pak Hazim lumayan jauh.


“Julia, kenapa jalan kaki? Kamu bisa telepon paman. Lagian Varo di ajak bibikmu ke jember. Mungkin sore baru datang.”


“Tidak apa-apa Paman, saya sekalian olahraga. Syukurlah Varo tidak rewel kerasan disini. Julia juga mau Coba pergi cari kerja Paman.”


“Kerja dimana?”


“Ikut Naila ke Bali.”

__ADS_1


“Apa kamu sudah pikirkan?”


“Sudah, karena Julia ingin membantu ibu dan Ayah. Selama ini mereka kekurangan, biar Varo di asuh sama Ibuk.”


“Paman tidak bisa melarangmu, untuk Varo biar Paman dan Bibik yang urus. Kamu juga harus hati-hati di kota orang, jangan sampai bekerja yang merusak imanmu. Meski gaji sedikit yang penting halal.”


“Iya Paman. Naila kerja di rumah tangga. Katanya bosnya butuh satu pembantu untuk mengurus anaknya yang sakit-sakitan. Gaajinya lumayan 4 juta.”


“Ya sudah kalau kamu memang sudah siap bekerja. Selama kamu disana. Kamu tidak perlu khawatir akan kebutuhan anakmu. Nabung yang banyak, setelah punya modal, kamu pulang dan buka usaha dirumah.”


“Iya, Paman. Julia akan membuktikan sama mas Kevin, kalau Julia mampu bekerja dan punya banyak uang. Bukan karena Julia lulusan sekolah tinggi.”


Mereka Berbicara lama sekali. Ada rasa tidak tega di hati pak Hazim.  Biar bagaimana, Julia adalah keponakan satu-satunya. Sedangkan dirinya sendiri tidak punya anak.


Karena sudah lama mengobrol, Julia pergi istirahat di kamar yang biasa di tempati Julia. Perasaan jadi lebih tenang, karena sudah mendapat izin dari Pak Hazim.


Dua minggu berlalu, Julia sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Intan yang sudah menunggu diteras rumahnya, menjadi lirikan kurang senang dari para tetangga. Karena penampilan Intan yang sudah berubah lebih modern. Tidak lagi seperti  orang desa kebanyakan. Tapi, Naila tidak menghiraukannya, dia terlihat cuek dan tidak perduli sama sekali.


“Naila, ibu titip Julia ya Nak,” Ujar Ibu Fatma dengan, dengan mata berkaca-kaca.


“Iya Buk. Jangan khawatir, bos kita keluarga orang baik kok.”


 “Kalian cepat kabarin ibu kalau sudah sampai.”


“Ibu, titip Varo ya.”


Julia langsung memeluk Ibu Fatma. Air matanya tumpah, sedih yang di rasakan karena harus meninggalkan Varo. Tapi varo sudah di bawa ke rumah Bapak Hazim, karena takut menangis.


“Doakan Julia, agar bisa sukses bisa membahagiakan ibu dan ayah.”

__ADS_1


“Nak, tanpa kamu pinta ibu selalu mendoakan kamu.”


“Kalau surat panggilan perceraian Julia datang, biarkan saja. Kalau aku tidak hadir, perceraian itu akan cepat selesai.”


“Ibu terserah kamu saja Nak. Karena kebahagiaan kamu lebih penting dari apapun.”


Sedih harus melihat putrinya pergi merantau, tapi Ib Fatma tidak ingin Julia terus larut dalam kesedihan karena perpisahan yang belum di inginkan. Rasanya tidak ada harapan lagi, semua seperti sebuah mimpi saja.


Trevel sudah membawa Julia jauh, perjalanan yang di lalui karena sakit hati. Dan menerima dengan sabar, meski hancur seperti gelas pecah.


Penilaian orangpun berbeda-beda, tapi kita tidak akan pernah bisa bangkit jika harus mendengarkan apa kata tetangga. Pedas sangat pedas, tidak bisa melihat mana yang salah dan mana yang benar.


Julia masih terus menangis, duduk di pojok belakang, tempat yang pas untuk meratapi semuanya. Intan tidak bisa berkata apapun, dia mengerti bagaimana rasanya sakit hati karena masalah yang di alami julia hampir sama dengan masalah yang di alami Naila.


“Jul, sudah hapus air matamu, sudah waktunya kamu bangkit, kamu tidak boleh terus-terusan memikirkan  nasib kamu sudah saatnya kamu melupakan semuanya. Bangun demi masa depanmu, dan tinggalkan semua yang selalu menyakiti hatimu.” Naila memberikan nasehat.


“Kamu bena , aku harus melupakan kesedihan ini. Masalah yang rumit, aku akan kubur dalam-dalam, melupakan kisah yang sudah membuatku terhina.” Ujar Julia, sambil memegang tangan Naila.


Perjalanan dari Lumajang ke bali kurang lebih 7 Jam perjalanan. Tapi, bisa lebih dari itu, karena banyaknya penumpang yang harus di antar ketempat tujuan.


Untuk pertama kalinya Julia datang ke Bali, pulau indah yang banyak di minati oleh pengunjung dari mancanegara. Dan kali ini, Julia akan memulai kehidupan barunya di pulau itu.


Banyak hal yang perlu di pelajari dari tempat itu. Meski Bali tempat wisata yang yang populer, tapi dibali mampu mempekerjakan dan banyak pekerja dari berbagai provinsi. Sehingga banyak yang menjadikan tempat mencari nafkah untuk keluarga.


Penghasilan utama adalah, pesatnya pariwisata. Sehingga mampu menjadi ladang rejeki untuk penghuninya.


Ibu Fatma merebahkan tubuhnya, di samping Varo. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Tak lama tédengar ketukan pintu. Membuat Ibu Fatma terkejut, karena sudah malam masih ada orang datang. Perasaannya cemas, takut terjadi sesuatu kepada Julia.


 

__ADS_1


__ADS_2