Tak Sesuai Ekspetasi

Tak Sesuai Ekspetasi
Suasana Rumah


__ADS_3

"Bolos empat jam pelajaran. Tumben-tumbenan."


Aku berdehem tanpa menjawab apa-apa.


Aku mendengar Andin mendengus di sana. "Catatan gue tinggalin di laci. Gue balik dulu."


"Makasih Andin," kataku tulus dan Andin menutup sambungan teleponnya.


Aku menatap ke bawah, tepatnya ke pangkuanku. Surai hitam itu aku sisir perlahan, sambil aku goyang bahunya. "Udah pulang. Bangun." aku membangunkan Rael.


Selama empat jam pelajaran atau lebih kurang tiga jam dia tertidur dan yang kulakukan hanya menatapnya, jika lelah aku akan menatap langit, dan menatapnya lagi saat aku lelah menatap langit.


Rael bangun. Wajahnya pias dengan rambut berantakan ditiup angin. Jika itu aku, sudah dipastikan akan terlihat sangat jelek. Lain dengan orang satu ini, bangun tidur atau tidak pun ketampanannya tetap sama.


Aku mengulurkan tanganku dan merapikan rambut depannya pelan. Aku lihat dia memejamkan matanya dan aku menarik tanganku.


"Orang udah pada pulang," kataku. "Ayok turun."


Tapi dia hanya berdiam diri sambil menatapku.


Rael mengerjap. "Ya udah turun," katanya.


Aku menghela napas. "Tolongin. Lo duluan," jawabku gemas.


Rael memutar bola matanya. "Siap princess."


Rael bangkit dan menyebarang di depanku untuk turun. Aku jadi gemas sendiri kalau-kalau kakinya tergelincir dan jatuh ke bawah. Tak dapat kubayangkan selanjutnya. Maka dari itu aku pegangi erat-erat seragamnya sampai kedua kakinya mendarat di lantai. Setelah itu dia membantuku turun. Dan segera keluar dari rooftop.


Sebenarnya aku ingin bertanya darimana dia mendapatkan kunci rooftop. Namun pertanyaanku terjawab dengan sendirinya saat sampai di parkiran, seorang cowok sudah menunggu di atas motornya sambil main ponsel.


"Tiga jam lebih di rooftop ngapain aja?" tanyanya sarkas. "Untung gue sabar, kalau gak udah gue gedor-gedor tuh pintu."


Rael justru menanggapinya dengan santai. "Semoga Allah membalas semua kesabaran lo," katanya.


Aku tersenyum geli melihat cowok yang memegang jabatan sebagai ketua osis di sekolah ini tidak lagi dapat mendebat karena sudah membawa-bawa nama Tuhan.


Rael menarik tanganku menuju tempat motornya terparkir.

__ADS_1


Saat motor menyala, aku menarik telinga kirinya. "Berapa kali gue bilang bawa helm? Kalau ditilang gimana? Kalau jatuh gimana? Lo pengen bunuh gue?"


Rael mangaduh. "Helm gue basah, kemarin 'kan hujan."


Aku melepaskan telinga. "Helm lo kering pun gak bakal lo bawa 'kan? Alesan."


Rael menggerutu sambil mengelus telinga. "Iya. Besok gue bawa."


Aku menghela napas. Rael ini bukan tipe siswa baik-baik, tapi bukan pula tipe berandalan. Tetap saja, berhadapan dengannya, aku harus lebih dewasa. Aku yakin ia tidak akan membawanya besok dengan alasan lain lagi. Cowok ini sangat tidak suka memakai helm. Katanya bikin gerah. Tapikan itu untuk keamanan.


Dasar—


◻◻◻


"Kak Alma belum pulang Ma?"


Mama menggeleng saat aku bertanya. Raut Mama terlihat kesal sekali tapi aku tahu ia sedang cemas. Walaupun ini bukan pertama kalinya Kak Alma belum pulang selarut ini, Mama tetap saja khawatir sebagai seorang ibu.


"Mama udah pusing ngurusin kakak kamu. Bandel banget," keluh Mama.


Dan ini bukan yang pertama.


"Bentar lagi juga pulang," kataku menenangkan.


Benar saja, setelah aku berkata demikian, pintu utama terbuka pelan dan aku dapat melihat kakakku itu menjulurkan kepalanya ke dalam. Gadis yang lebih tua tiga tahun dariku itu nyengir begitu melihat Mama sudah berdiri menatapnya tajam.


"Saya tanya, kamu jawab," kata Mama. Kalau sudah pakai saya-sayaan seperti ini, artinya Mama sedang marah.


"Siap Nyonya," jawab Kak Alma.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat reaksinya yang dibilang berani tidak juga, dibilang takut tidak juga.


"Sekarang jam berapa?"


"...sembilan-empat tujuh."


"Pantes gak perempuan pulang jam segitu?"

__ADS_1


"Temen Alma pulang jam sebelas santai aja."


Mama memukul meja membuatku terperanjat. "Saya tanya kamu."


"Iya. Iya. Gak pantes."


Mama bersedekap dada. "Dua hari yang lalu kamu pulang jam sembilan-dua tujuh. Besoknya jam sembilan-empat puluh. Sekarang hampir jam 10. Kamu mau jadi cewek apa?"


Kak Alma mengerucutkan bibirnya tapi tidak berani menatap Mama.


"Ada pembelaan?"


Kak Alma mengangkat kepalanya menunggu saat-saat ini tiba. Mama juga tidak pernah menghukum tanpa mendengar penjelasan dari orang yang bersangkutan. Jika terdengar masuk akal, dia akan mempertimbangkannya atau malah memaafkannya dengan mudah. Dan begitu sebaliknya.


"Rena tadi ulang tahun. Temen-temen mau kasih kejutan besok. Tapi keburu ketauan, ya udah langsung aja. Ini tuh udah syukur cepet Ma. Biasanya kan ulang tahun itu tepat jam dua belas malam."


Mama menatapnya dengan dahi berkerut. Kak Alma sendiri mengedip-ngedipkan matanya berharap Mama percaya.


Mama menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jujur kamu darimana?"


"Iih beneran." Kak Alma mengerucutkan bibirnya. "Mama juga lebay. Kan gak malam banget."


Mama melotot. "Ini udah hampir jam sepuluh!"


"Belum jam sepuluh."


"Tapi mepet!"


Aku menguap. Melihat pertengkaran dua orang yang kusayangi ini malah membuatku semakin mengantuk. Tapi pertengkaran seperti ini tidak akan memecah keluargaku. Itu yang aku yakini sedari dulu. Paling besok mereka kembali berlovey-dovey layaknya ibu dan anak yang mesra.


"Perasaan dari dulu gak ada deh yang ngajarin kamu kayak gini. Nurun dari siapa sih?"


"Kalau bukan dari Papa pasti dari Mama. Siapa lagi coba?"


Hoaaamm~


◻◻◻

__ADS_1


__ADS_2