Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Di Pecat


__ADS_3

Berada di perantauan, adalah perjuangan yang luar biasa. Apalagi, kalau kita sedang tidak punya tujuan. Rasanya sedih dan menyakitkan.


Julia dan Naila seakan baru saja bermimpi buruk, setelah apa yang didengar seperti hanya bercanda saja. Geffie dengan lantangnya berteriak, “kalian aku pecat.” Membuat Julia dan Naila langsung lemas dan sedih.


Harapannya untuk menabung dan membahagiakan orangtuanya, sudah pupus. Keduanya sama-sama lemas, tak bisa berkata apapun.


“Saya beri kalian waktu 1 jam, setelah itu silahkan pergi. Ini gajian kalian,” sambil melemparkan amplop kehadapan  Naila dan Julia.


Dan langsung pergi, tidak bicara apa-apa lagi.


“Bos gila, ibu sama anak beda jauh, bagai langit dan bumi.” guman Julia kesal.


“Padahal kita Sampek di asingkan kesini, eh kok masih dia tahu,”


“Entah, mungkin dia pasang mata-mata.”


“Pantas ceweknya pergi, mungkin dulu dia punya sifat gak baik kayak gitu ya?”.


“barangkali,” Jawab Julia, sambil mengemasi barang-barang yang sudah di susun rapi, dan kini harus masuk kedalam tas lagi.


Mereka bingung hendak kemana, dari pantai Jimbaran mereka berjalan kaki, mencari kos-kosan, untuk sementara meraka harus cari tempat tinggal dulu, sebelum mendapat pekerjaan baru.


Setelah berjalan hampir satu kiloan, mereka melihat ada bacaan terima kos, akhirnya mereka masuk dan menemui pemilik kosan tersebut.


“Selamat pagi bu,” Sapa Naila


“Iya, pagi,” Jawab pemilik kosan itu


“Kamar kosnya ada yang kosong Bu?”


“iya, ada. Sisa yang kamar mandi dalam, harga 800.”


“Boleh Bu, kita setuju.” Ujar Naila.


“Saya ambil kuncinya dulu ya, “


“Iya Bu.”


Setelah menhambil kunci, Ibu kos itu mengantarkan Julia dan Naila kekamarnya. Naila langsung membayar uang kos diawal. Setelah itu mereka masuk. Lumayan luas, tempatnya bersih dan rapi. Mereka berdua langsung merebahkan tubuhnya, karena mereka belum makan, sejak pagi, mereka langsung keluar lagi membeli nasi.


Dua bungkus nasi kuning, harga lima ribuan. Mereka kembali lagi ke kos setelah membeli nasi.


“Nai, kamu lihat gak orang jualan nasi,”


“kenapa?”


“Pakai motor, pindah-pindah tanpa bayar sewa “


“Terus?”


“Kita jualan nasi yuk, siapa tahu laris.”


“mau pakai apa Jul?”


“Modal pakai uangku dulu, kita beli motor, beli peralatan masak, dan kita akan jualan berdua. Siapa tahu jualan kita laris.” Ujar Julia yang tiba-tiba mempunyai ide jualan.


“Boleh juga ide kamu, kapan kita akan mulai,”


“Lebih cepat lebih baik.”

__ADS_1


“Kalau besok gimana,”


“Oke, kita ke dealer dulu cari motor. Ya hitung-hitung biar punya kendaraan sendiri disini,”


“Jangan beli yang mahal motornya,” ujar Naila.


“Gak apa-apa, nanti bisa aku kirim buat Ayah, kalau sudah dapat untung banyak.”


“Amin, semoga sesuai rencana.”


Sebaiknya sekarang kita tidur dulu, menghilangkan lelah. Nanti sore kita belanja keperluan untuk jualan.”


“Setuju!!”


Tidak mau ambil pusing, sama-sama sudah pengalaman bekerja, dan sudah bisa memasak. Uang juga ada untuk modal, meski hanya usaha kecil-kecilan, Julia yakin pasti bisa melewati semua itu.


Mereka mungkin memejamkan matanya, tapi pikirannya tidak bisa di bohongi, banyak hal yang Julia dan Naila pikirkan.


Handphone Julia berdering, segera Julia mengambilnya. Julia, langsung lemas, melihat kelayar handphone.


“Siapa?” Tanya Naila heran


“Ibu,”


“Angkat, ceritakan saja.”


“Tidak.”


Segera Julia menerima panggilan dari ibunya.


“Nak, kamu sehat kan?”


“Sehat. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Perasaan ibu tiba-tiba cemas, ibu khawatir terjadi sesuatu sama kamu.” Ujar ibu Fatma, yang dapat merasakan seperti yang Julia rasakan.


“Julia baik-baik saja. Ibu jangan khawatir, yang terpenting Julia sehat, tetap bekerja. Jadi, jangan mikir yang tidak-tidak, perasaan ibu khawatir, itu Julia jauh.”


“Iya, Nak. Sekarang ibu lega mendengarnya, sudah lanjut kerja ya. Jaga diri baik-baik.”


“iya, Bu.”


Julia merasa berdosa sudah berbicara bohong. Tapi, semua yang dilakukan hanya ingin Ibunya tenang, dan tidak membebani pikirannya.


Sudah cukup bagi Julia, dengan perceraian itu sudah membuat ibu Fatma terpukul, melihat anaknya menjadi janda. Jadi, wajar jika ibu Fatma sangat khawatir kepadanya Julia, putri semata wayangnya itu.


Disisi lain, Irwan merasa kesal, karena pelayan, yang di tukar tempat dengan Julia melaporkan kepada Geffie, jika di villa tempat dia bekerja diganti oleh Julia.


Irwan menemui Eyang, yang sedang duduk di ruang keluarga. Karena siang ini, Geffie sudah mulai ke villa, di antar oleh Pak Man.


Irwan menghampiri, Eyang. Memberi hormat dengan sedikit membungkuk.


“Permisi Eyang.”


“Ada apa Wan?” tanya Eyang kalem.


“Maaf, Eyang. Ini mengenai Julia!”


“Ada apa dengan Julia?”


“Tuan Geffie sudah memecatnya.”

__ADS_1


Eyang langsung berdiri, sambil membuka kacamatanya.


“Aaapaa?” Terkejut, masih tidak percaya.


“Iya, Eyang. Karena pelayan yang di pindah dari sana melaporkan, kalau yang di pindah kesana itu pelayan yang di rumah ini. Tuan marah besar, dan tadi pagi-pagi sekali sudah ke villa.”


“Ya, Tuhan. Sekarang mereka kemana?”


“saya tidak tahu, eyang. Karena saya bertugas disini sejak tadi. Saya tadi malam mendengar pelayan itu bicara sama Tuan. Hanya saja saya tidak bisa kesana Karen piket.”


“Aku harus berbuat sesuatu, Geffie keterlaluan. Tapi, aku tidak bisa gegabah dan marah-marah, kondisi Geffie juga belum stabil.” Ujar Eyang.


“Eyang, mohon untuk tidak melaporkan ke tuan Geffie, kalau saya yang lapor ke Eyang.”


“Kamu tenang saja, aku tidak akan bicara pada Geffie. Kamu cepat cari tahu dimana Julia. Aku juga mau telepon dia.”


“Baik, Eyang.”


Irwan langsung pergi. Dia sudah menelepon Julia berkali-kali, tapi tidak ada respon sama sekali. Menelepon Naila juga tidak ada respon. Membuat Irwan khawatir dengan keadaan kedua temannya itu.


Eyang langsung menghubungi Julia, sepuluh panggilan tapi tidak ada jawaban. Eyang berpikir jika Julia marah pada dirinya dan Geffie. Rasa bersalah membuat Eyang tidak bisa berbuat apa-apa.


Jam menunjukkan pukul 19.00. Geffie sudah sampai dirumah. Dia langsung mencari Ibunya, tapi tidak ada. Sudah ketempat biasa duduk bersantai juga tidak ada.


“Tuan mencari Eyang?” Tanya salah satu pelayan dirumah itu.


“Iya,” Jawab Geffie.


“Nyonya ada di ruang kerja, Tuan.”


“Baiklah, terimakasih.”


Geffie segera pergi, dia menemui Eyang di ruang kerjanya.


Tok tok tok tok,, beberapa kali di ketuk, Geffie langsung membuka pintu.


“Mama, kenapa?”


“Tidak apa-apa, kamu baru datang?”


“Iya, Ma.”


“Mama boleh minta bantu,”


“Boleh, minta bantu apa?


“Jam tangan Kamu yang Mama beli 3 bulan lalu hilang. Bisakah kamu cek cctv kamar kamu, kamu cek mulai tanggal Awal bulan Juni ya. Karena mama takut ada yang lancang mengambil jam itu.” Ujar Eyang, membuat Geffie semakin kesal dan berpikir jika Julia yang mengambilnya.


“Pasti Julia Ma.”


“Cek saja dulu Cctv nya. Kalau terbukti memang dia, kita laporkan pada polisi “


“Julia?”


??????


Yuk di like, komen, and vote....


 

__ADS_1


__ADS_2