Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Saat Seminar


__ADS_3

Dua jam terakhir pembelajaran, seluruh anak kelas dua belas dikumpulkan di aula. Katanya untuk seminar PTN. Aku sendiri bersama Andin dan Liona berdiri di sudutnya.


"Kita cari spot yang enak dulu," kata Liona.


"Enak buat buka IG diem-diem?" sindirku.


"Enak buat ngemil juga," sahut Andin yang sudah dengan snack yang sembunyikan di balik ransel yang dijinjingnya.


Aku memutar bola mata. Kedua temanku ini memang sesuatu. Dengan pasrah aku ikut saja saat keduanya menggiringku menuju bagian agak ke tepi di samping kanan aula.


Dari arah belakang, ada seseorang yang menjawil rambutku. Aku menoleh dan menemukan cowok berandal yang mengangguku tempo hari.


"Eh, ikut seminar juga lo," kataku kelepasan.


Dia menyeringai tanggung. "Btw, kita belum kenalan 'kan? Gue Teri," katanya memperkenalkan diri. "Tapi tenang aja cantik, gue udah maafin lo kok. Dendam gue udah terbalaskan. Jadi kita temenan ok?"


Aku mengernyit. Cowok aneh ini tersenyum brengsek. Aku meluruskan pandanganku ke depan. Namun perkataannya membuatku kembali berpikir ulang hingga aku menoleh lagi padanya. "Dendam lo udah terbalaskan?"


Dia malah menyeringai. "Nah loh, kepo 'kan?"


Sumpah. Siapa sih namanya? Teri ini.


"Ekhem!"


Kami sontak menoleh. Ada seorang perempuan cantik dengan gaya sedikit urakan dengan seragam tak rapi. Lain denganku, si Theo ini malah memberikan reaksi berbeda.


"Darimana aja, yang?"


Eh? Wait.


Yang?


Aku melipat bibirku ke dalam. Cowok brengsek ini sudah punya pacar ternyata. Aku heran kenapa bisa dia punya pacar.


"Udah bosan main sama cowok?" tanya cewek itu.


"Gak bosan. Cari udara seger aja."


Dari depan aku mendengar Theo mengaduh. Tak tahu pasti, tapi saat aku melirik ke belakang, cowok itu sudah memegangi telinga kanannya setelah diusir cewek itu pergi.


"Udara seger? Tempat yang tepat. Tau aja lo yang cantik-cantik," kata Andin setengah geli setengah menyindir.


Detik berikutnya cewek yang tadi itu sudah ada di kursi depan barisanku dan duduk menghadapku. "Lo yang waktu itu nyiram cowok gue 'kan?" tanyanya.


Aku berdehem. "Oh, dia cowok lo? Sorry gue gak maksud."


Sudut bibir kanannya terangkat. "Gak papa. Sebenarnya gue juga mau nyiram dia. Cowok ganjen. Tau aja yang cantik," katanya.


Aku tersenyum kecil mendengar cara bicara yang terdengar unik.


"Btw, nama gue Seka."


"Gue Aloona."


"Gue udah tau."


Aku menaikan alisku.


"Secara cowok gue sohib mantan lo, mau gak mau gue sering denger tentang lo. Pasangan legendaris yang akhirnya putus."


Aku meringis dengan kalimat terakhirnya. Jujur itu sedikit berlebihan. Dia sendiri menyeringai.


"Biasa aja kali," katanya melihat reaksiku. "Btw, dua temen lo gimana nih? Boleh dong."


Andin menggigit keripiknya. "Gue terserah si ganjen," katanya merujuk kepada Liona.


Liona mengangkat kepalanya yang semula terpaku pada layar ponselnya. "Geng mana?" tanyanya.


Seka sempat mengernyit. "Gak geng mana-mana."

__ADS_1


"Geng Angel bukan?" tanya Liona lagi.


"Bukan. Btw, geng Angel itu geng siapa?"


Liona menggelengkan kepalanya. "Geng sekutu pengkhianat?"


Aku memukul paha Liona sementara Andin terkikik geli. Liona sendiri mengabaikanku.


"Berasa diinterogasi gimana gue gitu," jawab Seka setengah geli.


"Sorry, ini bukan kantor polisi."


Ampun Liona. Lo nyebelin banget sumpah.


"Gak geng mana-mana. Cuman gue sering ngumpul buat malak," Seka menyeringai.


"Weh seru dong," sahut Liona. "Tapi gue gak suka malak." dan sahabatku yang satu itu kembali fokus pada ponselnya.


Seka menoleh padaku. "Temen lo susah didekatin ya? Sok jual mahal gitu."


"Alhamdulillah. Oops gue abis sendawa. Sorry."


Aku melipat bibirku menahan geli. Gak ada sendawa. Kedua temanku ini hanya berusaha untuk memanasi dan membuat kesal Seka. Tapi cewek itu hanya tertawa.


"Gue suka lo bertiga. Tipe jujur-jujur *******. Btw, kalau mau gabung, datang aja ke geng malak gue ya. Terbuka khusus buat kalian." Seka berdiri. "Gue balik dulu."


Liona mencibir saat Seka sudah pergi. "Gak cowoknya gak ceweknya, sama aja."


"Kayak lo gak aja," sahut Andin.


"Koreksi ganjen. KITA."


Selagi keduanya saling melempar kata, aku tersenyum geli mendengarkan. Aku merasa semakin hubungan ini berlanjut dengan tak wajar seperti ini, semakin semuanya terasa kuat. Andin dan Liona adalah orang yang sangat jujur dengan diri sendiri. Aku merasa aku pun harus bisa jujur dan tidak bergantung pada keduanya.


Itu sulit, jujur saja.


Selang beberapa detik. Aula sudah penuh. Murid-murid lain bergerombol pindah ke depan. Aula bagian depan yang semula kosong sekarang sudah terisi penuh oleh anak perempuan.


Aku menoleh ke belakang dan mendengus.  Terang saja. Geng yang anggotanya seluruh cowok sekolah. Bukan geng resmi sebenarnya, bahkan tak ada nama. Pertemanan mereka hanya terjalin begitu saja dan terus meluas.


Yang menyebut mereka geng hanya orang yang melihat. Dilihat dari keakraban dan solidaritas yang tak pandang usia. Bahkan sampai ke adik kelas.


Semuanya memenuhi aula bagian belakang.


Dan barisanku adalah barisan cewek terakhir.


Tau apa yang menyebalkan?


Mereka berisik seperti lebah.


Bahkan suara seminator di depan tidak terdengar jelas.


Tau apa yang lebih menyebalkan?


Tepat di barisan belakangku ada Rael dan teman-temannya.


Dan tau apa yang lebih menyebalkan lagi?


Mereka saling melemparkan candaan dengan makna godaan. Dan itu untuk Rael menyangkut namaku.


Aku tak mendengar suara Rael sama sekali. Aku tebak dia hanya diam atau malah menyukainya. Kepalaku semakin panas saat mereka semakin gencar melakukan aksinya.


Tak kalah denganku, Liona nampaknya sangat terganggu. Dia meninggalkan ponselnya dan berbalik hendak menyembur. Namun belum sempat satu patah katapun keluar, gadis itu sudah berbalik lagi ke depan dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.


Hanya ada satu kemungkinan apa yang membuat Liona seperti ini.


Her EX.


"Ciah, gue berasa jadi geng BFF di drama ituloh. Gue udah ganteng belum ya? Ntar ngaca dulu."

__ADS_1


"Banci lo ya. Drama begituan lo tonton. Ampun gue Ky. Ampun."


"Syirik ae lo. Eh, tuan muda liatnya jangan ke depan mulu. Ke aku atuh. Aku meriang ini."


"Najisin banget lo sumpah."


"Udah. Disenggol aja. Diliatin mulu kayak patung aja."


"Ntar gue senggol dia jatuh. Colek aja dulu."


Kepalaku panas saat mendengar Rael akhirnya menyahut. Suasana di belakang makin heboh membuatku geram.


"SSSTTT!!!" dengan sekali gerakan aku berbalik ke belakang untuk menyuruh mereka tutup mulut.


Rael mengepalkan tangan di depan mulut dan berdehem menahan tawa. Aku berbalik lagi dengan sebal. Beberapa masih menggoda membuatku tambah jengkel.


"Oke sat. Diem."


"Anggap aja gue obat nyamuk. Gak papa dah. Yang penting lo bahagia."


"Diem."


Ada suara mengaduh dan cekikikan singkat sebelum suasana menjadi tenang perlahan.


Andin mencondongkan tubuhnya ke arahku. Lebih tepatnya ke arah Liona di sebelah kiriku. "Sekarang lo pura-pura gak tau. Kemarin aja ditungguin piket dan pulang bareng," bisiknya pada Liona yang dibalas dorongan kesal di dahinya.


"Kampret lo," umpat Liona tak kalah pelan.


"Lo juga," kata Andin padaku. "Sekarang sok-sokan marah. Kemarin aja pegangan tangan."


Aku menatapnya super datar. "Perlu juga gue tabok lo kayak Andin?"


"Yah, gue punya temen kok muna gini yah?"


"Koreksi ganjen. KITA," sahut Liona. Keduanya saling cekikikan dan berhigh five ria di depanku.


What ever, damn girl.


Seminar berakhir. Tebak apa yang aku dapat.


Nothing. Tidak satupun yang dapat aku tangkap. Padahal ini kesempatan bagus untuk memperdalam tentang PTN, namun gagal.


Dari depan, samping dan belakang. Semuanya pengganggu.


"Tau kok tuan muda ganteng, tapi jangan senyum-senyum terus. Berbagi dong."


Apalagi yang satu ini. Suaranya terdengar sepanjang seminar. Bukan apa, suaranya itu cempreng apalagi kalau tertawa, telinga terasa terinfeksi.


Aku lihat Liona dan Andin saling lirik-melirik. Andin meletakkan Aqua gelas yang tinggal setengah ke pangkuanku. Sebagian sampah snack Andin, berada di tangan Liona. Dengan sekali anggukan, keduanya berdiri dan berbalik menghadap si biang rusuh.


"BACOT!!!"


Dua tumpukan sampah di tekan ke kepala cowok itu seiring bergemanya seruan Andin dan Liona di aula itu. Kedua gadis itu kemudian kabur sambil tertawa.


Aku menganga melihat kondisi cowok itu dan meringis saat dia mengumpat ke arah Andin dan Liona.


Aku menggigit bibirku dan menggenggam aqua gelas itu erat. "M-mau gue bersihin gak?"


Reaksi yang ia berikan terlalu berlebihan. Teman-temannya yang semula heboh menertawakan, merubah rautnya menjadi ekspresi tak percaya.


"Boleh. Boleh. Silahkan," katanya mendekatkan kepalanya.


Aku menahan senyum. Dengan sekali gerakan, gelas aqua yang aku pegang, ku pencet kuat hingga airnya menciprat ke kepalanya.


"Rasain!" kataku dan berlari menyusul Andin dan Liona yang terbahak di pintu aula.


Bagaimanapun aku juga kesal. Itu jahat aku akui, namun dia sangat menyebalkan. Mungkin dia akan marah dan berniat membalaskan dendam bersama komplotannya. Namun yang kulihat adalah, teman-temannya justru menertawainya seolah tidak masalah aku berbuat demikian.


Termasuk Rael.

__ADS_1


◻◻◻


__ADS_2