Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Bukan Anak Kecil


__ADS_3

...Pikirannya kacau., tidak bisa brkata apa-apa. Hanya bisa bersabar, ketika dihadapkan deengan sebuah pilihan yang tidak masuk akal....


 


 


Julia terkejut, begitu juga Eyang. Mereka saling pandang, dan Eyang tidak pernah berpikir putranya akan semakin tidak menyadari dengan umurnya yang sudah semakin tua.


“Sama Mama ya Nak?”


Geffie menggeleng, kemudian menunduk dan sedih.


“Baiklah, tapi mandinya di kolam renang.  Bagaimana?”


Geffie mengangguk, Julia langsung kedalam kamar Geffie mengambil handuk. Diikuti oleh Eyang, dan menepuk pundak Julia.


“Jul. Maafin Geffie ya. Kamu sudah di buat tidak nyaman.”


“Kalau Tuan tidak sakit, pasti dia akan malu. Jadi Eyang tidak perlu minta maaf.” Ujar Julia tersenyum. Lalu pergi menghampiri Geffie.


“Tuan buka baju, tapi celananya tidak boleh di buka, karena tidak baik.”


Geffie hanya mengangguk. Karena kolam renangnya di dekat teras yang langsung di pinggir tebing, Julia menjaga Geffie dengan ekstra. Eyang hanya melihat dari kejauhan. Dan baru menyadari, kalau Julia masih muda dan juga penuh perhatian merawat Geffie.


Setelah selesai mandi di kolam, Julia menyiram tubuh Geffie dengan air bersih. Dan memberikan kimono handuk. Membantu memasangkan kimono tersebut.


Semampu dan sebisa mungkin, Julia tidak melihat seluruh tubuh Geffie.


“Sekarang sarapan dulu ya. Kan sudah mandi.”


“Mau makan sama kamu,”


“Bukan kamu, tapi panggil Jul.”


“Iya, Jul.” Ujarnya dengan nada kekanak-kanakan.


Eyang tersenyum kearah Julia, lalu pergi sambil mengajukan jempol.


 Julia langsung menyuapi Geffie, laki-laki yang terpuruk, tersakiti karena cinta. Laki-laki gagah, tampan. Dalam hitungan waktu sudah menjadi laki-laki yang tidak berguna. Iba, bila melihatnya.


“Siapa yang Tuan benci selama ini.” Tanya Julia pelan

__ADS_1


“April.” Jawabnya singkat.


“Hanya satu orang saja yang Tuan benci.”


Geffie mengangguk, sambil mengunyah makanannya.


“kalau hanya satu orang, kenapa yang lain juga di biarkan sedih, melihat Tuan seperti ini. Tuan itu punya Mama, yang sangat menyayangi Tuan, melebihi apapun. Kenapa harus menyerah dan memilih diam mengurung diri.”


Diam, sepertinya Geffie sedang memikirkan sesuatu.


“Seharusnya Tuan bangkit, tunjukkan pada yang namanya April, kalau Tuan orang Hebat dan mampu melewati semua tanpa dia lagi. Dan satu lagi, masih banyak wanita yang lebih baik dari April.”


Julia langsung keluar dari kamar Geffie, membawa piring kosong dan meletakkan di luar. Sepertinya Geffie mulai mendengarkan yang di bicarakan Julia. Pandangannya kosong kedepan.


Jika kita lebih bersabar, bukan dengan kekasaran, ikhlas menjalani. Maka semu usaha akan membuahkan hasil.


Kini sudah satu bulan Julia menjadi pelayan di rumah Eyang. Dan sedikit sudah membuahkan hasil. Geffie lebih aktif bicara. Julia dengan penuh kesabaran melakukan itu.


Saatnya gajian pertama, semua pekerja di rumah itu sudah di gaji. Kini tinggal Julia yang mendapat amplop berwarna coklat. Karena tidak enak dengan yang lain, julia membukanya di kamar. Saat menghitung jumlah uang itu, Julia langsung menangis , bersyukur dengan apa yang di dapat. Uang 10 juta, yang tidak pernah ada di impiannya. Karena Julia berpikir jika bekerja hanya mendapatkan gaji 2 jutaan. Tapi kali ini, gaji Julia lebih besar dari gaji Kevin.


“Untuk ibu 3 juta, untuk Varo 2 Juta. Untuk aku simpan 5 juta. Aku akan kirim ke Mas Kevin, ini bukti untuknya, kalau aku bisa bekerja.” Guman Julia.


Karena Julia tidak mempunyai rekening sendiri, dia pun meminta batuan Naila, untuk mengirim uang kepada Ibunya dan juga Varo. Naila dengan senang hati membantu Julia.


“Terserah kamu saja Nai. Tapi ibumu tidak apa-apa jika harus kerumah?”


“Kan lewat depan rumahmu, kalau ke bank, biar langsung di antar saja.”


“Ya sudah, terimakasih. Aku telepon ibu dulu.”


“Aku ke Atm dulu ya. Kamu ke kamar Tuan saja, nanti dia nyariin kamu,”


“Iya, sekali lagi makasih loh.”


“Aduh, kok di ulang-ulang makasihnya,” Ujar Naila, lalu pergi.


Julia masuk lagi ke ruang bawah, dan menemui Geffie.  Hari ini Geffie terlihat lebih baik lagi. Mengambil baju sendiri, dan membereskan piring kotor yang ada di meja. Meski belum normal pikirannya. Tapi, Julia bersyukur sudah tidak lagi mengamuk dan melempar piring.


“Tuan sudah mandi?”


“Sudah, aku pintar bukan?”

__ADS_1


“Iya, Tuan sudah pintar. Kalau Tuan sudah sembuh, Jul dibawa keliling bali ya. Karena selama disini Jul ikut mendekam dalam kamar ini.”


“Aku kan tidak sakit, aku hanya takut betemu Orang-orang yang menyakiti aku.”


“Kenapa harus takut, bukankah Tuan orang hebat, baik. Lagian Tuan itu ganteng, pasti akan menemukan wanita yang lebih tepat, dan akan menyayangi Tuan sepenuh hati.”


“Katanya aku jelek, dan  aku tidak romatis.” Geffie menundukkan kepalanya. Terlihat jelas oleh Julia, jika Geffie menagis.


“Hanya itu? Ah, itu sih Cuma kata-kata bercanda saja. Tuan tidak boleh cengeng, laki-laki itu kalau menangis jelek. Tapi, kalau dia berani, itu patut di ajungkan jempol. Dan satu lagi, jangan memikirkan yang namanya April lagi, dia tidak cocok dengan Tuan.”


“Aku benci, April. Aku tidak mau bertemu April.”


“Tuan harus sembuh, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke pantai. Tuan harus keluar dari rumah, Tuan harus sembuh.” Ujar Julia berulang-lang saat bicara. Sangat berharap Geffie bisa sembuh dan bisa hidup normal.


“Boleh, tapi kamu harus temani aku,”


“Iya, Julia akan menemani Tuan, sampai Tuan bisa beraktivitas seperti dulu lagi.”


“Kamu harus jadi temanku, Janji ya.” Ujar Geffie.


“Iya, Julia janji akan jadi teman Tuan Geffie.” Jawab Julia, layaknya anak kecil yang berjanji dengan teman nya.


“Terimakasih ya, Jul.” ucap Geffie senang.


“Sama-sama, karena sudah sore, Julia mau ke dapur dulu. Mau menyiapkan makanan untuk Tuan,”


“Aku ikut ya,” Julia terkejut. Karena dengan sendirinya Geffie meminta ikut ke dapur.


“Boleh, dengan senang hati.”


Mereka pergi menuju dapur, Geffie meengikuti di belakang Julia.  Sesampainya di dapur, semua pelayan yang ada melihat Geffie, dan merasa heran dengan perubahan yang sangat cepat itu.


“Selamat sore Tuan,” Sapa semua pelayan.


Geffie tidak menjawab, dia seperti takut, dan memegang baju Julia bagian belakangnya.


“Di jawab Tuan, mereka semua tinggal disini, yang kerja disini. Mereka semua baik.” Ujar Julia pelan.


“Selamat Sore juga.” Jawab Geffie, pelan.


Mereka bekerja kembali, dan menyiapkan makan untuk Eyang.

__ADS_1


Di meja sudah tertata rapi, Eyang sudah duduk, dan siap untuk makan. Tapi, Eyang heran melihat mejanya penuh masakan. Biasanya hanya dua atau tiga mangkok dan satu piring.


“Mama, Boleh Geffie makan sama Mama?”


__ADS_2