Tak Seindah Rembulan Malam

Tak Seindah Rembulan Malam
Mulai Di Gunjing Tetangga


__ADS_3

Ketika kita di hina, diamlah, melawan tidak akan menang, karen manusia memang punya pemikiran berbeda-beda.  Kita cukup diam, dengarkan. Karena setiap ucapan mereka akan kembali kepada mereka.


 


Julia tersenyum, merasa tidak baik jika harus banyak bicara, dia menjawab satu kata saja.


“Tidak.”


“kerja ya, suaminya?”


“Iya. Saya pamit dulu ya bu, mau jemput Varo.” Sebelum Ibu Silfi bicara, Julia buru-buru pergi  dia tidak mau jika harus banyak bicara, dan akhirnya menjadi panjang ceritanya.


Julia tergesa-gesa jalannya, setelah sampai di rumah H. Husni langsung menemui Ibunya. Varo langsung berlari memeluk Julia.


“Julia tambah berisi saja, sejak menikah dengan orang gedongan, tambah putih bersih. Mana suami kamu? Kok tumben Varo ikut kesini? Biasanya dia tidak di izini kalau main kerumah orang, sama Papanya.” Ujar Ibu Narsih, sambil menyindir.


“Iya bu,” Jawab singkat Julia.


Lalu menarik tangan Varo untuk pulang, dan Ibu Fatma tidak banyak berkomentar, dia tahu kalau di jawab panjang ceritanya.


Julia pamit pulang dulu, karena tidak mau banyak di tanya tetangga yang kerja di sana. Semua perjalanan yang di lalui tidak perlu banyak yang tahu, karena mereka tidak akan membantu kita, malah sebaliknya mereka akan mengunjing bahkan menghina nya jika tahu.


Kisah yang menyakitkan, Tapi tetap harus di hadapi. Meski terasa tidak punya tujuan, harus lebih kuat untuk berjuang.


Setelah sampai di rumah, Varo di baw kekamarnya, dan di temani oleh Julia. Saat hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja varo membangunkan ibunya.


“Mama, Papa kemana?”


Deg....


Akhirnya yang di takutkan terjadi, Varo sudah mulai menanyakan Papanya. Julia mencoba menjawab meksi harus berbohong.


“Papa pergi kerja jauuuuh sekali, jadi selama Papa kerja kita tinggal di rumah Nenek dan Kakek.” Ujar Julia menahan tangisnya.


“Papa pasti pulang kan Ma?” Tanya Varo lagi.

__ADS_1


Julia mengangguk, dia tidak tahu jawaban apa yang akan di berikan Julia nanti, jika Varo bertanya lagi. Karena anak adalah korban pertama dalam perceraian. Semampunya bertahan, tapi taqdir sudah berkata lain. Julia tahu itu adalah cobaan, dan Julia sadar, jika Kevin tidak lagi menginginkannya.


Keseharian Julia akan menjadi topik utama dalam ghibah ibu-ibu didesa itu. Dia akan menjadi bahan omongan tetangga. Mampukah Julia menghadapi semua yang terjadi atau sebaliknya dia akan pergi demi ingin ketenangan.


Disisi lain, Kevin tidak semangat bekerja, entah kenapa tiba-tiba saja, Kevin teringat Varo.  Anak kesayangannya itu kini harus terpisah darinya. Setelah sampai dirumah,  Ibu Anisa langsung menyambutnya.


“Kamu sudah pulang Nak?” Tanya Ibu Anisa.


“Iya, Bu.”


“Kenapa lesu?” Tanya Ibu Anisa.


“Kepikiran Varo bu.”


“Alah, sudah jangan di pikirkan, lah wong tinggal sama Mamanya, lagian kamu laki-laki, bagaimana mau ngurus anak kalau tinggal disini,  Ujar Ibu Anisa sinis.


Ternyata dalam kepergian Julia adalah ibu mertuanya, yang sudah membuat Kevin terpengaruh. Dan mendapat fitnah dari Ibu Anisa, sampai dengan tega mengantarkan Julia dan Varo kerumah orang tuanya.


Flashback


“Kenapa lagi?” Tanya Ibu Anisa kepo urusan anak dan menantunya.


“Julia pinjam Bank mingguan Bu, selalu uang belanja dariku kurang,” Ujar Kevin kesal.


“Nah, itu yang mau aku adukan sama kamu, bukan hanya itu saja tapi banyak. Ada juga bank yang satu bulan, dia itu seenaknya habiskan uang kamu, nah sekarang masih kurang. Atau dia kirim uang ke ibuknya, kan kamu tahu sendiri kehidupan mertua kamu miskin.”Ujar Ibu Anisa sinis. Sambil makan goreng pisang yang baru di belinya.


Mulutnya tajam, mampu membuat luka hati jika bicara. Sekali bercerita langsung membuat Kevin terpengaruh dan percaya.


“Pulangkan dia, kamu kalau sama dia pasti akan hidup banyak hutang. Percaya pada ibu.” Ucapannya semakin membuat Kevin terbakar, ibarat air yang mendidih, semakin apinya besar makan semakin air itu cepat panas.


Kevin tidak menjawab dia langsung masuk kamar dan memilih tidur dirumah ibunya. Dan keesokan harinya pulang dengan keadaan marah.


●●●


Karena malas berdebat dengan ibunya, Kevin pulang kerumahnya sendiri. Dia melihat kamar Varo, dan merasa hidupnya sepi. Tapi semua sudah terjadi, dan Kevin tidak akan membawa Julia kembali kerumahnya.

__ADS_1


Tak lama ada ketukan pintu, Kevin segera keluar dari kamar Varo dan membuka pintu.


“Permisi Mas,”


“Iya, cari siapa?”


“Ibu Julianya ada?”


“Sudah tidak disini, kalau boleh tahu dari mana?”


“kami dari koperasi simpan pinjam, kebetulan Ibu Julia pinjam uang 10 juta, dan sekarang sudah jatuh tempo.” Ujar petugas tersebut.


“Apaaa?? Kok bisa, bukankah dia tidak punya jaminan apa-apa, dan saya tidak mau membayarnya, karena saya tidak tahu menahu masalah hutang itu.” Kevin kejut dengan apa yang di katakan petugas itu.


Karena petugas itu hanya ingin bertemu julia, akhirnya mereka pergi. Sedangkan Kevin langsung duduk lemas.


“Wanita apa kamu Jul, kenapa kamu berhutang banyak sekali, aku tidak akan pernah lagi memikirkan wanita seperti kamu. Uang belanja yang sudah cukup masih saja kurang. Tuhan apa yang membuat istri saya seperti itu.” Guman Kevin kesal. Tanpa disadari melempar gelas sampai pecah.


Karena kesal pun mengirim pesan kepada Julia, dan kali ini Kevin benar-benar sudah tidak mau memberi ampun.


( kamu boleh habiskan gajiku, tapi jangan ninggalin hutang banyak. Kamu seenaknya berhutang sana sini, sampai-sampai hutangmu lebih 20 jutaan. Kamu pikir aku ini mesin uang?? Tidak salah aku mengantarkan kamu pulang keorang tuamu, karena kamu sudah menjadi wanita pembohong dan boros. Berapa kali pun kamu mau menikah, kalau kamu suka berhutang seperti itu, kamu tidak akan mendapat suami yang utuh hidup selamanya sama kamu, yang ada kamu akan berganti laki-laki terus menerus. Kamu lebih pantas menjadi pelacur, karena bisa banyak uang, dan tidak akan kekurangan.)


Pesan itu terkirim, amarah Kevin semakin memuncak. Dia sudah menjadi laki-laki yang menghakimi istri tanpa mendapat penjelasan dari istri. Wanita tidak akan banyak hutang jika laki-laki sudah memenuhi secara utuh dan tidak kurang apapun.


Perrnikahan itu akan bisa langgeng jika keduanya saling percaya, jujur dan terbuka. Dan saling memahami satu sama lain.


Memutuskan  sepihak akan membuat penyesalan yang akhirnya akan merugi pada diri sendiri. Karena kebenaran pasti akan datang.


Notifikasi pesan pun terdengar nyaring. Segera Kevin membukanya. Matanya terperangah dan ada tatapan tajam saat membaca pesan balasan dari Julia.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2