Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Mencari Sekutu


__ADS_3

Aku ingat bagaimana ekspresi adik-adik itu saat aku berkata demikian. Ada rasa geli dan sedikit heran, kenapa mereka membela Malika sampai segitunya.


Sampai pagi ini, semuanya masih aman-aman saja.


Sampai aku merasakan ada jawilan-jawilan pelan di rambutku. Aku membalikkan tubuhku karena merasa terganggu.


Itu Rael. Seharian kemarin aku tidak bertemu dengannya, kecuali saat aku melihatnya bersama Malika.


Dia tersenyum. Ah, kenapa aku tiba-tiba merindukan dia tersenyum seperti itu?


"Kangen nih," katanya masih menjawil-jawil rambutku.


Aku menyingkirkan tangannya dan berbalik lagi untuk pergi ke kelas. Rael mengikutiku dari belakang.


"Gue mau ngajak lo ke suatu tempat. Mau gak? Pulsek," katanya dari belakang.


"Kemana?" tanyaku tanpa menoleh dan berjalan malas-malasan.


"Pameran barang antik."


Aku berhenti dan berbalik padanya. "Lo gak suka barang antik," kataku untuk sekedar mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia tidak pernah tertarik dengan barang antik.


Rael tersenyum geli. "Gak juga. Gue cuma mau liat bagian motornya."


Damn. Seharusnya aku tahu itu.


Aku berbalik lagi meninggalkannya.


"Nanti gue samperin ke kelas lo. Jangan kemana-mana dulu."


Aku berhenti lagi. "Gue gak bilang iya," kataku.


"Tapi lo gak bilang gak," sahutnya di depan wajahku.


Sial. Jantungku tiba-tiba berdebar begitu saja. Selalu seperti ini, kebiasaan jantungku jika Rael memandang dengan cara berbeda. Lihat saja bola matanya yang tiba-tiba menjadi kelabu, tiba-tiba menjadi tak terbaca. Dan kenapa pula jari-jariku terasa mendingin seperti ini?


"Kalau lo gak mau, lihat gue dan coba bilang gak."


That jerk. Dia tau kelemahanku.


◻◻◻


"Kalian mau kemana?" tanyaku saat Andin dan Liona bergegas keluar kelas tanpaku.


"First plan," jawab Liona.


Aku terbengong. "Jadi kalian benar-benar mau bales?" tanyaku setengah tak percaya.


"Ya iyalah sayang. Duh, sayang banget gue sama lo," jawab Liona setengah gemas.


Aku mengabaikannya dan memasang wajah kesal. "Kalian udah gak mau dengerin gue lagi?"

__ADS_1


"Please deh Alu," kata Andin.


"Lapor ke sekolah aja. Skors udah cukup. Kalau kalian bales nanti resikonya lebih besar."


Andin melipat tangannya di depan dada. "Gak. Gue mau mereka ngerasain hal yang sama, sama apa yang gue rasain. Dicakar, dijambak, dan ditampar itu, beda rasanya rasa diskors. Skors terlalu lembek buat mereka."


Aku menghela napas. "Gue ikut."


"Gak usah. Lo gak perlu masuk masalah gue," kata Andin.


"Bagus. Sekarang kalian udah gak nganggep gue temen lagi," kataku sarkas melipat tanganku di depan dada.


"Gak gitu—"


Andin nampak kehabisan kata-kata. Gadis itu akhirnya menghela napas. "Kita mau ke IPS."


"Ngapain?"


"Cari sekutu."


...Ok. Itu agak—


◻◻◻


Katanya, geng satu ini agak bar-bar dan kasar. Berisi gadis-gadis


urakan dan mencintai kebebasan. Agak sedikit tidak nyaman saat aku,


Andin dan Liona menuju ke sana.


"Sist..." sapa Liona.


"Sist," gadis itu balik menyapa. Kursi di depannya di kosongkan untuk duduk kami bertiga.


"Aduh-aduh. Ada angin apaan nih sampai sohib lama gue mampir?" tanyanya.


"Ada yang mau gue omongin."


Gadis itu mengangguk-angguk dan menatapku. "Oh princess, apa kabar?"


Aku menatap kesal. "Mai, ini udah hampir tiga tahun. Stop manggil gue gitu."


Maira, atau biasa dipanggil Mai. Dari luar dia terlihat galak dan menyeramkan. Tapi saat aku mengenalnya, dia adalah orang yang sangat suka bercanda.


Suasana perlahan mulai terasa nyaman. Kami mulai berbicara santai di pojok belakang kantin yang menjadi sarang Maira dan kawan-kawannya. Walaupun tempatnya sempit dan agak berdesakan, tapi tak ada yang nampak keberatan. Mereka justru terlihat menikmatinya.


"Hm menurut gue ya, lo balesnya gak usah dengan cara yang sama," kata Maira setelah Andin menceritakan tujuannya.


"Geng gue emang suka cari masalah, tapi gue gak pernah main fisik. Gue lebih suka ngerusak mental seseorang."


Andin berdecak, nampak tidak setuju.

__ADS_1


"Gini ya sayang, kalau lo bales keroyok, masalahnya selesai gitu aja. Nah, misal nih, nanti pulsek lo keroyok mereka, abis itu apa? Selesai 'kan? Stuck sampai di situ. Tapi kalau pakai cara gue, lo bisa bikin pembalasan selama yang lo mau."


Andin berpikir sebentar sambil melirik geng Malika di pojok lain. "Ok. Gue setuju," katanya. "Jadi, lo mau gabung?"


Maira tersenyum nakal, terutama padaku. "Demi princess."


◻◻◻


Hanya ada tiga kelas IPS di tiap tingkatannya. Namun harus aku akui mereka kuat dan kekompakan yang patut diacungi jempol. Walaupun orangnyaagak bar-bar sih.


Mereka memenuhi jalan sampai ke ujung lorong kelas XII IPS 3. Istirahat seperti ini, mereka lebih suka duduk beramai-ramai di sekitar koridor dan menghalangi jalan. Tempat ini, sepenuhnya kekuasaan anak IPS.


Seka dan kawan-kawannya adalah target selanjutnya yang akan dijadikan sekutu. Gengnya sedikit mirip dengan geng Maira, namun bedanya, geng Maira bergaya sangat bar-bar sedangkan geng Seka terlihat lebih natural.


Selebihnya, keduanya sama. Sama-sama devil.


"Tumben-tumbenan anak IPA ke sini."


Ada tempat duduk berkeramik di ujung lorong lantai dua ini yang langsung dibatasi oleh dinding pembatas setinggi pinggang. Di situlah Seka berkumpul dengan teman-temannya.


Selagi Andin dan Liona bicara, aku diam saja sambil sesekali menghela napas. Aku tidak mau ikut campur, namun aku tidak bisa membiarkan mereka tanpaku.


"Gue sih, mau-mau aja," kata Seka. "Tapi lo yakin? Yang bakal jadi korban kita itu Malika." Seka menatapku. "Bukannya gue takut, yang gue pikirin itu lo."


Aku bingung. "Kenapa sama gue?"


"Kalau semisalnya jadi, nanti tiba-tiba Rael nolongin dia gimana? Lo yakin gak papa? Lo tau kan kedekatan mereka gimana?"


Aku terdiam. Aku tau Seka hanya mencoba memanasiku. Dia hanya mencoba bermain-main dan menjadikanku hiburan semata.


"Lo minta gue tabok?" sahut Liona kesal. "Nanti mereka mau jalan, kalau batal gimana?"


Aku melotot ke arah Liona. Dasar ember.


Seka terkejut. "Oh? Wah ada yang seru nih."


Aku menghela napas. "Out of the topic."


Seka tertawa. "Ok. Gue ikut. Gue juga gak suka anak Marching Band yang suka caper."


...huft~


◻◻◻


Sebelum bel pulang berbunyi, Rael sudah muncul mendadak di depan pintu. Lengkap dengan ransel dan jaket denimnya. Cowok itu bersandar di dinding dekat pintu sampai bel berbunyi dan menunggu guru keluar dari kelas.


Apa dia tidak memikirkan aku? Yang merasa tidak enak itu aku. Lihat saja tatapan-tatapan penasaran dan jahil itu. Aku tidak tahan.


Aku memakai ranselku dan menghampirinya. "Mood lo jelek lagi," katanya.


Aku mengernyit. Familiar dengan kata-kata itu. Detik berikutnya, aku mendelik padanya saat ingat dengan gayanya itu. Lihat saja binar jenaka di matanya. Hampir saja aku melayangkan kakiku ke tulang keringnya.

__ADS_1


"Ayok."


◻◻◻


__ADS_2