Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Masalah Muncul


__ADS_3

Esok harinya bahkan tak lebih baik.


Baru saja menginjakkan kaki di lantai sekolah, aku sudah mendengar keributan yang membawa-bawa nama temanku. Andin dan Liona.


Desas-desusnya, Liona pergi melabrak geng Angel dengan begitu emosi. Selebihnya aku tidak tahu. Beberapa orang protes saat aku menerobos namun aku acuhkan. Kata-kata pedas Liona semakin jelas terdengar membuatku bergegas.


"Jadi gini kelakuan asli geng lo? Kulitnya mulus, isinya busuk!"


"Bentar deh. Gue gak ngerti lo ngomong apa."


Liona menggertakkan rahang. "Gue kasih tau lo satu hal, gue paling benci sama orang bermuka dua. Munafik. Bilangnya gak, aslinya iya. Dan kalau gue udah benci, gue bakal benci dia selamanya."


Malika menggelengkan kepalanya. "Sumpah Liona, gue gak tau apa-apa. Masalahnya aja gue gak tau."


"Lo gak tau?!" sarkas Liona. Sahabatku itu berbalik dan menunjuk Andin. "Geng lo keroyok temen gue kemarin pulang sekolah. Lo liat gimana dia sekarang."


Aku kaget. Andin dikeroyok. Andin sendiri terlihat diam membelakangiku. Dengan rasa cemas aku menghampirinya.


Wajahnya nampak pucat namun tatapannya datar sekali. Ada beberapa bekas cakaran di sekitar pipi dan lehernya. Tidak terlalu jelas, namun jika diperhatikan jejak itu ada. Yang terlihat menonjol itu, ada bekas kemerahan di tulang pipi kanannya.


"Andin," panggilku lirih. Antara iba dan marah. Dia menatapku namun tidak mengatakan apa-apa. Aku mengusap bahunya pelan. Liona masih beradu mulut dengan Malika. Wajar saja Liona marah, aku pun demikian. Andin dan Liona memang suka cari gara-gara, tapi kalau tentang Malika, mereka tidak pernah tertarik. Kecuali soal kemarin.


"Kenapa gak lo koreksi diri lo sendiri? Mungkin aja dia dikeroyok sama orang yang gak suka sama dia." itu bukan Malika, tapi salah satu antek-anteknya yang membela diri.


"Iya bener," jawab Liona. "Dan orang yang gak suka dia itu lo-lo pada 'kan? Kenapa? Lo marah soal game kemarin? Ngerasa lo? Kemarin aja lo sok-sokan ketawa-ketawa aja, dibelakang lo kesetanan."


"Eh, bisa gak sih gak nuduh sembarangan?" seru salah satunya nyolot.


"Lo diem lo. Siapa aja yang kemaren ikut turun tangan?" Liona balik nyolot pada gadis itu.


"Kenapa lo mau bales?"


"Oo mau benget. Sini gue gampar lo bolak-balik."


Aku menarik tangan Liona yang hendak maju dan menahan bahunya. Aku pijit bahunya pelan untuk menenangkannya. "Udah," bisikku.


Aku menatap ke arah geng di depanku itu. Aku tatapi satu-persatu. Rata-rata mereka memberikan tatapan sombong dan meremehkan yang ikut membakar emosiku. Aku menarik napas dalam-dalam dan memasang wajah


sesantai mungkin.


"Gak usah dibales," kataku. "Kalau lo bales, itu gak akan berarti apa-apa buat mereka. Lo tau 'kan? Seharusnya, kita balas dengan sesuatu yang akan ngebuat mereka nyesel seumur hidup dan gak akan pernah lupa tentang itu."


Raut mereka berubah perlahan mendengar kalimatku.


Aku menoleh pada Liona dan menepuk bahunya. "Kita lapor polisi."

__ADS_1


Biarlah. Biar mereka katakan apapun tentangku. Aku juga harus melindungi teman-temanku. Selain karena Andin dan Liona adalah sahabatku, ketidak adilan itu membuatku geram. Mendengar penyeroyokan saja membuat yakin mereka bukanlah apa-apa tanpa mengandalkan kelompok.


"Kenapa bawa-bawa polisi?" sahut Malika. "Ini cuma masalah kecil."


"Keroyokan itu masalah kecil lo bilang? Nyeroyok aja bisa bikin orang mati," sergah Liona.


"Tapikan dia gak mati."


Aku menggertakkan rahangku.


"Bajing lo," maki Liona dengan suara pelan dan penuh kebencian. "Kalau lo bilang kayak gitu, gue juga bisa nyeroyok lo sama geng gue."


Malika terdiam. Alih-alih menjawab Liona, gadis itu justru menatapku. "Gak perlu lapor polisi juga. Kita gak salah," katanya.


Aku menatapnya datar. "Maaf ya, gue lapor polisi bukan mau nuntut kalian. Tapi biar kasusnya diselidiki dan ketahuan pelakunya. Kenapa lo takut banget?" tanyaku agak sarkas, masih mempertahankan sedikit kehalusan dalam bahasaku.


"Gak takut. Gue cuma ngerasa ini bukan hal besar yang perlu bawa-bawa polisi. Masih bisa diseleseiin secara damai."


Aku menahan diri untuk tidak tertawa. "Gimana mau nyeleseiin secara damai? Kita aja gak tau siapa pelakunya."


"Kalian kekanakan. Harusnya kalian lebih dewasa dan nyeleseiin semuanya dengan kepala dingin," ujar Malika menggelengkan kepalanya.


Liona terlihat kesal sekali. "Cari gara-gara lo sama gue? Jijik gue denger lo ngomong."


"Terserah lo mau maki gue kayak gimana. Mungkin aja ini masalah pribadi. Andin bisa nyeleseiinnya sendiri. Dan itu gak ada hubungannya sama kita."


"Iya gue denger kok. Kalian bukan pelakunya. Gak usah ngeyel," kataku. "Sekarang yang gue butuh itu pelakunya buat minta maaf dan belajar buat hargain orang lain."


"Tapi lo bawa-bawa nama temen gue."


"Gak. Gue gak bawa nama temen lo. Maaf kalo lo mikir gitu," aku menarik tangan Liona. "Tapi kalau sampai ketahuan itu kalian, gue harap kalian segera minta maaf sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


Malika terlihat kesal. Tapi aku tidak peduli. Aku ajak kedua temanku untuk segera pergi dari sana. Andin sempat memandang geng Malika dengan tatapan dinginnya sebelum menurut saat aku menarik tangannya lembut.


◻◻◻


"Lo kenapa diam aja?" tanya Liona setengah kesal pada Andin.


Aku menatap Andin. Menunggu jawaban yang akan ia berikan karena jujur saja, aku juga penasaran kenapa dia tidak melakukan apa-apa tadi. Seperti bukan dirinya yang sebelas dua belas dengan Liona.


"Alu bener," jawab Andin setelah terdiam beberapa detik. "Gak perlu dibales. Kalau gue bales, dia bisa nuntut gue balik."


Aku tergagap. "Bentar. Bentar," interupsiku. "Gue tadi itu cuma lagi kesel karena mereka anggap enteng masalah lo. Gue gak serius," ujarku meringis di akhir.


Andin menatapku dengan alis berkerut. Dia mengalihkan lagi tatapannya ke depan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku saling bertatapan dengan Liona karena Andin menjadi sangat aneh.

__ADS_1


Aku menghela napas dan memijit bahu Andin pelan.


"Kalau mereka kesel soal kemarin, kenapa cuma lo yang kena?" tanya Liona.


"Karena cuma gue yang gak ada yang jagain," jawab Andin membuatku mengernyit.


"Lo berdua punya orang yang jagain lo walau kadang lo gak tau. Gak dengan gue."


"Andin lo ngomong apa sih?" tanyaku gusar.


Andin menatapku dan Liona. "Lo punya Rael, mereka gak akan berani. Liona punya Ian yang gak akan berani mereka usik. Cuma gue satu-satunya yang gak akan ngasih kerugian semisal mereka jahatin. Itulah kenapa cuma


gue yang kena."


Aku kehabisan kata-kata. Liona menatapku dengan kondisi yang sama. Andin sendiri kembali diam. "Lo gak boleh ngomong gitu," kataku gusar. "Ada kita yang bakal jagain lo."


Andin mengacuhkanku. Dia berdehem sambil memegangi lehernya. "Udah ah. Gue capek. Kalian balik aja ke kelas. Gue mau tidur dulu."


Andin membaringkan tubuhnya di ranjang itu. Aku menatap Liona namun dia hanya diam.


"Lo balik aja," kata Liona.


"Lo?"


"Gue di sini dulu," jawabnya pelan.


"Gue juga," kataku protes.


Liona mendelik. "Jangan biasain diri lo bolos kayak gue. Cukup sama Rael aja lo sering bolos."


Aku mencubit pinggangnya pelan. Liona menampar tanganku kesal. Aku menghela napas. "Ok. Gue ke kelas dulu. Ntar gue izinin."


Liona mengangguk dan aku bergegas keluar UKS.


Ah, teman-temanku yang berharga. Walaupun kadang suka bikin kesal, tapi aku menyayangi keduanya. Mereka jujur, dan yang penting, no fake and they don't cheat.


Aku memelankan langkahku saat melewati kelas XII IPA 4. Itu kelas Rael. Tapi masalahnya bukan itu.


Yang aku lihat saat ini, Malika sedang duduk di kursi koridor di depan kelas dan Rael yang berdiri di depannya sambil menyodorkan air minum botol.


Aku mengangkat sudut bibir kananku dan memperhatikan keduanya.


Apa Malika mengadu soal tadi pagi?


Aku menghela napas. Khawatir karena terbiasa berpikiran negatif belakangan ini. Bukannya apa, kalau aku terus-terusan seperti ini, ujung-ujungnya yang akan sakit hati itu adalah diriku sendiri.

__ADS_1


Sudahlah. Aku juga lelah. Daripada membebani diri sendiri, aku lebih memilih untuk berbalik mengambil jalan memutari lapangan untuk sampai ke kelasku tanpa harus bertemu mereka.


◻◻◻


__ADS_2