
Aku berjalan beriringan bertiga bersama Andin dan Liona menuju toilet. Kelasku akan berolah raga setelah ini dan kami harus ganti baju.
Dalam perjalanan aku melihat Rael berada di lapangan futsal sedang memainkan bolanya. Aku menyipitkan mataku. Aku yakin aku tidak salah lihat. Seseorang yang bermain operan bola dengan Rael itu adalah cowok berandalan yang kemarin berkelahi dengannya.
Itu patut dipertanyakan. Kenapa mereka sangat dekat?
"Lo gak tau?" celetuk Andin. "Mereka itu sohiban."
"Gengnya Rael itu satu sekolahan. ******* sama brengsek gak mungkin gak temenan. Kecuali ******* sama alim dan brengsek sama kutu buku. Gak bakal nyatu," lanjut Andin.
"Apaan deh," sahut Liona dengan bahasa Andin. Andin menggedikkan bahunya.
"Cowok temenan emang gitu. Berantemnya sesekali. Tapi sekali berantem, akurnya cepet. Kalau cewek, bentar-bentar berantem. Sekalinya berantem, baikannya seabad."
Aku menyetujui ucapan Liona. Terbukti dengan dua orang laki-laki yang kemarin baru saja saling memukul, sekarang sudah bermain bersama di pinggir lapangan.
Lama aku memandang ke lapangan, selanjutnya aku tersadar begitu tanpa sengaja melihat Malika di pinggir lapangan. Aku mengalihkan pandanganku dan berdehem.
"Ayok ah," kataku dan berjalan mendului Andin dan Liona menuju toilet.
"Jadi, sekarang musuh lo itu Malika, atau Sheva?" tanya Liona sambil bercermin.
"Stop tanya tentang itu," kataku kesal saat akan memasuki salah satu bilik.
Liona memutar bola matanya dan berbalik menatapku. "Gue cuma mau ngetes aja. Ternyata bener lo belum bisa move on dan pura-pura gak peduli aja."
Aku kehilangan kata-kata hingga mulutku hendak berkata namun tidak ada satupun kata yang terlontarkan.
"Tapi kita sama, gue juga belum bisa move on," lanjut Liona. "Gue gak tau deh, si Ian yang waktu itu mutusin gue masih tetep ngechat. Nanyain udah makan, belajar, bilang jangan keluyuran, jangan ganjen." Liona menggedikkan bahunya.
Itu Liona. Tapi tidak denganku. Setelah putus, tidak ada satupun chat dari Rael.
"Should i cheerrs for you guys?" celetuk Andin. "Sorry-sorry to say, kayaknya cuma gue yang gak gampang kejebak masa lalu."
"Itukan elonya yang *******," ketus Liona.
Benar. Andin itu sudah pernah berpacaran. Namun pacar terakhir ia putuskan setahun yang lalu. Alasannya adalah karena dia tidak benar-benar serius dalam menjalin hubungan. Itulah kenapa dia menjadi begitu santai.
"Btw, kalau lawan Malika mungkin yang bakal menang lo, dia letoy-letoy gimana gitu. Tapi kalau lawan Sheva, lo gak bakal menang, gue jamin. Badannya aja gede," ujar Andin.
"Gak bakal ada apa-apa. Gak ada lawan-lawanan," jawabku rada kesal.
"Lo gak mungkin nyerah gitu aja kan?" tanya Liona.
Sumpah Liona.
Aku memberinya pelototan. Sebelum berkata, aku mendengar suara-suara dari luar. Tiba-tiba Liona sudah mendorongku masuk ke salah satu bilik diikuti oleh Andin.
Jadi, kami berdesakkan dalam satu bilik kecil itu.
Aku memasang poker face.
Sumpah. Kelakuan kedua teman baikku ini membuatku memiliki keinginan untuk membunuh keduanya.
"Sheva," bisik Liona tanpa suara.
__ADS_1
Aku memutar bola mataku dan menghela napas. Daripada ikut menguping, aku lebih memilih untuk duduk di atas closet menonton Andin dan Liona yang sibuk menempelkan telinganya pada pintu.
Tapi suara di luar terlalu keras hingga mau tak mau aku mendengarnya.
"Gue gak tau, tapi dari yang gue denger, itu usulan Echa," kata sebuah suara. "Lo bisa complain kalau lo gak setuju. Kekalahan kemarin bukan sepenuhnya salah lo."
Kemudian aku mendengar suara keran dinyalakan kemudian dimatikan sesaat setelahnya.
"Gak. Ini sepenuhnya salah gue," kata suara yang aku kenal sebagai suara Sheva.
"Tapi ini pertandingan terakhir kita. Lo gak harus dikeluarin secara gak terhormat gini dari tim. Lo juga harus ikut kesatuan voli angkatan tahun ini. Ini cuma masalah kecil."
"Gue bilang gak usah," sahut Sheva kesal.
"Liatkan? Siapa yang ancur sekarang? Lo."
Aku berdiri dan menyentuh pundak kedua temanku. "Kita bakal telat masuk jam Pak Todi," bisikku karena merasa tindakan ini tidak benar.
"Sstt."
Aku menghela napas.
"Lo yang berusaha ngancurin orang, yang ancur itu lo sendiri. Gue udah bilang, lo gak perlu ngemis perhatian kayak gitu. Kalau dia emang suka lo kayak yang lo bilang, dia bakal nembak, cepat atau lambat."
Aku mematung.
"Kecuali, dia gak pernah suka sama lo."
Aku mengedip. Mereka membawa masalah kemarin. Lagi-lagi aku merasa tindakan menguping ini sudah keterlaluan, tapi ada suatu dorongan untuk mendengar lebih jauh. Mengingat mereka membawa masalahku.
"Hasilnya gimana? Walau pun mereka udah putus, tapi apa? Dia gak nembak 'kan? Raelnya gak dapet. Temen lo juga ilang."
Aku mengepalkan kedua tanganku. Bibirku aku katupkan rapat-rapat. Aku mendengar ada yang memasuki toilet hingga mereka tidak melanjutkan percakapan mereka.
"Mereka udah pergi," kata Andin selang beberapa detik.
Liona bersandar di pintu dan menatapku. "Dari awal gue emang gak suka dia. Nah, sadarkan kalian?"
Aku diam saja. Masih kepikiran soal percakapan Sheva tadi.
"Lo emang gak mungkin lawan Sheva. Tapi gue bisa kok," sambung Liona. "Gue juga pernah punya uneg-uneg sama dia."
Aku menghela napas.
◻◻◻
Dua jam berolah raga di luar, wajahku mulai terasa panas. Ada rasa sakit di tenggorokanku dan kakiku sudah lemas. Aku segera ke toilet dan mencuci muka. Ada bintik-bintik merah di pipiku dan rasanya terbakar.
Sial. Aku tidak bawa sunblocknya.
Aku memasuki salah satu bilik dan segera berganti baju di sana. Aku memang izin lebih awal karena kondisiku. Selalu begitu, dan guru olah ragaku untungnya mengerti keadaanku.
Aku segera kembali ke kelas. Rasanya aku hanya ingin memejamkan mata dan tidur sejenak.
Mungkin karena tidak fokus atau entah karena apa, ada sesuatu yang menahan kakiku melangkah hingga aku nyaris tersungkur ke depan.
__ADS_1
Nyaris.
Nyaris karena lengan kiriku ditarik dari belakang hingga aku tidak jadi jatuh.
Cengkraman itu menyisakan rasa hangat saat tanganku dilepaskan. Aku mengedip dan tergugu tidak tahu harus bicara apa.
Aku menatap ke bawah dan menemukan tali sepatuku yang terurai. Aku menghela napas dan berjongkok untuk mengikatnya kuat. Dari posisi itu, aku melirik ke atas namun dia tidak kunjung beranjak.
Apa aku langsung pergi saja?
Atau aku harus berterimakasih sembari tersenyum?
Aku bangkit dan menegakkan tubuhku. Sebelum mengucapkan terimakasih, Rael menyodorkan satu botol mineral padaku. "Ayo perjelas semuanya."
Mungkin memang seharusnya begitu. Seharusnya tidak ada lagi kesalahpahaman dan kami saling menerima keadaan.
Jika kami sudah saling mengerti, kami tidak harus merasa canggung lagi. Sebagai 'teman'.
Aku menerima botol mineral yang Rael sodorkan.
Kami duduk di kursi koridor kelasku. Tidak mungkin di dalam, walaupun kelasku kosong, tetap saja tidak aman.
Rael menyandarkan tubuhnya. Diam beberapa saat dan menghela napas. "Gue gak tau harus mulai darimana," katanya.
Sama. Aku pun tidak tahu harus mengatakan apa.
"Gue udah satu sekolah sama Sheva dari SMP tapi kita gak pernah deket. Gue cuma tau dia atlit voli di sekolah," ujar Rael. Aku mendengarkan dengan baik.
"Kelas sepuluh, kita sekelas. Anak-anak buat acara semalam sebelum perpisahan. Lancar. Besoknya anak cowok kumpul di lapangan basket indoor dan kita adain game kecil-kecilan."
"TOD. Klasik emang. Tapi gue jadi sasaran empuk. Gak ada yang pilih truth, katanya cowok harus berani."
"Dare untuk gue, bilang suka ke sepuluh cewek yang gue liat pertama kali."
Aku tertawa dalam hati dengan sudut bibir berkedut.
"Lo inget waktu gue nyeret lo dari kelas pas pelajaran Bu Azma?" tanya Rael.
Sangat. Sangat berbekas.
"Karena waktu gue bilang suka, lo bukan salah satu dari sepuluh orang itu. Bukannya apa, gue gak bisa curang. Anak-anak giring gue sampai misi selesai. Gue merasa bersalah aja sama lo."
Aku meliriknya. "Salah satunya Sheva?" tanyaku.
"Malika juga."
Aku membulatkan mataku. "Lo pacaran sama Malika bukan karena itukan?"
"Karena itu."
What?!
"Sebulannya kita putus. Malika nyamperin gue dan bilang kalau dia juga suka gue. Gue bingung. Gue juga kesel sama lo. Jadi, yah kita pacaran."
Aku memejamkan mataku. "Tunggu. Lo kesel sama gue? Lo putusin gue karena kesel?"
__ADS_1
Rael balik menatapku.
◻◻◻