Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Keinginan Yang Sia-sia


__ADS_3

semakin kita terus berusaha, pasti akan semakin sukses. tidak perlu mencari cara agar sukses secara instan. Tapi, belajar dari kegagalan akan membuatmu semakin giat berusaha.


Naila dan Julia penuh semangat, apalagi sudah dapat pelanggan tetap yang akan datang setiap hari.


Hanya perlu bersabar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Julia dan Naila, sama-sama berjuang, demi masa depan yang lebih baik.


Bagi mereka berdua, bukan kaya yang ingin di capai. Tapi cukup, tanpa kekurangan.


"Nai, hari ini kita bawa seratus lebih. Semoga habis tanpa sisa." Ujar Julia.


"Iya, semoga setiap hari bisa habis."


"Tapi kita harus bisa jaga kesehatan. Minum vitamin yang cukup, karena kita begadang bangun malam."


"Kamu benar. Yang pertama kita harus sehat." Jawab Naila.


"Kita ini janda, hanya bisa berharap mendapat masa depan yang baik, tidak menikah dengan pria salah,"


"Tapi, aku malah gak pengen nikah Jul,"


"Yakin?"


"Iya, masih trauma sama masalah kamu, nanti dapat laki-laki yang perhitungan. Apa kamu sudah pengen nikah lagi jul?"


"Hahahaha, kamu ini ada-ada saja. Aku malah malas mau nikah lagi. Laki-laki pasti sama, banyak perhitungannya. Aku milih hidup sendiri memperjuangkan kehidupan Varo. Ya meski aku tahu dia sekarang masih marah sama aku." Ujar julia yang langsung sedih saat berbicara varo.


"Sudah jangan bahas varo lagi, jadi sedihkan."


Julia pun tersenyum, berusaha menghilangkan rasa sedih yang tiba-tiba saja datang.


Jam menujukkan pukul 05.00, mereka sudah berangkat ke tempat biasa jualan. Tidak lagi memikiran hal yang di anggap akan membuat sedih julia. Mereka fokus pada jualannya. Sambil berdiri menawarkan nasi kuningnya. Sepertinya banyak yang suka masakan julia dan Naila. Setelah pesanan di ambil, dalam sekejab nasi kuning 130 bungkuspun habis terjual.


Rasa syukur yang mendalam, keduanya langsung pulang dan tidur. Istirahat, karena mulai jam satu sudah tidak istirahat.


Disisi lain, Sudah dua minggu berlalu, Geffie mencari Julia belum ketemu juga. Akhirnya Geffie pasrah, dan memilih untuk tidak ikut mencari julia. Geffie hanya menyuruh Irwan saja mencari Julia, karena bagi geffie, dia masih merasa mempunyai hutang budi yang belum terbayar. Apalagi Eyang, dia sangat kehilangan kedua pelayannya yang jujur itu.


Saat sarapan pagi, Eyang membahas kembali kepergian julia. Geffie merasa iba melihat ibunya yang sedih karena kedua pelayan kepercayaannya belum ditemukan juga.


"Mama, jangan sedih. Geffie sudah menyuruh Irwan, mencari mereka berdua."

__ADS_1


"Mama kangen masakan Julia dan Naila, biasanya tiap pagi Mama di buatkan masakan desa sama Naila, kadang julia." Ujarnya sedih.


"Tapi, kita sudah mencarinya Ma. Dan kita belum juga menemukan Julia. Atau mereka pulang ya ke kampung,"


"Tidak mungkin, julia masih punya masalah keluarga, Mama yakin dia masih dibali. Dia bilang ingin sukses dulu, bisa membahagiakan kedua orangtuanya."


"Mama sabar, coba geffie suruh Irwan ngajak teman, siapa tahu julia di temukan."


"Semoga saja,"


Karena sudah siang, Geffie langsung berangkat ke Villa, dia harus bertemu tamu penting siang itu.


Geffie laki-laki dewasa yang tampan, banyak karyawan villa yang mencuri pandang. Meski umurnya lebih dari 30 tahun, tapi wajahnya masih seperti anak muda saja.


Dan anehnya, sejak kehilangan april, Geffie tidak punya keinginan memulai sebuah hubungan lagi. Padahal, ada beberapa rekan bisnis Eyang, yang memintanya menjadi suami untuk putrinya.


Setelah pertemuan penting, Geffie pergi ke sebuah Mall, dia pergi untuk membeli sepatu. Saat hendak membayar di kasir, Geffie di kejutkan dengan wanita yang tidak asing. Tapi, Geffie memilih menghindar dari wanita itu.


Pikirannya kacau, melihat wanita yang sudah mempunyai anak, dia adalah april. Wanita yang menghilang hampir sepuluh tahun.


"Kenapa harus melihat dia lagi, bukankah aku tidak ingin bertemunya kembali." Batin Geffie, dia yang rencana langsung mau mencari julia, akhirnya langsung pulang. Memilih untuk menenangkan pikirannya lagi.


Eyang tidak mau kejadian itu kembali menyapa Geffie, dia pun mengetuk pintu keras sekali. Pintu terbuka.


"Ada apa Ma?"


"Tumben sekali, datang dari kantor, wajahnya seperti itu."


"Maaf Ma, tadi Geffie melihat april.''


Deg..


Dada Eyang langsung berdetak kencang, sakit saat mendengar nama april. Karena bagaimanapun, wanita itu pernah membuat Geffie gila, dan hampir tidak punya masa depan.


"Apakah dia menyapamu?" Tanya eyang pelan.


"Tidak Ma,"


"Syukurlah,"

__ADS_1


"Kenapa Mama terlihat takut,"


"Mama takut hal buruk menimpamu, itu saja."


"Aku juga takut, tapi aku lebih sadar diri ma."


"Kamu harus menikah!"


Geffie terkejut, dia menoleh kearah Eyang, seakan ucapan Eyang hanya sebuah gurauan.


"Mama bercanda bukan?"


"Tidak Nak. Kamu harus menikah, aku tidak mau kamu di ganggunya lagi,"


"Tapi Geffie tidak mempunyai wanita yang pas, pacara maksud Geffie,"


"Apakah cinta masih di perlukan? Sedangkan kamu gila karena cinta. Cari wanita baik, yang sama-sama ada ketika sama-sama membutuhkan. Maka akan hadir dengan sendirinya yang namanya cinta."


"Mama yakin dengan keputusan Mama?"


Eyang mengangguk, dia hanya tidak ingin hal buruk datang lagi pada lehidupan Geffie.


"Mama punya calon?" Tanya Geffie heran.


"Belum, beri Mama waktu satu bulan," Ujar eyang, meminta waktu.


"Baiklah, tapi, jika, dalam satu bulan Mama tidak menemukannya, biarkan Geffie hidup sendiri saja." Geffie terlihat tidak bersemangat.


"Nak, kamu harus menikah, punya keturunan, bisa menjadi tempat bersandar, Mama kelak."


"Sudahlah, Geffie mau tidur, Jangan bahas menikah lagi. Mama silahkan cari dulu calon untuk Geffie, kalau tidak dapat, biarkan Geffie menikmati kesendirian Geffie dulu."


Eyang tidak menjawab, dia langsung pergi, sambil sedikit senyum. Geffie masih mengingat wajah april, wajah yang sudah menua, dan sudah punya anak.


Di lain tempat, Julia dan Naila benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Karena mendapat pesanan nasi tumpeng, dan nasi kotak 100, mereka sangat menikmati kesibukannya. Setelah selesai, mereka memesan taxi onlien. Membawa nasi tumpeng dan nasi kotak itu menuju Villa yang memesannya.


Setelah sampai, mereka langsung turun dan di bantu oleh staff Villa membawa ke ruangan yang akan di selenggarakan acara. Semua sudah selesai di bawa, Naila dan Julia keluar. Ketika hendak naik ke Taxi, seseorang memanggil Nama Julia dengan keras sekali. Membuat julia menoleh dan terkejut.


terimakasih, masih tetap setia. jangan lupa like, komen, and vote.

__ADS_1


__ADS_2