
bertahan sakit, pergi sulit. Berada pada suatu masalah yang sulit untuk di pahami. Semua di luar dugaan. dan pada akhirnya sulit menolak.
Julia tidak bisa berkata apa-apa, dia benar-benar bingung. melihat wajah wanita tua yang berdiri dihadapannya, yang membuat Julia tidak tega.
"Jawab Jul, apakah kamu mau menolongku? Hanya kamu yang aku percaya,"
Eyang memohon, sedangkan Julia merasa terpojok dengan permintaan Eyang.
"Katakan, apa yang mau kamu pinta dariku, aku akan memberikannya. Tapi, aku minta bantuan kamu, menikahlah dengan Geffie." Ucapnya memohon dengan penuh harap.
"Eyang, masih banyak wanita yang cantik dan sederajat dengan Tuan, dan aku yakin Tuan jauh akan lebih bahagia jika mendapat pilihannya sendiri." Jawab Julia, masih gugup.
"Tapi aku tidak percaya mereka. Sekali aku bertemu wanita baik, yang tidak banyak tingkah, maka aku sudah memikirkannya. Dan kamu, dari awal aku bertemu kamu, aku bisa merasakan kalau kamu wanita baik-baik." Jelas Eyang serius.
"Saya akan pikirkan, karena saya sudah janda, banyak yang perlu saya pertimbangkan. Apalagi ada anak, mohon eyang paham." Jawab Julia, pelan. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati, ada takut, resah, banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya.
"Aku beri waktu kamu satu minggu, dan aku harap jawabannya, Iya." Eyang langsung pergi.
Julia, mengambil pisaunya. Diiris lagi bawang merah yang masih tersisa dua buah. Setelah selesai mengiris bawang, dia membawanya untuk di siram.
Julia tanpak lesu, apalagi dengan waktu yang diberikan oleh Eyang. Dia menghampiri Naila yang berada agak jauh darinya.
"Ada apa Eyang? Kok serius sekali,"
Julia tidak menjawab, seperti sedang terjadi suatu masalah saja. Dari wajahnya terlihat tidak bersemangat.
"Jul, ditanya kenapa diam, kamu itu jangan bikin aku khawatir," Ujar Naila, mendesak Julia agar tidak bungkam.
"Kita masak dulu, dibahas nanti saja ya." Jawab Julia, dengan suara pelan.
Naila bingung dengan sikap Julia. Padahal, sebelumnya tanpak baik-baik saja. Naila, tidak lagi memikirkan apa yang terjadi dengan Julia, dia memiih fokus memasak, karena hari sudah semakin sore.
Jam 18.30, semua masakan sudah tertata rapi di meja, Julia menyuruh Naila memanggil Eyang dan Geffie. Sontak, Naila heran karena Julia tiba-tiba seperti orang takut untuk bertemu Eyang dan Geffie.
"Kenapa menyuruhku?"
"Gak apa-apa, aku kurang enak badan, mau istirahat dulu ke kamar."
"Yakin??"
Julia hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan Naila. Dengan terpaksa, Naila pergi memanggil Eyang dan Tuan Geffie.
__ADS_1
"Eyang, makanan sudah siap."
"Iya, segera kita kesana,"
"Saya permisi dulu Eyang." Pamit Naila, tapi ketika hendak melangkah, Eyang memanggil Naila.
"Nai, tunggu."
Naila pun berbalik lagi, dan menghampiri Eyang.
"Iya, ada yang bisa Naila bantu, Eyang."
"Nanti jam delapan, kamu, aku tunggu di ruang kerja, jangan bilang pada Julia, aku hanya ingin bicara empat mata denganmu." Ujar Eyang, membuat Naila cemas, karena takut dipecat.
"Baik Eyang."
"Kamu boleh pergi,"
Naila segera pergi, dia pun memilih tidak menemui Julia, pikirannya sangat cemas, takut dirinya dipecat. Karena dari bicara Eyang, sepertinya serius sekalil. Detak jantung Naila tidak beraturan, dia memilih duduk di taman belakang, karena tidak ingin Julia mencarinya.
Jam menunjukkan pukul 19.00, acara makan sudah selesi, Naila dan julia langsung keruang makan. Mereka sudah hafal, dengan jam makan majikannya, sehingga tanpa di panggil mereka datang sendiri.
Keduanya sama-sama diam, Naila sibuk dengan pikirannya. Sedangkan Julia sibuk dengan hatinya. terlihat seperti orang bisu, tidak bertegur sapa dan sibuk membersihkan semua yang berseretakan di meja.
"Aku mau tidur dulu," Pamit Julia, Naila hanya mengangguk.
Naila melihat jarum jam masih pukul 19.45, dia menunggu jam delapan dengan perasaan takut.
pas jam delapan, Naila segera ke ruang kerja Eyang. Mengetuk pintu dengan pelan. Pintu terbuka, Naila langsung masuk.
"Duduklah." Suruh Eyang.
Naila pun duduk. Tangannya gemetar, berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi.
"Nai,,,"
"Jangan pecat saya Eyang." Ujar Naila, memotong pembicaraan Eyang. Sontak Eyang tertawa keras, karena kesalahpahaman Naila. Nailapun heran dengan Tawa Eyang.
"Hahahaha,"
"Eyang, jadi tujuan Eyang memanggil saya apa?"
__ADS_1
"Hahaha, Nai-nai. Kamu itu lucu, apakah aku terlihat jahat atau terlihat menakutkan, kamu sudah lama kerja denganku, tapi kamu belum mengerti sifatku." Ujar Eyang, masih tertawa dengan sikap Naila.
"Maaf Eyang. Bukan Naila tidak tahu kebaikan Eyang, hanya saja, Naila takut Tuan Geffie kambuh lagi."
"Kamu, aku panggil kesini, untuk menanyakan masalah julia,"
"Ada apa dengan julia, Eyang."
"Apakah Julia mengatakan sesuatu hal penting sama kamu?"
"Tidak, tapi saya lihat dia sedang sedih dan banyak murung,"
"Nah itu dia, itu karena kesalahanku, sampai-sampai dia sangat bersedih."
"Maksud Eyang,"
Eyang menceritakan semua yang terjadi sore tadi. Mata Naila melotot, tidak percaya, tapi kenyataan majikannya Naila sudah bicara sendiri, dan itu artinya masalahnya benar-benar serius.
Naila masih mendengarkan apa yang dibicarakan Eyang. Dia hanya mengangguk-angguk, dan memahami semua cerita majikannya itu.
"Pantes, Julia terlihat lemas, ini toh masalahnya. Ah, lagian apa yang julia pikirkan, Tuan Geffie kan orang baik, setidaknya buktikan kalau dirinya bisa mendapat laki-laki kaya." Batin Naila, sambil mendengarkan apa yang di bicarakan Eyang.
Disisi lain, Julia menelepon ibunya, dia yang pamit tidur terlebih dahulu, sebenarnya menghindar dari pertanyaan Naila. Meski pada akhirnya Naila tahu sendiri dari Eyang.
"Kenapa suara kamu pelan, dan sepertinya kamu ada masalah?" Ujar Ibu Fatma, mencoba menebak keadaan putrinya.
"Tidak ada apa-apa bu, hanya lagi memikirkan masalah kecil saja."
"Tapi ibu merasa, kamu lagi ada hal yang membuatmu bingung."
"Aku ingin menceritakan pada ibu, tapi aku tunggu waktu yang tepat saja."
"Ada apa sebenarnya Nak, ibu harap kamu sabar, dan pulang saja, jika membuat kamu tidak betah disana. Ibu hanya punya kamu, masalah makan, biar hanya seadanya ibu tidak apa-apa, yang penting anak ibu ada disini." Ujar Ibu Fatma sedih.
"Tidak bu, bukan masalah kerjaan, ini soal..." Julia diam, rasanya tidak ingin menyampaikan pada ibunya, malu dan takut mengira Julia yang tidak-tidak.
"Katakan Nak, jangan ada yang kamu tutupi dari ibu, kamu harus jujur. Ibu dan ayah tidak akan memarahi kamu."
Julia diam, dan julia harus jujur kepada ibunya. entah ibunya setuju atau tidak julia juga tidak tahu, dia hanya merasa bingung saja, karena bagi julia geffie laki-laki yang baru dia kenal, masih takut untuk memulai kehidupan baru, dalam pernikahan.
🍊🍊🍊🍊🍊
__ADS_1
Yuk beri masukan, jangan lupa like, vote, and poinnya.