Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Penghuni UKS


__ADS_3

07.28


Tahu apa artinya?


Artinya aku terlambat karena gerbang sudah ditutup hampir tiga puluh menit yang lalu.


"Tadi lewat jalan tikus. Kalau lewat jalan raya nanti ditilang."


Aku meledak lagi. Rael hanya diam dengan wajah yang menunjukan bahwa ia merasa bersalah. Aku mengungkit lagi soal helm dan dia hanya mengatakan maaf sepanjang aku mengomel padanya.


Jadinya, aku dengan tangan kanan menenteng ember dan tangan kiri memegang pel. Di sampingku berdiri Rael dengan kondisi dan bawaan yang sama. Berdiri di tengah lapangan basket indoor yang sepi. Ceritanya kami sedang dihukum membersihkan lapangan ini.


Aku dengan wajah super datar melirik cowok di sampingku. Aku menghela napas saat Rael hanya memberikan cengiran khasnya. Dan kenapa aku malah tersenyum tipis hanya karena wajah bodoh itu?


"Setiap hari lo lewat jalan tikus?" tanyaku meletakkan ember di lantai.


"Gak," jawabnya.


"Kok gitu? Lo 'kan gak pernah bawa helm," kataku setengah menyindir.


Rael membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadapku. "Kalau gue sendiri, ogah lewat jalan tikus. Kabur dari polisi mah gampang. Tapi 'kan gue lagi sama lo. Konsekuensinya nanti bukan cuma gue yang nanggung."


Aku meliriknya tanpa mengatakan apapun. Bolehkah aku merasa senang karena dia memikirkanku? Aku menatap pel yang aku pegang.


"Jangan marah lagi." Rael mencolek lenganku seperti anak kecil.


Aku menarik napas. "Gue gak marah," kataku. "Udah ah, gue gak mau lama-lama di sini." aku mulai mengikat rambutku kuncir mengenakan karet gelang yang aku pakai.


Aku terdiam lalu melirik Rael bingung karena cowok itu tidak memberikan reaksi apapun. Dengan wajah tampannya dia malah menatapku diam.


"Lo kenapa sih?" tanyaku jengah.


"Lo gak usah kerja. Gue aja."


Aku berdecak. "Gue bilang gue gak marah. Gak usah merasa bersalah."


"Nanti lo capek."


"Ngepel kayak gini gak bakalan bikin gue capek."


"Tapi lapangannya gede."


"...gue siram pake air pel mau?"


Rael menggeleng cepat. "Oke. Oke. Lo sebelah kanan, gue kiri."


Aku mengangguk. Tanpa berkata lagi, aku mulai bergerak membersihkan setengah lapangan itu.


Tadi itu, aku sama sekali tak menyadari bahwa kami lewat jalan tikus. Sepanjang perjalanan aku menyandarkan wajahku di bahunya karena angin pagi yang dingin. Seharusnya aku sadar saat tak mendengar kebisingan jalanan kota. Bukannya malah menikmati aksi bersandarku di bahunya.


◻◻◻

__ADS_1


Aku tidak bisa menghentikan tawaku. Wajahku terasa sedikit panas karena sedari tadi terus tertawa. Di depanku, Rael sedang duduk di pinggir lapangan dengan wajah kesal.


"Gimana nih? Gue gak punya celana lagi. Masa iya gue dikira ngompol?"


Tadi, saat sedang sibuk-sibuknya mengepel, cowok itu malah usil berlari-lari dari ujung ke ujung bolak-balik dengan pel. Katanya biar cepat bersih. Tapi tanpa sengaja ia menendang emberku hingga airnya berserakan dan dengan mataku sendiri aku melihat pacarku itu terjengkang dengan bodohnya.


"Stop ketawa."


Tawaku justru semakin menjadi. Aku sudah menutupi mulutku agar tawanya berkurang, tapi adegan dimana Rael terjengkang selalu berputar-putar dalam kepalaku.


Aku mendengar Rael menggerutu. "Rok lo juga basah tuh."


Aku sontak menatap rokku dan tercengang melihat bagian samping kanan yang basah. Bukan cuma itu, sebagian dari seragamku ikut basah walau tidak terlalu jelas. Mungkin terkena air yang menciprat saat Rael menendang embernya.


Aku menggigit bibirku. Aku mendengar Rael menghela napas dan cowok itu merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan ponselnya. Setelah mengutak-atik beberapa saat, dia menatapku lagi yang masih memandangi rokku. Di memandang ke arah yang sama.


"Pake," katanya setelah melempar jaketnya padaku. Aku menatapnya. "Temen-temen gue mau datang, pake."


Tanpa protes lagi aku memakai jaket denim yang ia berikan. Memang tidak bisa menyembunyikan semuanya, tapi cukup untuk menutupi tubuhku sampai bawah panggul.


Tak lama kemudian, dari arah pintu masuk lapangan indoor ini, datang dua orang cowok yang aku kenal sebagai teman dekat Rael. Saat sampai keduanya, malah menertawakan pacarku yang masih duduk di lantai.


"Nih, ganti celana lo." Andre melemparkan celana training hitam yang langsung ditangkap Rael.


Pacarku itu berdiri dan menatapku. "Gue ke toilet dulu. Lo temenin gue," katanya padaku. "Lo bedua, lanjutin pelnya."


Aku mendengar kedua temennya itu berteriak protes saat Rael buru-buru menarik tanganku pergi. Rael tertawa puas hingga aku ikut-ikutan tertawa geli. Kami terus berlari hingga sampai di toilet cowok.


Aku mengangguk dan menunggu di luar sementara Rael mengganti celananya. Bibirku tertarik lagi membentuk senyuman. Aduh, aku tidak bisa berhenti tersenyum.


Lalu aku sadar, Rael terlalu memberikan banyak warna dalam hidupku. Hidupku yang sedari dulu hanya berputar soal menjadi anak yang baik, sekarang mulai diajarkan menjadi anak yang bebas tanpa kurungan. Aku cemas, karena aku mulai menikmati semua yang Rael tawarkan.


Aku khawatir dan mulai memikirkan bagaimana keesokan harinya jika semuanya telah berubah. Lebih daripada itu, aku selalu bertanya-tanya, apakah Rael tulus?


Pintu toilet terbuka dan Rael keluar dengan celana training yang sudah terpasang di kaki panjangnya. "Ayok."


Aku ikut saja saat dia menarik tanganku. Membiarkannya menyelesaikan semuanya. Aku hanya ingin lihat apa yang akan dia lakukan.


Rael membawaku ke UKS. "Lo di sini dulu. Gue gak mau lo diliatin orang-orang nanti."


"Lo mau kemana?" tanyaku.


Rael tersenyum tipis. "Lo tunggu aja. Gue balik bentar lagi," katanya dan menutup pintu meninggalkanku sendirian di UKS.


Aku menghela napas dan memilih berbaring di salah satu ranjang. Menatap ke plafon putih dengan kipas angin yang bergerak lambat. Sama seperti kehidupanku.


Selalu saja seperti ini. Aku tidak bisa berhenti memikirkan hubunganku dengan Rael. Setiap aku termenung, hal yang selalu aku pikirkan adalah tentang aku, Rael, mantannya.


Aku menghela napas. Lagi.


"Lo bisa cepet tua kalau kebanyakan ngehela napas."

__ADS_1


Aku terperanjat kaget saat mendengar sebuah suara berat berkata demikian. Aku langsung terduduk dan melihat sekitar. Tidak ada siapapun.


Saat merasa ngeri, aku mendengar suara helaan napas, dan gorden pembatas di samping kiriku terbuka tiba-tiba. "Nih, gue masih manusia."


Aku sempat memekik tertahan sebelum menutup mulutku sendiri. Tentu saja aku kaget. Melihat seorang cowok dengan wajah bantal, rambut dan pakaian tak rapi, berbaring sambil menatapku malas. Berkata tiba-tiba seperti hantu, kukira bukan hanya aku yang akan kaget.


Aku mengusap dadaku pelan. "Jadi di sini tongkrongan lo?" tanyaku sedikit sarkas.


"Rumah kedua gue."


Aku mencibir. Cowok itu menghimpit kedua lengannya yang terlipat di bawah kepala dan memejamkan matanya. Melihatnya tak bereaksi lagi, aku menghela napas.


"Ngehela napas lagi. Dibilangin cepat tua," celetuknya.


Aku menggeram kesal. "Biarin. Yang tua gue. Bukan lo."


"Kalau lo tua, jelek dong."


Aku mengernyit. "Hah?"


Adrian mengerjap menatapnya bingung. Nampaknya dia pun terkejut dengan apa yang dia ucapkan.


"Udah ah, gue ngantuk. Jangan ganggu gue." lalu dengan wajah tanpa dosanya cowok itu menarik lagi gorden pembatas hingga menutupinya sepenuhnya.


Aku tercengang tak tahu harus berkata apa. Dasar aneh. Gerutuku dalam hati. Selama yang aku tahu, Adrian ini terlalu cuek dengan hal sekitarnya, dan sekarang dia mengatakan aku jelek?


Apa yang salah dengan cowok ini?


Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka. Aku menegakkan tubuhku saat melihat Rael masuk. Cowok itu membawa suatu bungkusan.


Dia memberikannya padaku. Aku mengerjap saat tahu apa itu. "Lo beli?"


Rael mengangguk saat menarik kursi dekat nakas dan duduk di sana. "Buruan ganti," katanya. "Seragamnya gak ada. Lo pake aja jaket gue dulu."


Aku menganga. "Gak perlu beli juga," kataku tak setuju karena dia mengeluarkan uang.


Rael mengernyit. "Trus gimana? Minjem? Sama siapa?"


Aku hendak menjawab, tapi Rael benar. Jadi aku hanya menghela napas dan turun dari ranjang. "Oke," kataku dan segera masuk ke dalam toilet khusus UKS itu.


Setelah mengganti rokku, aku menyempatkan diri untuk mencuci muka. Ujung jaket Rael sedikit kebasahan karena berlebih di tanganku. Aku melepas ikat rambutku dan merapikannya. Sambil berjalan keluar, aku menyapu ujung-ujung jaket Rael yang terkena air.


Rael berdiri saat aku sampai di depannya. Aku sempat mendengar cowok itu menghela napas sebelum meraih tanganku dan melipat lengan jaket yang kupakai lebih pendek.


"Tangan siapa sih ni? Pendek banget," katanya mengejek.


Aku menatapnya dengan tatapan super datar. Sudut bibirnya berkedut saat aku menatapnya demikian.


"Sorry. Tangan cewek gue," lanjutnya geli.


Aku mengedip malas. Dasar—

__ADS_1


◻◻◻


__ADS_2