
Ada dua hal yang paling aku benci di dunia ini. Pertama saat penyakitku kambuh dan aku tidak bisa mengatasinya sendiri. Dan yang kedua adalah saat aku tidak bisa melakukan apa-apa saat orang-orang menjahatiku seperti ini.
Apa menggosipkan seseorang itu termasuk kejahatan?
Anggap saja begitu. Karena membuatku kesal dan sialnya tidak ada yang dapat aku lakukan. Kenapa aku tahu? Karena mereka berbicara tepat di dekatku. Entah sengaja atau tidak, suara mereka tidak terbilang kecil untuk menggosipkan seseorang.
Aku segera keluar dari toilet yang membuat kepalaku panas. Kelas sepi saat aku sampai di sana karena saat ini masih dalam jam istirahat. Aku tidak mood untuk makan apapun, sejak mendengar omongan-omongan yang membuatku kesal tadi.
Aku memilih-milih lagu dalam playlist ponselku dan memasangkan headset. Saat akan memasangkannya di telingaku, aku lihat Adrian masuk dengan wajah acak-acakan.
Aku menatapnya yang lewat di depanku menuju mejanya yang di belakang.
"Kenapa liat-liat?"
Aku hampir tersedak saat dia balik menatapku dengan kata-kata ketus.
Aku berdehem. "Tumben betah di kelas?" tanyaku setengah menyindir tanpa menatapnya.
Selama beberapa detik aku tidak mendengar apapun hingga dia berkata lagi. "Gak usah sibukin gue. Sibukin aja cowok lo yang lagi sama cewek lain sana."
Aku terkesiap.
Aku menolehkan kepalaku ke arah belakang, ke arah Adrian. Cowok itu menempelkan pipinya di lengan kirinya yang menjulur di atas meja. Menatap ke arahku tanpa ekspresi.
Aku tidak dapat berkata apa-apa dan kembali meluruskan tubuhku ke depan.
Aku tertawa sarkas tanpa suara. Dalam kepalaku, tiba-tiba terbayang bagaimana suasana saat Rael dengan seorang cewek lain. Melakukan hal yang biasa ia lakukan padaku. Atau mungkin lebih manis lagi.
"Ngasihanin banget lo," gumamku pada diriku sendiri dengan tatapan kosong kemudian tersenyum kecil.
Aku memasangkan headset yang tadi tidak sempat aku pasangkan. Namun lagi-lagi aku tidak bisa menghilangkan Rael dalam pikiranku.
Sial. Aku sudah menduga ini. Tapi rasanya masih menyakitkan seolah-olah ini tidak pernah aku pikiran.
Aloona, kamu memikirkannya setiap hari. Kamu sudah membayangkannya bahkan di saat pertama kali Rael meminta balikan. Kenapa kamu merasa kesal?
"Lapangan futsal. Kalau lo mau tau."
Aku mendengar Adrian berkata lagi. Dadaku sesak hingga aku menarik napas panjang-panjang. Aku cabut lagi headset yang telah aku pasang dan menyimpannya di laci.
Aku tahu, aku terlihat bodoh. Mungkin Adrian akan menertawakanku setelah ini, tapi entah kenapa aku sangat ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Katakanlah aku ingin memastikan ucapannya. Katakanlah aku masih berharap.
◻◻◻
Aku berjalan cepat ke tempat yang Adrian katakan. Mengabaikan Andin yang sempat memanggilku saat melewati kantin tadi. Aku hanya ingin menuntaskan penasaranku ini. Iya, aku sangat penasaran melihat Rael dengan siapa?
Malika? Atau cewek lain ya?
Apa aku terlihat antusias? Mungkin begitu. Tapi dadaku terasa nyeri kalau mau tahu.
Mungkin aku terlalu terburu-buru, hingga saat melewati belokan di ujung, aku tidak sempat menghindar dan menabrak seseorang. Akibatnya, jaket Rael yang aku pakai tersiram sesuatu berwarna kuning cerah dan berbau asam.
__ADS_1
"Aloona. Astaga, sorry gue gak sengaja."
Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya terpaku saat seorang gadis yang kukenal mengelap noda jus yang tumpah di jaket Rael ini, walaupun itu sia-sia.
Aku menghela napas merasa tindakannya tidak berguna. "Udah. Gak papa. Lo lap sampe besok pun gak akan hilang," kataku.
Sheva memasang wajah menyesal. "Sorry."
Aku memberinya senyum tipis dan segera berlalu meninggalkannya. Aku sedang terburu-buru. Ini tidak lebih penting dari urusanku.
Sambil berjalan cepat, aku membuka jaket Rael yang kotor dan menyampirkannya di lenganku. Aku memperlambat langkahku di ujung tikungan agar tidak ketahuan.
Aku menarik sudut bibirku dan tersenyum culas. Sekarang rasa penasaran itu hilang, berganti dengan sesuatu yang lain. Aku menyesal telah penasaran hingga membawaku kemari.
Aku menarik napas panjang dan menyandarkan tubuhku di dinding. Jaket Rael kupeluk di perut sambil menatap ke arah lapangan.
"Seminggu? Dua minggu?" tanyaku pada diriku sendiri. Mataku tak lepas dari arah depan. "Ah gak. Paling tiga hari lagi Rael mutusin gue."
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak merasa terganggu jika saat ini tiba. Aku harus menepatinya 'kan? Lagipula mereka cocok. Malika adalah sosok yang sempurna untuk Rael. Dan Rael adalah sosok yang tepat bagi Malika untuk merasa istimewa.
Aduh, kenapa hidungku terasa perih?
"Ngedip coba."
Aku terkesiap saat mendengar bisikan di sebelahku. Aku menoleh dan melihat seorang cowok di sampingku. Aku sontak mengedip dan terkejut saat sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Aku mengusapnya dan terpaku beberapa saat.
Aku tersenyum culas dan menatap cowok di sampingku. "Jahat banget lo bikin gue nangis."
"Kalau lo gak suruh ngedip, air mata gue gak bakalan jatuh." aku mengusap pipiku hingga tak ada lagi air mata.
Adrian berdecak. "Kalau nangis, nangis aja. Gak usah ngelak."
Aku memanyunkan bibirku dan menatap lagi ke depan. Tanpa aku sadar, objek yang sedang aku intip menatap ke arahku.
Tatapan tajam dan alis yang samar-samar terlihat berkerut.
Aku menegang. Menelan ludah dengan susah payah, aku mendorong Adrian ke balik tikungan dan menghilang.
Aku mengatur napas, mengabaikan Adrian yang menatapku heran.
Astaga! Aku menatap ke belakang. Ke arah tikungan dimana di sebelahnya ada lapangan futsal tempat Rael memergokiku. Cemas jika tiba-tiba saja sosoknya muncul dari balik sana.
Apa yang sudah aku lakukan?
Kenapa aku malah lari? Dan kenapa pula aku harus menarik Adrian bersamaku?
Aku mendongak menatap cowok tinggi di depanku. Adrian menatapku dengan alis terangkat.
Bodoh. Aku mengutuk diriku sendiri.
"Lo—kok kayak liat setan gitu sih?" tanya Adrian aneh. "Itu cowok lo. Masih manusia bukan setan."
__ADS_1
Karena dia pacarku makanya aku begini. Kalau bukan, mana mungkin aku peduli?
Tunggu. Kenapa aku jadi ketakutan begini? Seolah-olah akulah yang sedang berkhianat, bukan dirinya.
Aku menegakkan tubuhku. Benar. Aku tidak melakukan apapun. Untuk apa aku takut? Lagipula itu tidak akan berpengaruh, Rael tidak akan peduli jika aku berselingkuh sekalipun.
"Gue balik dulu," kataku akhirnya. Tanpa mempedulikan tanggapan Adrian, aku meninggalkannya sendirian.
Aku mengubah arah langkahku menuju toilet. Tidak ada siapapun di sana sehubungan dengan waktu istirahat yang sebentar lagi berakhir. Aku menatap wajahku di cermin dan meringis melihat kondisinya tak enak dipandang. Aku mencuci wajahku sebentar.
Tenang, Aloona.
Huft—
◻◻◻
Rael menelpon beberapa kali saat sekolah berakhir. Mungkin karena dia tidak menemukanku di kelas, wajar saja, aku sedang tidak berada di sana. Saat guru mata pelajaran terakhir keluar, aku melesat ke perpustakaan untuk menghindarinya.
Aku menghela napas saat panggilan masuk ke lima datang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya.
"Dimana?"
Aku berdehem saat Rael langsung bertanya.
"Gue ada tugas kelompok di rumah Andin."
"Gue tanya lo lagi dimana?"
Hei, kenapa dia ketus sekali? Aku melipat bibirku. "Ini lagi di jalan," jawabku berbohong.
Aku dengar dia berdecak pelan. Beberapa detik dia tidak menjawab membuatku menunggu-nunggu apa yang hendak ia katakan sambil memainkan ujung jaket Rael yang aku pangku.
"Rumah temen lo dimana?"
Aku mengernyit. "Buat apa?"
"Gue nyusul."
"Jangan," kataku. Kaget mendengarnya hendak menyusul. "Di sana cewek semua. Gak ada cowok. Gak enak kalau lo datang," kilahku lagi-lagi berbohong.
Aku menggigit bibirku sendiri saat tak ada jawaban dari seberang. "Jaket lo—kotor kena jus. Gak sengaja, maaf," kataku pelan dan tidak mendapatkan respon. "Gue cuci dulu besok gue balikin."
.
.
.
"...Hm—"
◻◻◻
__ADS_1