Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Pertandingan


__ADS_3

Aku membawa langkahku berlari kecil untuk menyeimbangkan jalan Rael yang tergesa-gesa. Cowok itu dengan ahli menyelip di antara lalu lalang orang, namun korbannya adalah aku.


Kami memasuki area tanding futsal. Turun ke kursi penonton tanpa mengurangi kecepatan, membawaku lagi-lagi menuruni tangga dengan terburu-buru.


Ada beberapa kursi kosong di sana, di barisan pertama. Rael mendudukkanku dan merogoh tasnya. Satu stel seragam futsalnya yang berwarna putih ia keluarkan.


"Tunggu di sini bentar. Gue ganti dulu."


Dan cowok itu buru-buru pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dariku. Aku menghela napas. Dia terlihat tak sabaran dan sedikit panik.


Lihat, bagaimana orang ini sok-sokan mau mengorbankan pertandingannya demi aku. Nyatanya saat aku mengatakan akan ikut, dia gembira bukan main dan langsung menarikku.


Gembira boleh saja, tapi tidak harus seperti ini juga. Aku mengusap kakiku sambil melirik ke kiri dan kanan. Aku mengerut di tempat dudukku. Merasa tak nyaman dengan penampilanku sendiri.


Dalam hati aku merutuki Rael. Bagaimana bisa cowok itu tidak memberikanku waktu untuk sekadar berbenah diri untuk pergi ke acara publik seperti ini.


Sebenarnya tidak ada yang salah. Kaos putih oversize yang aku pakai terlihat normal. Namun celana di atas lutut dan sandal jepit rumahan?


Aku mengusap wajah dengan sebelah tangan sambil meringis.


Aku malah terlihat mirip gembel di sini.


Selang beberapa detik, Rael sudah kembali dengan setelan seragamnya. Dia duduk di kursi sebelahku sambil memasukkan kaos hitam dan celana training yang ia pakai sebelumnya. Lalu sepasang sepatu kets.


Aku hanya menatapnya. Cowok sebelahku ini meneguk mineralnya lalu balik menatapku. Tegukan terakhir ia simpan di mulutnya beberapa detik terlihat dari gembungan di pipinya sebelum ia menelannya. Aku mengangkat alisku atas gaya khas badboy dan tatapan yang menganggu itu.


"Gak usah banyak gaya. Lo mirip om-om pedofil."


Rael tersenyum geli mendengar ucapanku. "Gak banyak gaya. Gue cuma kelewat semangat," jawabnya menatap ke lapangan tempat ia beberapa menit lagi akan bertanding. "Pertandingan terakhir gue," gumamnya.


Aku terdiam.


"Kesempatan terakhir buat nyumbang piala ke sekolah." Rael menoleh ke arahku. "Saat-saat terakhir harus memberikan kenangan indah 'kan?" sudut bibir tertarik membentuk senyuman kecil.


Aku menatapnya sambil bersandar di sandaran kursi. "Kalau kalah?"


Rael mendengus. "Itu ngedoain namanya."


Aku menggedikkan bahuku. "Antisipasi 'kan gak salah," kataku.


Rael menatap lapangan lagi. "Jadi kita baikan?"


Aku mengedip. Berdehem dan merubah rautku dalam sekejap. Aku ikut-ikutan menatap lapangan namun tanpa menjawab pertanyaannya.


Dari sudut mataku, aku melihat Rael menoleh padaku. Aku pura-pura sibuk melihat ke arah lain. "Kenapa lo mikirin itu sih? Fokus aja sama pertandingan lo," kataku.

__ADS_1


"Jadi masih bisa dibicarakan?"


Aku menoleh padanya dengan dahi mengernyit, terlebih dengan nada bicaranya yang agak aneh. Namun Rael malah tersenyum kecil.


"Kalau gue menang, kita baikan. Deal?"


Dahiku berkerut makin dalam karena perkataannya itu.


Tawaran macam apa itu?


Aku melipat lenganku di dada. "Gak semudah itu."


Dalam sekejap rautnya berubah. Cowok itu memasang wajah datar dan kembali menghadap ke depan. Dia memberikan jempolnya saat salah seorang temannya di pinggir lapangan mengodenya untuk segera masuk karena pertandingan akan dimulai tak lama lagi.


Aku menggigit bibir dalamku. Si ******** Rael yang dengan gampangnya membolak-balikan perasaanku. Hanya melihat reaksinya saja aku sudah merasa bersalah seperti ini.


Ada apa dengan wajahmu?


Mulutku terasa gatal dan aku tak bisa menahannya untuk buka suara. "Lihat aja nanti," kataku atas tawarannya sebelumnya.


Dia menatapku selama beberapa detik. Aku mengedip karena dia tidak memberikan reaksi apa-apa. Tiba-tiba dia berdehem dan berdiri hingga aku tidak dapat melihat wajahnya saat itu. Dia berbalik dan merogoh tasnya.


Satu jaket denim ia lemparkan ke pangkuanku dan sebotol air mineral yang masih bersegel di tangannya. Rael membukakan segelnya dan menutupnya kembali sebelum menyerahkannya padaku.


"Mungkin bakal lama. Kalau lo mau nunggu sampai selesai," katanya.


Benar saja, cowok di depanku ini tersenyum kecil hingga hatiku menghangat lagi. Moodnya harus baik untuk pertandingannya kali ini.


Lihatlah seberapa cepat dia berubah. Dasar.


Aku memperbaiki letak jaket itu untuk menutupi paha sampai kaki dan memegang botol air pemberian Rael itu di pangkuanku. Aku menatap ke lapangan saat kedua tim sudah masuk lapangan. Rael sempat menggosok-gosokkan kedua tangannya. Entah berdoa entah apa, tapi dalam hati aku juga berdoa untuk kemenangan timnya.


Pertandingan dimulai dan aku duduk tenang di kursiku. Kemudian dua orang tiba-tiba duduk di samping kiri dan kananku. Aku menatap keduanya bergantian.


"Kok kalian tau gue di sini?" tanyaku.


Andin melahap snacknya sambil memandang ke lapangan. "Gampang. Kapten futsal SMA Cakra Perwira nganter seorang cewek ke bangku penonton. Kasih jaket dan air."


"Duh, romantisnya," timpal Liona.


"Siapa yang gak bakal lihat?" Andin melanjutkan. "Lo kan tau Rael bukan cuma famous di sekolahnya sendiri."


Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi. Kedua temanku itu sibuk menonton pertandingan dengan snack di tangan masing-masing.


"Jadi ceritanya kalian udah baikan?" celetuk Andin.

__ADS_1


Aku menggeleng pelan. "Gak."


"Ah masa'?" Liona menimpali.


Aku menghela napas. "Serius bakal gue tabok kalau lo bedua masih ngolok-ngolok gue."


Keduanya tertawa. "Btw, kok lo jadi gembel gini sih?" tanya Liona


"Rael nyeret gue dari rumah."


Keduanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak prihatin. Aku mengernyit, tumben sekali mereka akur dan kompak seperti ini. Biasanya selalu cekcok.


"Perasaan gue aja atau emang beneran spot kita jadi pusat perhatian?" Andin nyeletuk beberapa saat kemudian. Aku dan Liona sontak menoleh padanya namun Andin sendiri menyibukkan diri dengan snacknya.


Aku perlahan melirik ke sekitar. Menemukan banyak pasang mata menatap ke arah spot tempatku dan kedua temanku. Tentu saja membuatku bingung. Aku rasa tidak ada yang salah dengan kami, baik aku dan kedua temanku ini. Atau mungkin mereka memperhatikan salah satu dari sahabatku? Karena jika itu aku, aku bukanlah seorang yang dikenal sampai ke sekolah lain.


Pastilah yang mereka perhatikan adalah seseorang yang memiliki reputasi tinggi, terkenal...dan...


Aku menoleh ke belakang saat mendengar obrolan singkat dengan suara tak asing.


Hanya dua detik. Secepat mungkin aku menoleh lagi ke depan setelah menangkap objek yang familiar.


Pantas saja orang-orang melihat spot kami. Karena di spot kami itu juga termasuk diva-diva sekolah.


Malika dan kawan-kawannya. Termasuk Sheva yang bersiap dengan seragam tim volinya dan beberapa model majalah sekolah SMA Cakra Perwira yang datang menonton.


Aku mendengus. "Jangan ge-er, kita bukan bintang," kataku pada kedua temanku yang juga sempat menoleh ke belakang. Namun pandanganku mengarah pada Rael yang sudah keringatan di lapangan.


"Lo mau bilang kalau mereka bintang? Bintang apaan?" sarkas Liona. Kami bertiga kembali menghadap depan.


Aku meneguk air dari botol yang kupegang dengan satu tegukan besar. Menahannya beberapa saat di mulut sebelum menelannya.


"Tapi yang mereka liatin itu bukan geng Angel," ujar Andin.


Aku dan Liona sontak menoleh padanya. Andin masih mengedarkan pandangannya sebelum menoleh ke arahku.


"Lo gak bilang mereka liatin kita 'kan?" tanyaku.


"Bukan kita. Tapi lo."


Aku mengedip lalu memelan suaraku. "Kenapa dengan gue? Gue mirip gembel?" aku berbisik.


Liona menyenggol bahuku. "Alasannya ada di depan lo."


Aku menatap ke depan. Saat aku menangkap sosok Rael aku menegakkan tubuhku. Cowok itu berjalan di pinggir lapangan dan aku baru menyadari bahwa mereka sedang dalam waktu jeda.

__ADS_1


Dia berjalan mendekat ke tempat dudukku. Aku mendadak gugup. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, namun saat melihat dia berkeringat dan napas yang tersengal, secara naluri aku memajukan tubuhku menyodorkan botol minum yang kupegang saat laki-laki yang berstatus pacarku itu menegadahkan tangannya padaku.


◻◻◻


__ADS_2