
"Jangan warna pink. Norak."
Kak Alma berdecak lalu menscroll lagi ke bawah untuk mencari produk lain.
Saat ini kak Alma sedang berada di kamarku. Meminta saran tentang baju yang cocok untuk ia beli. Ia meminta saranku, berarti terserah aku mengatakan semua barang yang ia pilih jelek.
"Polkadot ini lucu deh," kata Kak Alma melihat sebuah baju kaos polkadot coklat.
"Jangan. Alay," jawabku.
Kak Alma menatapku sebal. "Kayaknya salah gue minta saran lo. Semua lo bilang jeleklah, noraklah, alaylah. Ah!"
Aku mengedip dan menggaruk leherku. "Sorry to say ya, tapi harus gue bilang pilihan lo gak ada yang bagus."
Kak Alma mendelik. Sebelum dia bicara, aku melanjutkan perkataanku. "Kak lo udah gede. Udah dewasa. Jangan kayak anak kecil lagi. Berubah dong."
Kak Alma menyipitkan matanya. Aku melirik ponselnya dan merampas benda itu lalu menghempaskan tubuhku menelungkup di sampingnya. "Gue pilihin. Oke."
"Kok lo sok dewasa gini sih dari gue. Inget yang duluan lahir itu gue," kata Kak Alma saat aku sedang sibuk dengan ponselnya.
"Iya kakak cantik," jawabku mengalah tanpa menoleh. "Nih, yang ini bagus," kataku menunjukan layar ponsel yang menampilkan gambar yang aku pilih. "Nanti pakai skinny jeans. Gue jamin cocok."
Kak Alma mengambil ponsel itu dan mengamatinya. Kemudian ponselku yang berada di atas nakas berdering. Aku merangkak ke ujung kasur dan mengambil benda itu.
Tante Sabrina is Calling
What the-
◻◻◻
Aku berbaring telungkup sambil memperhatikan layar ponselku. Sesekali aku melirik jam dinding yang sekarang sudah menunjukan pukul 21.45. Aku menghela napas.
Aku pembohong. Aku sudah bilang untuk tidak peduli lagi. Nyatanya aku masih khawatir saat tante Sabrina menelpon menanyakan Rael. Artinya cowok itu belum pulang sedari tadi.
Ini pertama kalinya. Dia seorang laki-laki, mungkin aku tidak perlu merasa gelisah. Tapi sampai tidak mengabari rumah bahkan orang tua itu sangat patut dipertanyakan.
Kemana kiranya cowok itu pergi?
Aku menekan icon telepon untuk kesekian kalinya dan membiarkan nada panggilan berdering nyaring tanpa menempelkannya pada telinga.
Tidak aktif lagi. Aku menelpon sekali lagi dan memejamkan mata. Sejujurnya aku mengantuk, tapi saat ponselku bergetar saat melakukan panggilan membuatku terlonjak.
Ponselnya aktif.
Aku buru-buru duduk dan menggigit bibirku saat panggilan sudah tersambung.
"...Lo dimana?" tanyaku pelan.
Aku tidak mendengar jawaban. Hanya suara angin dan samar-samar suara orang mengobrol.
"...habis latihan."
Aku menghela napas. "Bisa gak ngabarin kalau pergi lama? Tante Bina nyariin tau gak?" aku meninggikan suaraku.
"Iya. Tadi lowbat. Ini baru dicas."
__ADS_1
Aku lagi-lagi menghela napas. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Suasana sedikit canggung mengingat kami dalam keadaan tak baik.
"Lu..."
Rael memanggil. Aku berdehem menyahutinya.
"Gue mau tanding besok. Lo-dateng kan?"
Aku terdiam sebentar. "Gak tau."
Samar-samar aku mendengar Rael mendesah.
"Sebenarnya gue gak paham kita lagi ada masalah apa."
Aku mendengus.
"Gue minta maaf kalau gue salah. Aloona tolong jangan diemin gue kayak gini. Jangan ngehindar dari gue."
Aku menunduk. Tidak bisa menahan perasaanku sendiri. "Buruan pulang. Bentar lagi hujan," kataku melembut.
Aku tidak mau melanjutkan lebih lama lagi. Semakin lama aku mendengarnya, semakin aku takut untuk luluh lagi. Rael itu cowok berbahaya. Dia tau bagaimana caranya menggoda dan merayu. Dan aku lebih khawatir dengan diriku sendiri yang gampang tergoda dengan bualannya.
◻◻◻
Aku tertidur hingga siang hari. Semalam aku mengalami insomnia ringan. Mataku terasa lengket dan kasur entah kenapa menjadi sangat nyaman daripada biasanya.
Kak Alma sudah menghilang dari rumah. Aku tebak pergi dengan pacar satu harinya. Kuberitahu satu hal, kak Alma itu adalah seorang play girl. Jumlah mantannya tak terhitung.
Aku menggedikkan bahu lalu meneguk air putih sambil melihat Mama yang sedang mengurus bunganya di halaman samping. Terlihat dari kaca pembatas yang sengaja Mama buat di dinding rumah bagian samping agar bunga-bunga terlihat dari dalam. Lalu Papa yang sedang duduk di teras belakang Mama dengan secangkir kopi.
Bel depan berbunyi. Aku meletakkan gelas dan buru-buru menuju pintu. Kemudian seorang cowok tinggi memenuhi pandanganku. Dengan kaos hitam dan celana training sewarna. Ada tas model sport tergantung di bahu kanannya.
Aku menggigit bibirku lalu menatap ke dalam, tepatnya jam dinding di belakangku. Aku menoleh lagi pada Rael. "Bukannya lo mau tanding?" tanyaku pelan.
Dia menatapku lama alih-alih menjawab. Rautnya datar membuatku risih.
"Bilang apa salah gue."
Aku terkesiap saat dia tiba-tiba berkata demikian. Alisnya bertautan dengan tatapan frustasi. Aku membuka mulutku hendak berkata, namun sialnya tidak ada satu pun kata yang terucap.
"Kalau gue ada salah, bilang. Gue gak akan tau salah gue dimana kalau lo diam aja."
Aku membuang pandanganku ke samping. Aku mulai berpikir kata-kata yang cocok untuk aku katakan. Karena jujur saja, Rael dengan tatapan frustasinya itu membuatku kehilangan ide untuk berargumen.
"...daripada ke sini, mending lo ke gor sekarang. Jangan buang waktu kayak gini," kataku mengalihkan.
Alisnya bertaut. Bibirnya berkedut dan aku yakin dia memendam kekesalannya saat ini. Aku bungkam sambil menunggunya mengatakan sesuatu karena keheningan ini rasanya hendak membunuhku.
Butuh detik yang lama hingga dia buka mulut lagi. "Dari dulu..."
Aku meliriknya saat dia berkata. Tapi Rael malah berhenti. Aku bingung sendiri dan menatapnya dengan tatapan menuntut.
Rael menghela napas. "Dari dulu perasaan gue gak pernah berubah."
Aku menaikkan alisku.
__ADS_1
"Gak pernah, bahkan saat gue pacaran sama Malika."
Wait. What?
"Aloona, satu hal yang harus lo tau." tatapan Rael berubah dalam sekejap. "Yang jadi pelarian gue itu bukan lo...tapi Malika."
"...?"
"Dan yang ngebuat gue peduli sama dia karena di cewek baik. Dia tau gue cuma jadiin dia pelarian dan dia fine-fine aja. Dia gak marah saat gue mutusin dia. Dia juga tau kalau gue gamon dari lo."
"..."
"Dia gak pernah nuntut apa-apa karena dia cuma pelarian. Dia tau diri bahkan nunggu gue yang mutusin. Karena itu gue peduli sama Malika. Bukan karena gue suka. Dia temen gue. Itu aja."
Aku diam tanpa kata sementara sesuatu bergejolak dalam diriku.
Apa ini kebohongan yang lain?
Sudut bibirku berkedut membawa sebuah dengusan samar. "Malika...sempurna 'kan?" aku sarkas.
Bibirnya juga berkedut mendengar ucapanku dan menular ke alisnya.
"Oke." Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Aku menatapnya tajam.
"Sekarang gue tanya, kalau perasaan lo gak pernah berubah,...kenapa dulu lo putusin?"
Ini adalah kenapa aku selalu penasaran dengan alasan kenapa dulu ia memutuskan hubungan. Terang saja karena ia datang hanya untuk mengatakan putus.
There's no reason, he said.
Lalu tiba-tiba dia mengatakan perasaannya tidak pernah berubah. Sebelumnya dia juga mengatakan bahwa putus hubungan denganku adalah hal yang paling ia sesali. Lalu, Malika dan segala kemuliaan hatinya.
Heh.
Please, kebohongan macam apa lagi ini?
Jujur saja, aku masih merasakan sakit itu.
Jika hubungan kali ini tidak dapat bertahan, aku berjanji, akulah yang akan mengakhiri semuanya sendiri.
Namun Rael terlalu menghabiskan banyak waktu hanya untuk menjawab satu pertanyaanku itu. Ponselnya berdering dan cowok itu mengambilnya, tanpa menjawab penggilan.
Aku urungkan lagi semua gejolak emosi dalam diriku. Aku memejamkan mata sebentar dan membuang napas panjang. "Kenapa gak diangkat?" tanyaku.
Rael menatapku dengan ponsel yang ia biarkan berdering di tangannya. Nampaknya dia tidak punya kata-kata lagi untuk menjawabku.
Wajahnya kuyu. Seolah ia memiliki pilihan yang berat dan ia tidak bisa memilih. Setengah bimbang dengan jutaan emosi dalam rautnya.
Aku menoleh lagi ke belakang untuk melihat jam dinding. Astaga, cowok ini sudah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit di sini.
Aku menggigit bibirku. Aku tahu dia sangat mencintai futsal dan segala yang berhubungan dengannya. Bagaimana cowok ini mencoba menunjukkan pengorbanannya dengan wajah tak ikhlas itu membuatku geram.
Huft~ I can't.
◻◻◻
__ADS_1