Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Berkelahi Lagi


__ADS_3

Aku sudah memutuskan untuk berhenti peduli. Aku sudah berkali-kali memantapkan hatiku untuk tidak sakit lagi. Tapi satu hal yang membuatku kesal pada diriku sendiri adalah karena aku tidak dapat mewujudkan apa yang sudah aku rencanakan matang-matang.


Nyatanya, aku tetap membawa kakiku berlari kembali ke lapangan yang tadi sempat aku singgahi. Hanya karena keributan dan samar-samar ku dengar seseorang menyebut nama pacarku berkelahi dengan orang lain.


Aku membenci diriku sendiri karena lagi-lagi khawatir.


Orang sudah ramai berkumpul namun tetap aku terobos perlahan. Pemandangan selanjutnya membuat kernyitan dalam di dahiku. Rael sedang berkelahi dengan seorang cowok yang wajahnya familiar namun aku tidak tahu siapa. Yang aku tahu cowok itu berandalan sekolah yang sudah menjadi blacklist para guru.


Ada urusan apa Rael hingga berkelahi dengan cowok berandal ini?


Detik berikutnya aku paham soal apa yang mereka ributkan. Seorang gadis yang kelabakan melerai keduanya. Bukan. Lebih tepatnya berusaha menghentikan Rael.


"Anjin*."


Aku mendengar desisan Rael saat mendapatkan pukulan di pipi kanan. Selanjutnya dia membalas dengan pukulan lebih keras.


Aku memejamkan mataku. Yang pasti keduanya ribut lagi disertai teriakan Malika menyuruh mereka berhenti. Aku heran kenapa teman-temannya kedua orang ini hanya berdiam diri menyaksikan.


Tapi dadaku sesak.


Sial. Rasanya ada sesuatu yang besar menghimpit hingga aku kesulitan bernapas. Tanganku sempat mengepal. Aku lagi-lagi tak dapat menghentikan gejolak emosiku. Mataku sekilas menangkap seorang siswa yang sedang piket menenteng ember dan pel dekat koridor—yang juga ikut menyaksikan dari jauh.


Aku menghampirinya dan meminjam ember itu tanpa kata. Aku tidak dapat berpikir. Kepalaku panas dan tiba-tiba saja suasana mendadak sunyi setelah motorikku bekerja melempar isi ember itu ke tengah lapangan.


Tepatnya pada dua orang yang sedang berkelahi itu.


Berhasil. Mereka berhenti. Tubuh mereka kuyup termasuk Malika. Ketiganya menatapku dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Aku melepaskan ember itu ke lantai dan memberikan tatapan terdingin yang aku punya. Lebih tepatnya pada seorang cowok yang sedang menatapku dengan napas tersengal. Aku melirik sebuah tangan lentik yang memegang belakang seragamnya dan sudut bibirku berkedut samar.


Gigiku sempat bergemelatuk pelan sebelum bibirku dengan gemetar terbuka. "Do what ever you want," lirihku dengan suara kecil dan tatapan dingin.


Tapi aku pastikan Rael mendengar dan menangkap maknanya. Sebelum aku pergi dengan wajah pias dan gejolak emosi dalam dadaku.


Do what ever you want. But don't ever ask me to care.


◻◻◻


Kejadian kemarin itu justru berdampak padaku. Pertama kali menginjak lantai sekolah, aku sudah mendapat perhatian dan bisik-bisik menyebalkan. Aku memasang wajah datar dan tidak mempedulikan siapa pun.


Aku mempunyai dua sahabat yang bukan gadis lemah sepertiku. Beberapa kali dalam hari ini, baik Andin dan Liona kompak menyembur jika ada yang ketahuan sedang menggosipiku. Keduanya sama memiliki watak keras dan bermulut pedas. Melabrak bukan hal sulit.


Aku tidak menghentikan mereka. Mungkin terdengar jahat, tapi aku puas.


"Tapi Lu, lo beneran keren. Gue kaget lo ternyata seberani itu."


Aku tidak menyahuti perkataan Andin dan lebih terfokus pada bakso di depanku.


"Tapi gue suka. Gue dukung," sahut Liona lalu tertawa kecil bersama Andin.


Aku meletakkan sendokku dan menatap kedua sahabatku itu. "Hari ini lo bedua jadi bodyguard gue. Gue gak mau ketemu Rael."


"Siap," jawab Andin dan Liona mengangguk saja.


"Gue juga kesel sama cowok lo. Gue tau Malika cantik kayak bidadari." Andin berhenti sejenak hanya untuk mencibir karena perkataannya sendiri. "Tapi 'kan dia udah punya pacar. Gue salah paham tau gak?"

__ADS_1


"Gue juga salah paham. Atau mungkin mereka gak pernah putus?"


Aku tertegun mendengar ucapan Liona. Dalam kepalaku mulai muncul spekulasi-spekulasi negatif yang membenarkan ucapan Liona.


Mereka, Rael dan Malika tidak pernah putus karena itulah Rael sangat peduli pada gadis itu.


Lalu bagaimana denganku?


Aku mendorong mangkok baksoku. Selera makanku tiba-tiba hilang hingga Andin dan Liona menatapku.


"Sorry," kata Liona meminta maaf.


Aku menggeleng. "Gak usah minta maaf. Mungkin aja lo bener." Aku menghela napas. "Gue ke toilet dulu."


Aku keluar dari kantin dengan pikiran kusut. Sebenarnya aku tidak tahu akan pergi kemana, tapi aku butuh untuk menenangkan pikiranku.


Langkahku sampai di koridor paling depan. Selanjutnya siluet seorang wanita dewasa yang familiar membuatku menegang. Aku tidak sempat melarikan diri karena wanita itu sudah terlebih dahulu memergokiku.


"Aloona."


Aku menghela napas. Sudah kepalang tanggung, jadi aku mendekatinya dan menyalimi tangannya. "Tante lagi apa di sini?"


Tante Sabrina menghela napas. "Rael berantem lagi. Papanya sampai kapok dan gak mau dateng. Akhirnya tante yang harus hadir."


Aku tidak tahu harus bicara apa. Apa mungkin tante Sabrina tidak tahu kalau aku juga mengetahui tentang perkelahian itu?


"Berantem karena apa?" tanyaku akhirnya pura-pura.


"Gak jelas juga. Ini makanya tante datang. Kamu anterin tante ke ruang BP yah?"


Tante Sabrina nyengir. "Zaman tante dulu namanya BP. Tante 'kan juga pernah muda."


Aku menarik senyum saat tante Sabrina tersenyum lebar. Senyum yang mirip sekali dengan putra semata wayangnya.


"Ya udah, ayok."


Aku berjalan berdampingan dengan tante Sabrina. Wanita dewasa dengan gaya elegan mirip Mamaku itu banyak mengoceh sepanjang perjalanan.


Aku sendiri memikirkan hal lain. Aku tidak mau bertemu Rael lagi. Apa yang akan cowok itu pikirkan nanti jika melihat aku bersama Ibunya? Bisa-bisa dia bersikap seenaknya padaku.


Kami sampai di depan ruang BK. Tante Sabrina menatapku dengan senyumnya yang lembut. "Kapan-kapan main ke rumah ya," katanya. Aku tersenyum saja tanpa menjawab.


"Walaupun kalian udah putus, hubungan kita gak harus putus juga."


Eh?


Apa maksudnya tante Sabrina tidak tahu kalau kami sudah balikan?


"O-oh itu—"


"Ma,"


Aku menegakkan punggungku sambil membuang pandangan saat mendengar suara yang amat aku kenal.


"Kok Mama yang dateng? Papa mana?"

__ADS_1


"Papa kamu gak mau datang. Kapok."


Aku dengar Rael menghela napas lega sebelum tante Sabrina kembali berkata. "Tapi Papa kamu nunggu di rumah. Siap-siap aja."


Aku tidak begitu fokus pada apa yang mereka bicarakan. Pikiranku justru tertuju pada apa yang tante Sabrina katakan sebelumnya. Dia tidak tahu kalau kami sudah pacaran lagi. Apa artinya dia mencoba memberitahu kalau Rael masih mempunyai pacar yang lain selain aku?


Aku mengangkat pandanganku pada Rael dan menemukan cowok itu juga menatapku. Aku menatapnya dingin.


Sial. Lo cowok brengsek, Rael.


Detik berikutnya aku mengalihkan pandanganku pada tante Sabrina. "Alu duluan ya tante. Udah mau masuk," kataku dan buru-buru undur diri dari sana.


◻◻◻


Selagi meredam kekesalan di hatiku, aku melihat Adrian yang duduk di pojok kelas sambil berdiam diri. Wajahnya terlihat malas-malasan menatap ke depan, ke arah Bu Sinta yang sedang menjelaskan.


Aku teringat luka kemarin dan itu membuatku merasa tak enak lagi. Sepuluh soal essay yang Bu Sinta berikan aku kerjakan secepat mungkin. Setelah itu aku mendekatinya. Duduk di kursi di depan mejanya. Kursi itu kosong karena kebanyakan murid duduk berkelompok dan mengerjakan tugas bersama.


"Lo gak buat tugas?" tanyaku hati-hati.


Dia melirikku. "Lo masih nanya?"


Tuh 'kan. Aku menghela napas. "Ya udah. Sini gue bantuin," kataku mengambil buku tulis yang terletak di depannya.


Aku membuka bukunya dan melongo melihat kertasnya yang bersih tanpa ada satu coretan pena pun.


"Ini beneran buku tugas Fisika lo 'kan?" tanyaku sangsi. Dia tidak menjawab jadi kusimpulkan sebagai jawaban 'iya'.


Intinya dia tidak pernah buat tugas. Ini benar-benar membuatku geleng-geleng kepala tak mengerti dengan cowok di depanku ini. Padahal dia sudah kelas dua belas.


Gila gak tuh?


Kenapa dulu dia bisa naik kelas?


"Lo diktein jawabannya, gue tulis."


Dia menatapku dengan alis terangkat dan raut datar. "Gue masih bisa nulis," katanya.


Aku melirik tangan kanannya yang masih berbalut kain kasa. "Iya gue tau. Tapi tulisan lo pasti jelek dan gak kebaca, jadi gue yang nulis. Oke?" aku memberinya senyum agar suasana hatinya baik. Dia sempat tak berekspresi sebelum menghela napas.


Aku anggap itu sebagai jawaban iya.


Di luar dugaan, ternyata Adrian tidak sebodoh yang aku pikirkan. Aku terkejut ketika dia mendiktekan jawabannya beserta proses penyelesaiannya dengan lancar.


Manusia macam apa orang ini?


Benar-benar tidak bisa dinilai dari luar.


Bel pulang berbunyi. Aku mengecek ponselku dan menemukan tumpukan notifikasi. Baik dari sosial media hingga panggilan telepon. Aku menyimpan lagi ponselku. Memang seharian kemarin aku tidak menyentuh benda segi empat itu dan mengaktifkan mode silentnya. Jadi aku tidak tahu sama sekali tentang spam yang Rael buat.


Aku sedang malas dengan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.


Biarlah dia lakukan apapun sampai dia lelah.


Poor Rael.

__ADS_1


◻◻◻


__ADS_2